Celia

Celia
Jatuh Cinta


__ADS_3

Happy reading ♥️


Matahari sudah mulai merangkak naik. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi. Seperti biasanya, Renata bangun dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya meski mereka memiliki asisten rumah tangga.


Wanita itu tampak segar hari ini usai melewati malam panjang yang cukup membuatnya berkeringat bersama suaminya.


“Pagi, Mom?” suara ceria seorang gadis mengalihkan perhatiannya yang sedang menata alat makan dan juga menu sarapan mereka pagi itu.


“Pagi, Sayang. Apa tidurmu nyenyak semalam?”


“Em,” sahut gadis itu singkat seraya menganggukkan kepalanya. Tak lupa senyum manis gadis itu terbit di wajahnya yang cantik.


“Daddy masih belum bangun?” tanya Celia yang tak melihat pria yang biasanya sudah siap di meja makan lebih dahulu daripada dirinya.


“Sebentar lagi Daddy mungkin selesai bersiap,” ujar Renata santai.


Benar saja, tak lama setelah itu, pria yang masih tampak muda di usianya yang tak lagi belia menghampiri istri dan anaknya yang sudah siap di meja makan. Pria itu mendekat ke arah sang istri seraya menyerahkan dasi yang ada di tangannya. Seperti biasanya, pria itu meminta sang istri untuk mengikat dasinya dan menebar kemesraan di depan anaknya yang masih belum menikah.


“Di mana Aksa” tanya Fabian yang sepertinya keadaan hatinya sedang bagus.


“Dia sepertinya sedang mandi. Baru pulang jogging seperti biasa,” sahut wanita yang masih mengenakan apron memasak itu.


“Morning, Dad,” sapa Celia.


Entah mengapa Fabian merasa ada sesuatu yang berbeda dengan anak gadisnya saat ini. Pria itu sedikit salah tingkah saat melihat putrinya yang tersenyum sangat cerah bahkan lebih dahulu tiba di meja makan sebelum dirinya.


“Anything good happens, Princess?” (ada hal yang menyenangkan terjadi, princess ?) tanya pria itu menanyakan kabar pagi kepada anak gadisnya.


“Nothing. Just it is a great day today,” (todak ada apa-apa, hanya hari yang cerah) sahut gadis itu.


Gadis itu menjawab seadanya. Dia saat ini sedang bahagia. Hal itu bisa terlihat dari rona wajah Celia yang tampak cerah. Dan gadis itu hari ini tak protes dengan kata “princess” untuknya.


Pria itu merasakan sesuatu yang aneh. Akan tetapi dia tak memiliki ide tentang apa yang membuat gadis kesayangannya sangat bahagia.


“Pagi, Dad. Pagi, Mom. Pagi, Princess-nya Daddy Fabian,” ledek pemuda yang baru saja keluar dari kamarnya dengan penampilan segar.


Semuanya menjawab sapaan dari Aksa yang baru tiba. Pria itu sedikit mengernyit dengan reaksi kakaknya yang tampak biasa saja meski disapa dengan kata “princess”.


Pria itu menoleh ke arah Daddy-nya yang mengangkat kedua bahunya, mengisyaratkan tak tahu dengan apa yang terjadi pada putri pertamanya.

__ADS_1


“Aneh,” gumam pemuda itu.


Aksa mengabaikan keanehan pagi itu. Dia tak ingin merusak pagi cerah keluarganya terlebih saat ini mereka hendak sarapan.


Usai sarapan, mereka berpamitan kepada Renata untuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Tak terkecuali Celia yang saat ini sudah siap ke kantor bersama Daddy-nya.


***


“Sepertinya princess Celia sedang bahagia?” ucap Fabian memancing anak gadisnya untuk mengatakan apa yang membuat gadis itu tampak semangat dan lebih ceria hari itu.


“Apa Daddy tak suka kalau Celia bahagia seperti hari ini?" Jawaban Celia membuat Fabian terdiam.


Bukan itu yang diinginkan oleh pria itu. Dia hanya ingin tahu apa yang membuat anak gadisnya tersenyum sejak pagi dan berbagi kebahagiaan dengannya.


“Bu-bukan begitu maksud Daddy. Daddy ikut bahagia kalau kamu bahagia. Dan Daddy harap kamu selalu bahagia setiap harinya,” ujar pria itu salah tingkah.


