Celia

Celia
Yang Kemudian Terjadi


__ADS_3

Happy reading ♥️


“Kita tak bisa terus begini, Celia,” ucap Collin yang kemudian bangkit dari atas tubuh kekasihnya.


Celia masih menahan Collin. Bahkan dengan beraninya gadis itu memutar tubuhnya, membuat Collin saat ini ada di bawahnya dan gadis itu berniat mengambil alih kendali.


“Nikmati saja, Sayang. Kamu hanya perlu menikmati, biarkan aku melakukannya,” ucap Celia.


“Tidak Celia. Jangan gila!” Hardik pria itu.


“Kalau kamu mencintaiku, kamu seharusnya menuruti permintaanku, Collin!” Celia mulai terisak. Gadis itu menangis karena penolakan Collin akan permintaannya melakukan hubungan itu sebelum pernikahan.


“Apa kamu rela kalau orang lain merenggut semuanya dariku, Collin? Aku tak mau! Aku tak rela jika orang lain. Biarkan aku memberikannya padamu,” ucap gadis itu sesenggukan. Sungguh Celia tak ingin disentuh pria manapun selain Collin yang sangat ia cintai. Dirinya tak akan pernah menyesal untuk menyerahkan diri pada kekasihnya itu, setidaknya ia akan menjadi milik Collin seutuhnya walaupun itu semu.


Collin meraih tubuh Celia, mendekap gadis itu erat. Mendengar perkataan kekasihnya sungguh membuat hati Collin sedih. Rasanya sangat perih, namun sulit untuk diobati.


“Aku takut, Collin. Aku tak ingin dengan orang lain selain kamu!” imbuh gadis itu dalam dekapan pemuda itu.


“Dengarkan aku, Celia. Aku berjanji akan mendapatkan jalan keluar agas hubungan kita. Kamu jangan khawatir. Kamu percaya padaku bukan? akan aku lakukan apapun untuk bisa bersamamu.. percayalah....” ucap Collin terdengar begitu lirih.


Celia menganggukkan kepalanya meski pria itu masih mendekap tubuhnya.


“Aku tak ingin membuatmu kehilangan sesuatu yang berharga pada dirimu dengan cara tak baik Celia. Aku ingin mendapatkan semuanya dengan cara baik. Aku tak ingin merusakmu meski saat ini keadaan kita tak memungkinkan. Tapi percayalah ... Kita pasti akan mendapatkan jalan keluarnya," ucapnya lagi. Bukankah kita akan sangat menjaga sesuatu yang sangat kita cintai dengan sekuat tenaga ? Collin sangat mencintai Celia, ia tak ingin merusak gadis yang dipujanya itu.


Gadis itu masih membenamkan wajahnya pada dada Collin. Dekapan hangat pria itu membuat Celia merasa nyaman dan tenang. Rasa khawatir dan takut yang selama ini bergelayut dalam dirinya perlahan menguar seiring dengan rasa kantuk yang mendera.


"Sebaiknya kita berpindah ke sofa," ucap Collin. walaupun dirinya sudah bertekad untuk tak menyentuh Celia tapi Collin adalah seorang laki-laki dewasa normal yang bisa saja tak bisa menahan diri.


"Ayo tidur... akan aku peluk kamu semalaman," bujuk Collin dan apa yang ia ucapkan bagai mantra bagi Celia. Gadis cantik yang sedang dimabuk cinta itu menuruti kata-kata kekasihnya



Celia memejamkan kedua matanya. Dengkuran halus mulai terdengar, isak tangis gadis itu pun memudar. Perlahan gadis itu masuk ke alam mimpi dengan mudahnya.


Collin pun tetap mendekap kekasihnya, menatapi wajah cantik sang kekasih dengan lekat-lekat. "Aku sangat mencintaimu, Celia. Akan aku lakukan apapun untuk membuatmu bahagia walaupun harus bertaruh nyawa," ucapnya pelan seraya mencium dahi kekasihnya itu dengan lembut dan penuh perasaan.


Collin semakin eratkan pelukannya, menikmati setiap detik kebersamaan mereka. Udara malam mulai terasa dingin tapi cinta diantara keduanya semakin terasa hangat dan tumbuh lebih besar lagi.

__ADS_1


Coliin dan Celia berpelukan erat dan memasuki alam mimpi tentang cinta mereka yang bersatu penuh rasa bahagia.


***


Sayup-sayup suara kicau burung terdengar di luar jendela Celia. Sinar menyilaukan dari luar jendela menyusup masuk ke dalam ruangan hingga mengenai wajah cantik gadis itu.


Saat menggerakkan tubuhnya, Celia merasa ada sesuatu yang berat menimpa perutnya. Gadis itu melihat ke arah tubuhnya di mana ada sebuah tangan besar melingkar dengan begitu erat, mendekapnya menyalurkan rasa hangat di pagi hari yang sangat cerah.


Gadis itu membalikkan tubuhnya yang sebelumnya membelakangi seorang pria yang tampak tertidur begitu tenang. Samar terlihat bekas biru di beberapa bagian wajah pria itu yang semakin memudar. Perlahan tangan dari gadis yang mulai beranjak dewasa itu mendekat ke wajah pemuda yang kini seranjang dengannya. Perlahan gadis itu membelai rahang dokter muda yang tadi malam menyusup ke kamarnya.


