Celia

Celia
Datang


__ADS_3

Happy reading ♥️


“Ada yang ingin kamu bicarakan dengan Mommy, Nak?” Tanya Renata dengan lembut.


Saat ini Renata duduk di tepi ranjang anak gadisnya. Di mana anak gadisnya saat ini berada, terdiam dengan wajah yang tak ceria..Renata merupakan sosok paling sabar dan yang paling bisa diajak bicara saat ini. Hanya Mommy-nya yang bisa meluluhkan hati Daddy-nya yang keras itu.


“Celia akan mengatakan siapa pria itu. Akan tetapi, bisakah Mommy memberikan ponsel Celia?” tanya nya penuh harap.


Renata mengangkat sebelah alisnya. Permintaan anak gadisnya sedikit membuatnya curiga.


“Celia berjanji kalau tak akan berbohong dan mencurangi Mommy.” Gadis itu tampak putus asa dan Renata tak tega melihat putrinya yang sedang bermuram durja.


“Baiklah. Tunggu sebentar.”


Renata kemudian bangkit dan kembali berjalan menuju pintu ruangan itu. Wanita itu sangat berhati-hati. Dia tak lupa mengunci kembali pintu kamar putrinya agar anak gadisnya tak melarikan diri saat dirinya mengambil alat komunikasi pribadi putrinya.


Beberapa menit kemudian, wanita itu kembali ke kamar putrinya. Dia bisa melihat binar bahagia putrinya saat melihat dirinya membawa benda pipih berukuran 5,5 inci yang diminta. Renata memberikan ponsel kesayangan putrinya kepada pemiliknya.


Dengan gerak cepat, Celia menyambar benda pipih itu. Gadis itu kemudian mengusap layar benda itu dan mengetikkan sesuatu ke atasnya. Gadis itu tampak mengetik pesan yang cukup panjang kepada seseorang yang tak dikenal oleh Renata.


Setelah gadis itu selesai berkirim pesan, Renata kembali bersuara. Membuat Celia kembali fokus kepada Mommy-nya.


“Sekarang, katakan pada Mommy, siapa dia?”


“Dia ... Teman masa kecil Celia, Mom. Dan Mommy sebenarnya mengenalnya,” ucap gadis itu.


Renata mengerutkan keningnya. Wanita itu berpikir keras, berusaha mengingat siapa orang yang dimaksud oleh putrinya. Terlebih saat anak gadisnya itu mengatakan kalau mereka saling kenal sejak kecil.


“Siapa itu?” tanya Renata menyerah.


“Apa Mommy dan Daddy akan marah?”


“Kami mungkin akan lebih marah kalau kamu tak jujur,” ungkap wanita yang masih tampak cantik itu.


“Namanya Collin.” jawab Celia takut-takut.


Renata menautkan alisnya. Dia merasa nama itu pernah dia dengar. Dan rasanya tak asing. Wanita itu tampak berpikir begitu keras. Berusaha mengingat seseorang yang bernama Collin itu.


“Dia pria blasteran Indonesia-Jerman,” imbuh Celia lagi.


Mendengar Celia menyebutkan sebuah negara di wilayah Eropa itu, membuat tubuh Renata menegang. Pikiran wanita itu langsung mengarah pada seseorang di masa lalunya. Tapi apakah mungkin?


“Apa kamu sangat mencintainya?” tanya Renata kepada anak gadisnya.


Celia menundukkan wajahnya. Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya sebagai bentuk jawaban. Dia tak berani menatap wajah mamanya yang tampak berbeda.


“Apa dia lelaki yang mengajakmu pergi saat malam hari?”


Sekali lagi Celia menganggukkan kepalanya. Dia membenarkan pertanyaan Mommy-nya.

__ADS_1


“Dan apa dia yang membuatmu ingin kabur dari rumah ini? Apa dia yang menyuruhmu kabur?”