Gadis itu hanya tersenyum menanggapi perkataan daddy-nya. Bukannya enggan berbagi kebahagiaan. Celia tak ingin daddy-nya kembali murka karena dia masih menjalin hubungan dengan kekasihnya.


“Biar aku menyimpan semuanya sendiri, Dad,” batin gadis itu.


Perjalanan menuju kantor hari itu terasa sangat cepat. Terasa baru beberapa detik yang lalu meninggalkan rumah. Dan kini mereka telah berada di bangunan kantor tempat mereka bekerja.


Celia menganggukkan kepalanya.


Saat gadis itu melanjutkan langkahnya menuju lift yang akan membawa dirinya ke lantai di mana ruangannya berada, sebuah notifikasi pesan diterima terdengar dari ponselnya.


Collin:


Selamat bekerja. Sampai jumpa nanti malam, My Princess.


Pesan singkat itu sukses membuat Celia tersenyum. Jantungnya berdebar tak karuan hanya karena beberapa kata yang tertera di layar ponselnya. “Nanti malam? Apa dia akan mengajakku kencan lagi?” batin Celia.


“aku tak sabar menanti malam hari nanti,” gumam gadis itu dengan suara yang sangat pelan.


Gadis itu bergegas menuju ruangannya saat pintu besi lift itu terbuka. Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pulang lebih awal. Celia tak sabar ingin bertemu kekasih hatinya dan pergi kencan seperti semalam.


Hanya mengingat apa yang terjadi semalam saja membuat pipi Celia merona.


Gadis itu menepuk pipinya agar tak terlalu larut terjebak dengan perasaannya.

__ADS_1


***


Sementara itu, Collin yang saat ini duduk di sebuah taman yang ada di belakang sebuah rumah, tersenyum melihat pesannya kepada Celia. Dia tak sabar untuk ‘menculik’ gadis itu sekali lagi.


“Kenapa senyum-senyum sendiri?” suara seorang wanita membuyarkan lamunannya akan Celia.


Pria itu menoleh mendapati wanita kesayangannya membawa baki berisi teh dan sepiring camilan. “Rasanya terlalu pagi untuk minum teh, Oma,” ujar Collin.


“Ini bukan buatmu. Tapi untukku. Kau tahu? Wanita tua ini mudah merasa lapar,” kekeh wanita yang rambutnya sudah mulai memutih itu.


“Oma masih muda di mataku. Kau tak setua itu, Oma.”


Wanita itu menghela napas mendengar perkataan cucunya.


“Simpan rayuanmu itu,” ujar Oma Hana kepada cucunya.


“Apa yang membuatmu tersenyum seperti orang gila?”


“Oma benar. Rasanya aku sudah gila, dan itu karena cinta,” sahut pria itu menatap jauh ke langit yang cerah pagi ini.


Wanita tua itu mengangkat sebelah alisnya. Sudah sangat lama Collin tak berkunjung ke rumahnya. Dan sekalinya berkunjung, pemuda itu berkata sedang jatih cinta?


Oh, sepertinya dia hampir melewatkan sesuatu yang penting. Melihat cucunya seperti itu rasanya dia ingin hidup lebih lama untuk melihat cicitnya.


“Apa kamu benar-benar sedang jatuh cinta? Apa jangan-jangan kamu jatuh cinta pada sosok yang tak nyata?” tanya Hana memastikan.


Bukankah kebanyakan pemuda saat ini sering mengidolakan artis atau tokoh animasi cantik yang tak mungkin untuk digapai dan dijadikan istri?


Wanita tua itu tak ingin cucunya seperti itu. Terlebih ini pertama kalinya dia mendapati cucunya membicarakan tentang cinta.


“Kata siapa dia tidak nyata? Dia nyata, Oma. Hanya saja kami terpisahkan oleh jarak yang sangat jauh,” sahut Collin.


“Kalau begitu, kikislah jarak yang membuat kalian berjauhan itu. Kau tahu? Cinta itu sungguh menyiksa. Dan sangat menyakitkan kalau sudah mengakar begitu lama.” Wanita tua itu berbicara sedikit lebih panjang untuk memberi semangat kepada cucu laki-lakinya itu.


“Apa dia seorang wanita?” pertanyaan wanita tua itu sukses membuat Collin yang hendak mencicipi teh buatan neneknya tersedak.


To be continued ♥️


jangan lupa like, komen, hadiah dan vote juga ya...

__ADS_1


loph yu ♥️


__ADS_2