Celia

Celia
Kabar Baik


__ADS_3

Happy reading ♥️


Bel rumah berbunyi beberapa kali. Seseorang memencetnya berulang karena tak kunjung ada sahutan dari dalam rumah berwarna putih yang besar itu. Tak mungkin kalau penghuninya tak ada di rumahnya, sementara mobil tampak terparkir dengan baik pertanda penghuninya sedang ada di dalam bangunan itu.


Setelah menunggu sedikit lama, terdengar suara pintu dibuka. Seseorang dari balik pintu tampak menyambut pria yang sedang bertamu.


“Celia mya ada, Mom?” Tanya pria itu.


“Ada. Ayo masuk.” Ajak Renata kepada keponakannya.


“Mommy mau memanggil Celia dulu. Kamu tunggu di ruang makan. Kami akan makan malam bersama, kamu ikut saja,” ucap Renata yang kemudian pergi meninggalkan Davin menuju ke kamar Celia dan Aksa, memanggil mereka untuk makan malam karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam.


Pria itu mengangguk. Saat memasuki rumah besar itu, Davin berpapasan dengan Aksa yang baru keluar dari kamarnya.


“Wah, ada Kak Davin,” sapa pemuda itu.


“Gimana kabarnya kamu?”


“Baik, Kak. Kalak mau ketemu Kak Celia?”


“Iya. Ada yang mau aku bicarakan.”


Aksa pun hanya menganggukkan kepalanya. Dia tak ingin terlibat terlalu jauh utusan orang dewasa. Cukup hari kemarin saja dia terlibat urusan dengan Collin yang berakhir lebam nyaris di sekujur tubuhnya.


Keduanya berbincang singkat di meja makan yang ada di rumah itu. Hingga akhirnya percakapan mereka terhenti karena Renata, Fabian dan Celia baru saja tiba dan duduk di kursi masing-masing.


Mereka pun memulai makan malam dalam suasana hening. Nyaris tak ada pembicaraan hingga akhirnya Fabian angkat suara.


“Davin, nanti tolong ke ruangan Daddy dulu. Ada yang perlu Daddy bicarakan usai makan malam,” ucap Fabian.


“Baik, Dad,” ucap pria itu.


Mereka pun melanjutkan makan malam mereka hingga makanan pun tandas.


Setelahnya, Davin mengekor Fabian ke ruang kerja pria itu yang ada di rumahnya. Sepupu dari Celia itu bertanya-tanya tentang apa yang akan dibicarakan oleh paman yang sudah dia anggap layaknya seorang ayah itu.


“Apa kamu sudah tahu kabar Celia menikah?” tanya Fabian.


“Iya, Dad.” Davin mengangguk.

__ADS_1


“Aku dengar kalau kamu juga berteman dengan Collin. Apa kamu tahu kalau Celia dan Collin sebelumnya menjalin hubungan?” tanya Fabian penuh selidik.


Davin tercekat. Pria itu bingung hendak menjawab apa. Pasalnya dia sendiri baru tahu dari Collin yang tak sengaja bertemu dengannya di siang hari tadi.


Pemuda itu akhirnya memilih untuk menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin Fabian berpikir yang tidak-tidak. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Collin benar. Fabian pun sebenarnya tak yakin akan menikahkan Celia dengan pria lain. Bahkan dengan Rian pun Fabian rasanya masih berat untuk melepaskan.


Fabian menghela napas panjang. Pria itu tampak putus asa. Dilema antara menuruti permintaan putrinya atau egonya yang tak ingin jauh dari anak dan istrinya.


“Ngomong-ngomong, kapan pernikahan Velia, Dad?” tanya pemuda itu.


“Rian berkata akan menikah dengan Celia bulan depan. Dan itu adalah permintaan Celia.”


Davin tak dapat berkata-kata lagi. Merasa percakapannya sudah usai pria itu izin pamit meninggalkan Fabian yang tengah berpikir sangat keras. Pemuda itu pamit hendak menemui Celia.


Suasana kamar terasa dingin karena hilang keceriaan dari sang pemilik kamar. Kamar berukuran 5x5 meter itu terasa sunyi karena Celia pun seolah enggan untuk kembali tersenyum seperti sebelumnya. Gadis itu tampak seperti sebuah robot karena merasa tak lagi memiliki semangat untuk hidup.


Suara ketukan pintu tak membuat gadis itu mengalihkan pandangannya menatap jendela yang masih dipasangi kayu dan teralis besi.


