
selamat membaca ♥️
Prosesi pemakaman Oma Hana telah selesai dilakukan. Orang-orang yang mengantar kepergian almarhum sudah pulang, meninggalkan Komplek pemakaman tak jauh dari rumah Oma Hana. Hanya tersisa Jamie, Collin, dan kedua orangtua Celia di sana. Aksa dan Celia yang tadi ikut mengantar ke pemakaman, kini sudah kembali ke rumah Oma Hana, menyambut para pelayat yang masih berdatangan setelah jenazah diberangkatkan dari rumah duka.
Empat orang itu terjebak dalam keheningan. Jamie masih menangis dalam diam seraya menaburkan bunga di atas pusara orangtuanya yang telah berpulang mendahului dirinya.
“Maafkan aku,” ujar Fabian.
Pria itu tersenyum. Sedikit pun tak ada aura permusuhan yang ada di kedua mata Jamie. Pria itu sudah ikhlas melepaskan kepergian mamanya.
“Kalau saja aku merestui Collin dan Celia lebih awal, mungkin tante hana masih ada bersama kita,” imbuh Fabian.
Renata menautkan tangannya ke tangan suaminya. Dia merasakan genggaman yang sangat erat dari pria yang juga berduka atas kepergian tantenya. Bagaimanapun Tante hana masih kerabatnya.
“Aku pulang dulu,” ucap Fabian kemudian, menepuk pundak pria yang usianya tak jauh beda dengannya.
Jamie hanya menganggukkan kepalanya. Pria itu masih menatap batu nisan mamanya.
“Ayo, Pa,” ajak Collin mengajak Jamie meninggalkan area pemakaman itu.
Mereka akhirnya bangkit dan menyusul pasangan suami-istri yang masih tak terlalu jauh berjalan di depan mereka.
***
“Ayo kita pulang,” ajak Fabian kepada Celia dan Aksa.
Pasangan suami-istri itu kini tengah menjemput kedua anaknya di rumah seorang yang telah berpulang.
Kali ini, Celia mau ikut dengan kedua orangtuanya kembali ke rumah. Tak ada perlawanan dari gadis itu.
Tak berselang lama, Collin dan Jamie juga tiba di rumah Oma Hana. Mereka saling bertatapan tanpa mengeluarkan sepatah kata.
“Aku ... Pulang dulu,” ucap Celia pamit kepada Collin yang menundukkan kepalanya.
Gadis itu berlalu, tak lagi menoleh ke arah pemuda yang telah berkorban sepenuh jiwa untuk melindunginya.
__ADS_1
Begitu pun Fabian. Dia hanya menepuk pundak pria yang pernah tak ia sukai sebelum kejadian itu terjadi. Pria itu kemudian pamit kepada Fabian dan hanya dijawab dengan anggukan dan juga senyum singkat yang cukup sulit ia tampakkan.
Dua orang pria itu menatap kepergian keluarga yang masih memiliki hubungan kerabat dengannya. Mereka terjebak dalam pikirannya masing-masing, hanya saling bertatapan singkat tanpa adanya suara.
“Papa ingin bicara.” Jamie angkat suara.
Pria itu kemudian berjalan ke dalam rumah, diikuti oleh Collin di belakangnya. Dia kemudian duduk di ruang tengah rumah Oma Hana yang saat ini begitu sepi karena ditinggal pemiliknya.
“Jadi, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Jamie langsung pada inti pembicaraannya.
“Collin akan tetap di sini, Pa. Bagaimanapun juga aku sudah mengajukan pindah kewarganegaraan dan pindah tugas untuk menjadi dokter di negara ini.”
“Apa kamu yakin? Maksudku, bukankah kamu tahu kalau prosesnya tak mudah? Itu ... Cukup lama.”
“Collin sudah siap dengan semua risikonya, Pa.”
Jamie menganggukkan kepalanya. “Setelah tujuh harinya Oma, Papa akan kembali ke Jerman. Papa harap kamu bisa jaga diri dengan baik,” ucap pria itu pada akhirnya.
Collin menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Pa.”
***
Mereka hanya saling berpelukan sebagai ayah dan anak. Jamie percaya kalau Collin sudah mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Pria itu sudah membuktikan kemampuannya meski hampir merenggut nyawanya.
