
Tiga orang berbeda usia dan Gender itu masih tak menyangka Celia langsung pergi begitu saja. Seperti ada sesuatu yang tengah dipendam dan dipikirkan oleh gadis itu namun tak sedikit pun dari orang-orang itu tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Fabian dan Renata hanya bisa menatap Collin tajam. Tak ubahnya penyidik yang menginterogasi tersangka yang tengah melakukan kesalahan karena telah melukai hati sang gadis tanpa ada penyebab yang pasti.
Collin merasa saat ini tenggorokannya mendadak kering saat melihat tatapan calon mertuanya yang sangat tajam dan siap menerkam dirinya yang tak tahu apa-apa.
“Katakan. Apa yang telah kamu perbuat pada Celia sampai dia seperti itu?” selidik Fabian kepada Collin.
Collin menelan ludahnya kasar saat Fabian kembali mengubah raut wajahnya kembali ke mode tak bersahabat seperti sebelum-sebelumnya.
“Saya juga tak tahu Om. Saya ke sini saja karena khawatir dengan Celia yang tak kunjung membalas pesan sudah lebih dari seminggu. Dia hanya membacanya namun enggan membalas,” ucap Collin mencoba menjelaskan.
Pria itu benar-benar tak memiliki petunjuk tentang apa yang terjadi pada gadis yang selama ini dia perjuangkan untuk hidup bersama. Collin pun penasaran dengan apa yang membuat Celia saat ini sedih dan cenderung menutup diri. Dia seperti kehilangan Celia yang ceria, Celia yang penuh dengan aura positif dan selalu tersenyum saat bertemu dengannya.
“Bolehkah saya menemui Celia?” pinta Collin meminta izin pada Fabian.
Untuk sesaat pria yang usianya tak lagi muda itu menatap ragu ke arah Collin. Namun, gerakan tangan Renata di lengan pemuda itu seolah memberikan isyarat agar meloloskan izin dari pemuda itu.
Fabian mengembuskan napas kasar diikuti anggukan kepala, memberi izin pada Collin untuk menemui dan berbicara dengan Celia.
Collin beranjak menuju kamar Celia yng ada di lantai dua. Kamar yang sudah dia kenal isinya, seperti halnya pemilik kamar itu. Ruangan yang pernah menjadi saksi perjuangannya dalam mempertahankan Celia, menghibur gadis itu saat dalam keadaan putus asa.
Pintu terketuk dari luar. Seorang pria berdiri di balik pintu yang masih tertutup itu. Bagaimana pun juga seorang tamu harus tetap meminta izin untuk memasuki rumah orang lain, meski dia sudah pasti diterima kedatangannya oleh sang pemilik rumah. Collin menghormatinya sebagai wanita dan sebagai seseorang yang ia jaga karena rasa cintanya yang begitu besar pada gadis itu
Celia yang saat ini menenggelamkan wajahnya di bawah bantal yang ada di atas ranjang empuk miliknya, bangkit dan mengusap jejak air mata yang membasahi pipinya. Dia mengira itu adalah ibunya, sehingga Celia bangkit dan membuka pintu kamarnya dengan sedikit malas.
Gadis itu sedikit terperanjat saat mendapati Collin yang saat ini berdiri dan berhadapan dengannya. Untuk sesaat tatapan mereka saling mengunci satu sama lain, enggan berpaling ke arah lain. Sebuah kerinduan yag sangat besar mereka tahan habis-habisan. Namun, masih tampak dari sorot mata kedua pasangan muda itu
__ADS_1
“Mau apa?” lirih Celia.
Collin menundukkan kepalanya sesaat. Tak ada lagi sapaan hangat dan raut wajah ceria menyambut kehadirannya seperti sebelumnya. Celia benar-benar berubah. Seperti orang lain meski berada dalam tubuh yng sama.
“Boleh aku masuk?” tanya Collin seraya tersenyum. Berharap Celia juga akan membalas dengan senyuman yang sangat dirindukan Collin.
Celia tampak ragu. Sesekali dia melihat ke luar kamar, takut kalau Daddy-nya tiba-tiba menghampiri mereka.