Pertanyaan Renata yang sedikit mengandung amarah itu membuat Celia takut.


Dia tak pernah mendapati Mommy-nya meninggikan suaranya padanya. Sejak kecil,Renata selalu berusaha menekan emosinya dan memperlakukannya dengan lembut. Bahkan hingga beberapa saat lalu.


“Celia yang meminta Collin untuk membawa Celia pergi, Mom. Maafkan Celia.”


Bulir bening tampak menetes dari ujung netranya. Gadis itu terisak karena kesalahannya. Dia mengakui kalau memang caranya salah. Dia tak menyangka kalau Mommy-nya sangat marah hanya karena hal itu. Hingga mengira kalau kekasihnya yang menyuruhnya kabur dari rumah.


Renata menghela napas panjang dan mengembuskannya dengan sangat berat. Sebuah beban terasa mengimpit dadanya, membuat napasnya terasa berat karena ulah anaknya yang untuk pertama kali melawan orang tuanya.


Renata hampir lupa kalau putrinya sudah mulai dewasa. Usianya sudah layak untuk menikah. Hanya saja Renata masih khawatir karena anak gadisnya masih terlalu kekanakan.


Bukan sepenuhnya salah Celia. Mungkin salahnya dan juga Fabian yang terlalu mengekang gadis itu. Namun, dia tak ingin melimpahkan semua kesalahan kepada suaminya yang sangat over-posesif dan over-protektif kepada anak gadisnya. Mengingat perkembangan zaman yang semakin tak terkendali membuat Fabian dan Renata tak ingin lengah menjaga anak-anaknya. Dan itu sepertinya terlalu berlebihan.


“Kalau dia adalah pria baik-baik, dia pasti akan datang ke rumah gadisnya dan memintanya kepada orang tua gadis itu. Sekarang coba pikirkan. Apa menurutmu dia merupakan pria baik, sementara dia mendukungmu untuk kabur dari rumah?” tanya Renata panjang lebar.


“Dia benar-benar pria yang baik, Mom. Dia bukan pria seperti yang Mommy pikirkan,” ujar Celia membela Collin.


“Suruh dia menemui Mommy dan Daddy jika dia memang seorang pria sejati.”


Renata kemudian bangkit dan meninggalkan Celia setelah mengucapkan kalimat itu. Dia bukan mendukung Celia dengan anak lelaki yang bernama Collin itu. Dia hanya ingin membuat Celia sadar kalau tindakannya dan pria itu salah. Renata juga ingin membuka mata Celia agar sadar bahwa lelaki itu bukan pilihan yang tepat meski Renata tak mengenal anak laki-laki yang kemungkinan anak dari seseorang yang dia kenal.


Celia menatap ponsel yang masih ada di tangannya. Setelah Mommy-nya keluar dari kamar dan mengunci pintu itu kembali, Celia kemudian menghubungi pria yang saat ini berstatus sebagai kekasihnya itu. Gadis itu ingin membuktikan bahwa Collin tak seburuk dugaan orang tuanya. Dia yakin kalau Collin akan datang dan mempertahankan hubungan mereka.


Celia yakin kalau pria itu pasti akan datang memenuhi permintaan Mommy-nya yang baru saja diucapkan wanita itu.


“Apa kamu bisa datang ke rumah malam ini? Menemui orangtuaku?” tanya Celia melalui ponselnya.


***


Hari sudah semakin sore. Jam kerja bagi para pekerja kantoran sudah berakhir. Hanya beberapa orang yang masih ada di dalam bangunan kantor karena lembur, menyelesaikan tugas yang masih belum terselesaikan meski waktunya sudah usai.


Fabian yang saat ini ingin segera pulang, saat ini sudah ada di dalam kendaraan beroda empat dengan seorang sopir yang mengemudikan kendaraan itu. Pria itu menatap jalanan yang begitu ramai karena kebanyakan pekerja dalam perjalanan pulang seperti dirinya.


Tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah nama tertera di layar ponselnya dengan emot hati di ujung nama. Panggilan dari sang istri tercinta.


Fabian menarik garis lengkung bibirnya ke atas mendapati istrinya yang menghubungi meski saat ini dia sudah dalam perjalanan pulang.


“Ada apa, Sayang?” tanya Fabian seraya melonggarkan dasinya.


“Kamu sudah dalam perjalanan pulang, Bi?” tanya sebuah suara lembut yang sangat dia suka.


“Sekitar sepuluh menit lagi aku sampai. Ada apa?”


“Pulanglah segera. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu ... Mengenai Celia,” ujar Renata di seberang panggilan.


“Tunggu aku. Sebentar lagi aku sampai.”

__ADS_1


Panggilan mereka berdua pun berakhir. Meski kepalanya saat ini dipenuhi dengan tanda tanya, sebisa mungkin Fabian mengontrol dirinya. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat saat istrinya berkata ingin membahas putrinya yang tadi pagi membuat emosinya meninggi. Dia mengontrol emosinya, dan memaksakan dirinya agar saat sampai di rumahnya nanti perkataannya tak menyakiti putrinya.


Beberapa menit kemudian Fabian tiba di kediamannya. Dia disambut oleh istrinya yang saat ini berdiri di teras rumahnya.


Fabian mengecup kening istri tercintanya itu seraya berjalan ke dalam rumahnya.


“Apa yang ingin kamu diskusikan?” tanya Fabian sambil berjalan beriringan dengan istrinya menuju kamar mereka.


“Buru-buru sekali,” kekeh Renata berusaha mengalihkan pikiran suaminya yang baru pulang bekerja.


“Mandi dan bergantilah dulu setelah ini,” ucap Renata sambil memberikan segelas air kepada sang suami saat mereka sudah duduk di sofa yang ada di kamar mereka.


“Terima kasih,” ucap Fabian menerima gelas yang berisi air bening itu dan menandaskan isinya. Dia menuruti permintaan sang istri yang memintanya membersihkan diri dulu.


Renata membereskan pakaian kerja suaminya ke dalam keranjang pakaian kotor yang ada di salah satu sudut ruangan. Setelahnya dia membawa keranjang itu ke ruang laundry sementara suaminya membersihkan diri.


Tak lama setelah itu, dia memastikan asisten rumah tangganya menata hidangan makan malam yang sudah dia masak sebelum Fabian tiba.


Setelah memastikan semuanya sudah siap, Renata kembali menuju kamarnya di mana Fabian saat ini sudah memakai pakaian rumahannya, celana pendek dan kaos polos favoritnya.


“Kemarilah,” pinta Fabian kepada istrinya yang baru saja masuk ke dalam kamarnya.


Wanita itu tersenyum ke arah suaminya yang tetap terlihat sangat tampan dan menggoda meski usianya sudah tak lagi muda.


“Tadi aku mencoba berbicara dengan Celia,” ujar Renata.


Perkataan gadis itu membuat Fabian tertegun. Dia ingin tahu apa yang mereka bicarakan saat dia tak ada di sana.


“Dia memberitahukan padaku siapa pemuda yang merupakan kekasihnya itu,” imbuh Renata.


“Lalu?”


“Dan dia-“


Belum sempat Renata melanjutkan perkataannya, bel rumahnya berbunyi. Renata menatap Fabian dan memintanya ikut turun melihat siapa yang datang.


Seorang pemuda berdiri di balik pintu utama rumah itu. Mengejutkan Renata dan juga Fabian malam itu.


“Selamat malam, Om, Tante. Saya Collin, teman Celia,” ujar pemuda itu.


To be continued ♥️


thanks for reading ♥️


triple up yesss


semoga suka ♥️


jangan lupa like komen vote dan hadiah ya 😚

__ADS_1


__ADS_2