Karena tak kunjung ada jawaban dan pintu kayu di hadapannya tak kunjung dibuka, membuat Davin memutar kenop pintu dan membukanya perlahan. Pintu itu sengaja tak dikunci karena Celia sendiri seperti sudah tak berminat kabur lagi.


“Hei princess, are you okay?” tanya Davin yang berjalan mendekat ke arah sepupu perempuannya.


pria itu. Gadis itu menoleh sekilas lalu melanjutkan kegiatannya menatap jendela kamar yang tak kunjung terbuka.


“Aku akan meminta Daddy membukakan jemdela itu untukmu. Asalkan dengan satu syarat,” ucap Davin.


Mendengar penawaran sepupunya membuat Celia mengalihkan pandangannya kepada pria itu.


“apa itu?” lirih Celia nyaris tak terdengar.


“Jangan lari dari rumah lagi,” jawab Davin.


Celia mengembuskan napas kasar lalu menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan pria itu.


“Aku bertemu dengan Collin.” ucap Davin.


Tampak binar bahagia di mata gadis yang beberapa hari terakhir begitu putus asa. Gadis itu kembali bersemangat dan antusias mendengar kabar bahwa Davin bertemu dengan kekasihnya.


“Apa dia baik-baik saja?” tanya gadis itu antusias Celia tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Hingga panas dan buram ia rasakan di matanya.

__ADS_1


Davin mengangguk. Pria itu tampak bersungguh-sungguh saat mengatakannya.


Hal itu membuat Celia tanpa sadar meneteskan air mata yang sejak lama ia tahan.


“Jadi, Collin tak sedang disekap?” tanya Celia di sela isak tangisnya.


Davin menautkan alisnya. Mendengar perkataan Celia yang sedikit aneh membuat pria itu merasa sesuatu yang tak beres terjadi di sini. Sebuah kesalahpahaman tampak sedang terjadi dalam keluarga ini. Pria itu kemudian menceritakan bagaimana dia bertemu dengan kekasih Celia itu. Awalnya dia tak percaya kalau selama ini Collin dan sepupunya itu menjalin sebuah hubungan tersembunyi.


“Aku akan membawamu bertemu dengan Collin. Jadi bersabarlah,” ucap Davin setelah menceritakan pertemuannya dengan Collin.


Celia mengangguk. Gadis itu kemudian mengusap sisa air matanya yang masih melewati kedua pipi mulus gadis itu.


“Terima kasih karena tak menghakimi kami seperti yang lainnya,” ucap Celia saat Davin hendak pamit pergi.


“Aku berharap kebahagiaan kamu, Celia. Aku yakin Collin orang baik terlepas dari apa pun yang terjadi,” ungkap Davin.


“Bersabarlah. Semoga setelah ini kebahagiaan akan menghampirimu,” ucap Davin tulus.


“Terima kasih,” jawab Celia sungguh-sungguh.


Gadis itu kini mulai tersenyum kembali setelah mendengar sebuah harapan dari Davin.


Pria itu kemudian pamit pergi kepada keluarga Celia yang lain. Tujuan selanjutnya pria itu adalah menuju tempat kost Collin. Dia akan menyusun rencana dengan temannya itu demi Celia.


Davin melajukan kendaraan roda empatnya keluar dari pelataran rumah Fabian. Mobil pria itu melaju dengan kecepatan sedang hingga di menyadari kalau ada sebuah kendaraan lain yang mengikutinya ke mana pun dia melajukan kendaraan.


“Sepertinya kalian juga ingin bermain-main denganku,” kekeh Davin.


Pria itu kemudian melajukan mobilnya berputar mengelilingi jalanan kota di malam hari. Sampai akhirnya tiba di sebuah taman kota, Davin memarkirkan mobilnya. Pria itu berniat untuk membuat orang yang mengikutinya lengah dan tak bisa menemukan jejaknya di keramaian malam. Dia tak ingin orang itu mengetahui keberadaan Collin.


“Sepertinya memang suruhan Rian. Kita lihat, sampai mana kalian bisa menemukanku,” kekeh pria itu.


Sesuai dugaan, penguntit itu tak bisa menemukan keberadaan Davin. Mereka baru menyadari kalau Davin telah pergi saat tak mendapati mobil pria itu terparkir di tempat sebelumnya.


To be Continued ♥️


thanks for reading ♥️


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya

__ADS_1


maaciw zheyeenk 😚♥️


__ADS_2