“Bawalah Celia sebagai menantu Papa. Sebagai pasangan hidupmu yang akan menemanimu hingga menua bersama. Papa merestui kalian berdua,” ucap Jamie.
“Jika nanti saat kalian menikah, Papa tak bisa hadir, bukan berarti papa berubah pikiran. Lanjutkan pernikahan kalian, takut Fabian mengubah keputusannya,” kelakar pria itu.
Collin pun tertawa dengan perkataan papanya. Pria itu menganggukkan kepalanya. “Tapi Collin berharap Papa bisa hadir. Collin tetap akan memberitahu Papa meski itu sehari sebelum akad nikah terlaksana.”
Jamie menganggukkan kepalanya. Pria itu tersenyum haru melihat anaknya yang berhasil mengambil salah satu perempuan kesayangannya Fabian.
‘akhirnya aku bisa merebut salah satu orang yang sangat kamu cintai , Fabian. Meski sebagai menantuku. Semoga kita bisa akur,” kekeh pria itu dalam hati.
Siapa sangka takdir tetap membuat mereka saling berkaitan. Melalui setiap peristiwa tak terduga, tak pernah direncanakan.
__ADS_1
Sementara itu, Celia masih mengurung diri di kamarnya. Gadis itu masih bingung dan tak tahu apa yang akan dia lakukan setelah ini. Kalau boleh jujur, Celia merasa dirinya telah ternoda.
Dia merasa jijik dengan tubuhnya yang telah disentuh oleh pria lain selain suaminya. Bahkan kedua orangnya tak tahu kalau setiap kali Celia mandi, beberapa bagian tubuhnya memerah karena gosokan kuat yang berulang kali saat ia mandi.
Bayangan saat tangan pria itu menjamah tubuhnya, menjadi mimpi buruk yang selalu menghantui gadis itu. Celia merasa dirinya sudah tak pantas lagi untuk Collin dan juga siapa pun.
“Maafkan aku ... Maafkan aku.” Berulang kali gadis itu menangis terisak saat sedang tertidur. Bahkan saat kedua matanya terpejam, mimpi buruk itu terus mengikutinya.
***
Pagi itu, Celia bangun lebih awal. Sudah beberapa hari setelah kejadian itu, Celia bangun sebelum subuh. Bahkan sesekali dia ikut membantu Bi Sumi yang memasak sejak pukul setengah lima, mendahului Mommy-nya yang biasanya bangun pukul lima pagi.
“Ini ikannya apa sudah boleh dimasukkan, Bi?” tanya gadis itu.
Bi sumi menoleh dan melihat ke arah minyak goreng dalam wajan yang sudah tampak panas. “Boleh, Non. Hati-hati kena cipratan minyak, ya,” ucap Bi Sumi.
Wanita paruh baya itu dengan telaten mengajari Celia yang konon ingin belajar memasak masakan yang setiap hari terhidang lezat dan menjadi kesukaan keluarganya.
Pagi itu mereka memasak nila goreng saus asam manis sebagai lauknya. Dan itu atas permintaan Celia yang begitu ingin memakan menu ikan goreng.
Suara langkah kaki lain membuat Celia menoleh. Dia tersenyum saat mendapati Mommy-nya sudah ada di belakangnya.
“Masak apa?”
“Nila goreng saus asam manis, Mom,” sahut gadis itu.
“Mommy balik lagi aja ke kamar. Biar Celia dan Bi Sumi yang siapkan sarapan. Sudah hampir selesai kok,” imbuh gadis itu.
Renata menganggukkan kepalanya, mengiyakan permintaan putrinya yang akhir-akhir ini sangat rajin di dapur. Bahkan bangun lebih awal dari sebelumnya. Wanita itu senang sekaligus khawatir dengan putrinya yang berubah bahkan terkadang masih sering melamun.
Pernah Celia bertanya perihal apa yang membuatnya demikian. Namun, gadis itu tak pernah mau mengatakan apa yang sebenarnya dan hanya menjawab, “Celia tidak apa-apa, Mom.” Diiringi senyum yang dipaksakan.
Hingga bel pintu rumah berbunyi, menyadarkan Celia dari lamunan singkat tentang anak perempuan pertamanya.
“Siapa yang bertamu sepagi ini?” gumam wanita itu seraya melangkah mendekati pintu utama yang masih tertutup sempurna.
__ADS_1