“Aku kira tadi malam hanya mimpi,” lirih gadis itu.


“Ternyata kamu nyata. Tidak bisakah kita seperti ini saja selamanya, Collin?” gumam gadis itu.


Melihat adanya pergerakan dari pemuda yang tertidur di hadapannya itu membuat Celia kembali memejamkan kedua matanya, pura-pura tertidur.


“Aku tahu kamu sudah bangun. Selamat pagi, Princess,” sapa Collin diikuti sebuah kecupan ringan di kening gadis itu.


Celia tersenyum dengan kedua mata yang masih terpejam. Perlahan gadis itu membuka matanya, semakin mengeratkan pelukannya pada pemuda yang berbagi selimut dengannya.


Gadis itu tak menyadari kalau saat ini Collin tengah berusaha mati-matian menahan diri agar tak menyerang Celia di pagi hari pertama bersama dalam sebuah ruangan.


“Tidak apa-apa. Hanya saja, Celia ... Tak bisakah kamu sedikit melonggarkan pelukanmu?”


Mendengar penolakan dari Collin membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya. Seharusnya pagi hari ini menjadi pagi yang indah. Namun, berubah menjadi sangat mengesalkan bagi Celia.


Sementara saat Celia mengurai pelukannya, Collin bergegas bangun. Pria itu bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, menetralkan dirinya sebagai pria normal yang juga bisa terpancing oleh godaan pagi hari. Terlebih saat pagi hari adalah waktu di mana seorang pria memiliki keinginan paling tinggi.


“Menyebalkan!” gerutu gadis itu.


Setelah sekitar tiga puluh menit kemudian, pemuda itu keluar dari kamar mandi. Sepertinya Collin baru selesai mandi. Bulir air dari rambut kepalanya masih tampak menetes membasahi handuk putih milik Celia.


“Maaf aku menggunakan handukmu tanpa permisi,” ucap pria itu merasa bersalah.


“Itu bukan masalah besar!” ketus gadis itu.


Collin mendekat ke arah Celia yang saat ini mengalihkan wajah darinya dengan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

__ADS_1


“Lalu kenapa kamu cemberut seperti itu?” ucap Collin.


Tangan dingin pria itu menyentuh pipi mulus Celia, menimbulkan desiran halus yang baru pertama kali gadis itu rasakan.


“Maaf,” ucap pria itu lagi menyadari kesalahannya


Dia sendiri merasa bingung bagaimana menjelaskan apa yang membuatnya harus menjaga jarak dengan Celia tadi. Tak mungkin dia menjelaskan begitu saja karena mereka bukanlah pasangan suami istri. Tak pantas baginya mengatakan hal itu meski pemuda itu merupakan seorang dokter di luar negeri yang orang ketahui pergaulannya lebih bebas dibandingkan dengan Indonesia.


“Aku mau mandi dulu. Sebentar lagi aku akan turun mengambil sarapan. Kamu jangan ke mana-mana! Jangan menghilang lagi!” ucap Celia memperingatkan.


Pemuda itu mengangguk dan tersenyum. Membuat Celia semakin meleleh karena senyuman hangat di pagi hari.


***


Celia yang biasanya mandi paling cepat satu jam, kini sudah keluar dari bilik kamar mandi dalam waktu tiga puluh menit. Sangat singkat bagi seorang wanita yang biasanya masih melakukan perawatan ini itu.


Gadis itu keluar hanya dengan menggunakan jubah mandi miliknya dengan rambut yang dibalut handuk dan digelung ke bagian atas. Tetes air masih tampak membasahi leher gadis itu.


Sebuah godaan yang sangat besar bagi seorang Collin yang saat itu berada di kamar seorang gadis di pagi hari.


“Maaf aku lupa membawa pakaian gantiku,” ucap Celia dengan wajah yang dibuat se-imut mungkin, menggoda Collin yang tampak kesusahan menelan ludah.


“Collin Sayang ... Bolehkah aku minta tolong ambilkan pakaian ganti dan juga dalaman di lemari itu?” ucap Celia dengan nada manjanya.


Collin menautkan alisnya. Bukankah gadis itu sudah mengenakan jubah mandi dan bisa mengambil benda sakral itu dengan kedua tangannya sendiri?


“Sepertinya kamu memang lebih suka aku tak mengenakan apa-apa,” ujar Celia hendak menarik tali yang mengikat jubah mandi yang dipakainya.


“Jangan menggodaku, Celia,” ucap Collin mengalihkan wajahnya ke samping.


Pria itu hampir runtuh pertahanannya. Ingin rasanya pemuda itu menyerang gadis yang menggodanya habis-habisan di depannya. Collin melangkahkan kakinya ke arah lemari pakaian milik Celia sesuai permintaan. Saat membuka pintu lemari itu, Collin dibuat melongo dengan apa yang ada di baliknya.


Gadis itu benar-benar keterlaluan. Dia sengaja membuat Collin kehilangan kendali. Lemari yang ditunjuk gadis itu adalah lemari yang penuh dengan pakaian menggoda yang membuat pikiran pemuda itu berkeliaran ke mana-mana.


to be continued ♥️


mumpung Senin vote yuuu biar aku makin semangat upnya

__ADS_1


jangan lupa like komen dan hadiah juga yaaa


maaciw zheyeenk 😚♥️🥰


__ADS_2