“Aku sudah izin pada orangtuamu,” ujar collin seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya itu.
Celia membuka pintunya sedikit lebih lebar.
Celia melangkahkan kakinya dan duduk di tepi ranjang miliknya. Collin yang tadi berada di luar ruangan kini sudah memasuki ruangan pribadi pria itu. Dia berdiri tak jauh dari tempat Celia. Menatap Celia yang terduduk dengan pandangan kosong.
“Kamu kenapa?” tanya Collin lembut.
Celia sendiri merasa bingung dengan dirinya yang lebih tertutup. Ada sebuah perasaan yang jauh lebih buruk dari kehilangan rasa percaya diri yang menghinggapi hati gadis itu.
“aku tidak apa-apa,” sahut Celia datar.
“Tidak mungkin. Aku yakin kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Katakanlah apa yang harus lakukan agar membuatmu merasa lebih baik,” ujar Collin yang kini sudah berlutut di hadapan Celia.
“Tidak ada. Bangunlah. Jangan seperti itu. Aku merasa tak pantas kau perlakukan istimewa seperti itu,” ujar Celia seraya menggelengkan kepalanya.
“Aku datang ke sini membawa lamaran untukmu. Apa kamu tak ingin lagi menikah denganku?” tanya Collin menebak isi hati Celia.
Gadis itu menundukkan wajahnya. Dia tak berani menjawab. Bulir bening diam-diam meluncur bebas melewati pipi mulusnya. Samar Collin melihat kekasihnya menggeleng lemah.
__ADS_1
“Apa kamu tak mencintaiku lagi?” tanya Collin.
Mendengar pertanyaan pria itu, Celia semakin terisak mendengarnya. Hatinya terasa perih saat Collin mengira dirinya sudah tak mencintai pemuda itu lagi.
Bukan...
Dia bukan tak mencintai Collin. Justru karena dia terlalu cinta pada Collin sehingga membuatnya tak percaya pada dirinya sendiri. Celia merasa bahwa dirinya adalah wanita kotor sejak kejadian itu. Dia merasa jijik pada dirinya sendiri yang tubuhnya telah disentuh oleh pria lain selain suaminya kelak. Dia merasa tak pantas untuk siapa pun.
“Hei. Kamu kenapa?” Collin kini bangkit dan duduk di tepi ranjang di samping Celia.
Celia menghambur ke dalam pelukan Collin. Pria itu hanya mampu mengusap punggung kekasihnya yang bergetar karena tangis. Tangis gadis itu sungguh menyayat hati. Seperti ada sebuah luka yang sangat dalam yang membuat hatinya perih.
Celia tak tahu harus menceritakan semuanya kepada siapa. Gadis itu tak berani mengatakan pada orang lain dan hanya memendamnya sendiri hingga pada akhirnya ia merasa tak sanggup menahannya lagi.
Pria itu membiarkan wanita yang kini dalam dekapannya menumpahkan seluruh perasaannya dalam tangis yang telah lama ia tahan. Sesekali ia menepuk pelan punggung wanitanya. Seolah menyalurkan ketenangan dan rasa aman bagi Celia.
“Menangislah sepuasmu. Baru setelah itu katakan padaku ada apa ... apa yang sebenarnya terjadi?” ujar Collin yang masih mengusap punggung Celia yang masih belum menghentikan tangisnya.
“Aku tak ingin memaksamu. Tapi apa pun yang ingin kamu ceritakan, aku akan mendengarnya. Tak usah memaksakan diri,” ujar Collin.
Celia mengurai pelukannya dengan Collin. Gadis itu masih sedikit terisak sambil sesekali menyeka sudut matanya yang masih mengeluarkan butiran bening yang keluar dengan sendirinya.
“menikahlah dengan wanita lain, Collin.”
Pernyataan Celia membuat Collin tercekat. “Jangan Bercanda Celia! Kamu tahu kalau aku hanya mencintamu,” ujar Collin yang mulai terbawa emosi.
“Menikahlah dengan orang lain, Collin,” ulang gadis itu.
__ADS_1