Celia

Celia
Tanda


__ADS_3

happy reading ♥️


Bab 31


Collin akhirnya mendapatkan sebuah kamar kost tak jauh dari bandara. Kamar kost yang disewakan khusus untuk laki-laki berukuran 3 x 4 meter itu cukup nyaman dan tergolong luas bagi pria itu.


Hunian sederhana yang tergolong sangat murah dengan fasilitas memadai. Sepertinya hanya karena letaknya yang kurang strategis, sehingga membuat tempat itu sedikit sepi.


Collin mengistirahatkan tubuhnya yang masih terasa pegal akibat kejadian tak terduga saat pagi. Dia berencana akan keluar dari kamar sewa itu nanti saat jam makan siang tiba karena saat ini dia ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah dan hampir kehabisan tenaga.


***


Sementara itu, Fabian kini berusaha menghubungi rekan kerjanya yang memiliki seorang anak laki-laki. Tak hanya satu orang, pria itu menghubungi beberapa rekan kerjanya sekaligus mengajukan lamaran untuk putrinya.


Penolakan demi penolakan diterima oleh Fabian atas lamaran yang dia ajukan untuk putrinya. Kebanyakan dari mereka merasa tak sepadan dengan Celia dan tak hanya itu, anak-anak dari rekan bisnisnya ternyata telah memiliki calon pendamping.


Fabian tak berani mengambil risiko dengan menawarkan anak perempuannya yang entah saat ini masih gadis atau tidak.


“Aku merasa harga diriku sangat rendah dengan menawarkan putri kesayanganku kepada orang-orang,” ujar pria itu frustrasi.


Renata masih dengan setia mendampingi suaminya yang saat ini sudah dipastikan sangat kecewa. Wanita itu pun tak menduga kalau akibat ulah putrinya akan menjadi seperti ini.


“Apa memang lebih baik kita menikahkan Collin dengan Celia?” lirih wanita itu kepada suaminya.


“Pemuda itu akan menjadi pilihan terakhir untuk menikahkan Celia. Aku yakin masih ada orang yang akan menerima Celia,” ucap Fabian menatap tajam Renata.


Tatapan pria itu saat ini berbeda dari biasanya. Seolah ada rasa tak suka yang tersirat dari sorot mata pria itu. Entah hanya perasaan Renata saja atau memang seperti itu keadaannya.


“Sudahlah. Jangan terlalu memikirkan pemuda yang akan dinikahkan dengan Celia. Memangnya kenapa kalau Celia tak menikah?!”


Fabian menatap istrinya yang tiba-tiba seperti tengah menyuarakan keberatan atas sikapnya kepada Celia. Pria itu kemudian menunduk dan mengembuskan napas berat usai mendapat respons istrinya yang tak kalah kecewa seperti dirinya.


Pria yang tak lagi muda itu menggenggam kedua tangan istrinya. Ditatapnya mata indah Renata yang masih tetap cantik di usia yang tak jauh berbeda dengannya itu.


“Maafkan aku. Aku lupa dan terlalu khawatir dengan Celia. Aku takut ... Kalau Celia akan terus kabur dari rumah dan memilih Collin.”


“Kenapa kamu sangat keberatan dengan Collin?” tanya Renata yang ingin tahu.


Pria itu menundukkan kepalanya dengan tangan yang menggenggam istrinya semakin erat.


“Apa karena Jamie?” tanya Renata lagi.


***

__ADS_1


Sementara itu, Celia tampak melamun di kamarnya. Tak ada ponsel, laptop atau alat elektronik lain yang bisa dia gunakan untuk berkomunikasi. Gadis itu memikirkan Collin yang entah bagaimana kabarnya saat ini.


Dia khawatir dengan kekasihnya yang pagi tadi diberi hadiah bogeman mentah oleh sang adik di depan mata kepalanya sendiri. Bahkan, Celia melihat bagaimana keluarganya itu tak memberi kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Celia pun saat ini tak bisa berbuat apa-apa. Dia sendiri merasa tak pantas untuk orang lain. Dia tak tahu apa yang dia lakukan bersama dengan Collin malam itu.


“Bukankah kata orang kalau sudah melakukannya untuk pertama kali, akan merasa sakit? Kenapa aku tidak?”


“Apa itu berarti kami tak melakukan hal itu?”


“Tapi bagaimana mungkin aku bisa membuktikannya dan meyakinkan Daddy bahwa kami tak melakukan apa pun?”


Celia berbicara pada dirinya sendiri. Gadis itu rasanya kesal karena semakin hari dia merasa Daddy-nya tak lagi mempercayainya.


“Terkadang aku mulai mempertanyakan sayangnya Daddy padaku,” gumam gadis itu seraya menunduk.


Terdengar ketukan pintu dari luar kamarnya. Celia melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Waktunya untuk makan siang.


Dia merindukan makan siang bersama dengan keluarganya. Namun, hal itu pasti akan sulit terjadi mengingat kecerobohan yang telah ia lakukan.


Pintu kayu yang menutup kamar gadis itu terbuka. Sesosok wanita cantik dengan hidung mancung memasuki kamarnya, membawakan nampan yang berisi makanan untuk makan siang gadis itu.


Wanita itu tersenyum saat mendapati putrinya menatap dirinya yang membuka pintu.


“Tidak boleh!” ujar Celia pura-pura merajuk.


“Meski tak boleh, Mommy akan tetap masuk,” kekeh wanita itu.


Celia pun tertawa, melihat usaha sang Mommy yang ingin menghiburnya. Gadis itu kemudian berjalan ke arah wanita yang melahirkannya itu.


Keduanya kemudian berjalan menuju meja kecil yang ada di hadapan sofa mini di ruangan gadis itu.


“Mommy membuatkan menu makan siang kesukaanmu,” ujar Renata seraya tersenyum.


“Apa Aksa sudah pulang, Mom?” tanya Celia.


Renata mengangguk. “Sudah. Kenapa?"


“Aku hanya ingin tahu kabar Collin dan apa saja yang dia lakukan pada Collin,” lirih Celia seraya menunduk.


“Aksa sudah pulang. Setelah ayahmu datang, adikmu pun pulang.”


“Syukurlah,” ujar Celia yang berpikir bahwa Aksa tak menyakiti Collin terlalu parah.

__ADS_1


“Kau sangat mengkhawatirkannya?” tanya Renata pada anak gadisnya.


Celia menganggukkan kepalanya. Dia tak menyangkal perasaannya yang sangat khawatir dengan pemuda yang menjadi topik pembicaraan. Bagaimanapun Collin dan Celia pernah melewati masa kecil bersama dan kini bahkan saling mencinta.


“Mom, bolehkah Celia bertanya?” tanya gadis itu.


Renata menautkan alisnya. Melihat ekspresi sang putri yang tampak bersungguh-sungguh ingin bertanya, membuat wanita itu mengangguk pada akhirnya.


“Tanyakanlah...."


“Aku menanyakan ini hanya karena Mommy yang tahu bagaimana rasanya.”


“Tunggu! Kamu ingin menanyakan tentang apa?” selidik Renata.


“Sesuatu yang sedikit pribadi, Mom.”


Renata mengangguk kembali.


“Dulu ... Saat Mommy melakukannya pertama kali dengan Daddy, apakah itu sakit?” tanya Celia.


Pertanyaan gadis itu membuat wajah Renata memerah karena malu. Pertanyaan putrinya membuat Renata kembali ingat malam itu. Apalagi mereka masih mengulang hal yang sama setelah kejadian itu hingga membuat Celia dan Aksa hadir.


“Itu hanya sakit sebentar dan akan hilang karena rasa lain yang luar biasa,” jawab Renata malu-malu.


“Lalu, setelah melakukannya, apakah di bagian sana akan terasa nyeri saat Mommy bangun?”


Sekali lagi Renata menganggukkan kepalanya. Beberapa detik kemudian Renata menatap anak gadisnya. Pertanyaan Celia seolah mengisyaratkan sesuatu. Ada hal yang perlu dia pastikan. Dan ternyata putrinya yang ternyata lebih dahulu menanyakannya.


“Jadi, apakah kamu merasakan sakit di bagian sana?” tanya Renata tak mengalihkan pandangan pada anak gadisnya.


Celia menggelengkan kepalanya. Gadis itu kemudian mengatakan kalau dia tak merasakan nyeri sakit atau perasaan yang berbeda dengan dirinya setelah menginap di apartemen Collin.


“Bagaimana kalau kita ke rumah sakit? Bukankah itu bisa menjadi bukti agar Daddy-mu tak lagi khawatir?” usul Renata.


“Tidak, Mom. Aku takut dan malu. Tapi aku yakin kalau kami tak melakukannya karena tak sedikit pun merasakan sakit.”


“Kita harus membuktikannya dengan pemeriksaan medis, Celia. Agar Daddy-mu berhenti mencarikan calon suami untukmu!


“Apa?!” tanya Celia dengan membulatkan mata dan mulutnya.


to be continued ♥️


Thanks for reading ♥️

__ADS_1


__ADS_2