CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Calon istri!


__ADS_3

"Kok bilang gitu sih Jo, masak manusia mau diperjual belikan."


"Lalu apa namanya kalo seperti ini, dikit-dikit kamu ungkit tentang perjanjian bisnis aku sama papamu." Jonathan sedikit berbisik, ia takut didengar oleh anggota keluarganya.


"Beda 'kan Jo. Kalo kita ini namanya win win solution, kamu untung aku senang dan semua bahagiaaa." Stella merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Sedari kecil tidak pernah mengalami masa sulit, membuat dirinya selalu hidup dalam keceriaan.


"Win win solution itu kalau kedua belah pihak diuntungkan, lah ini kamu doang yang seneng aku ga!"


"Kamu 'kan untung juga dapat dana dari papa aku." Stella melipat kedua tangannya di dada dengan wajah merengut.


"Ya itu berarti sama aja kamu beli harga diri aku, tanpa mau mengerti perasaanku! dah lah, aku mau cari cewekku dulu." Jonathan beranjak menjauh dari Stella.


"Ya udah kalo kamu menganggap seperti itu, aku beli kamu!" Stella mengiringi langkah Jonathan.


Pria itu terus berjalan mencari keberadaan Jamilah diantara para undangan tanpa menghiraukan Stella yang menguntitnya dari arah belakang.


Jonathan menemukan Jamilah sedang berdiri di pojok ruangan sedang menikmati es krim di tangannya.


"Di sini kamu ternyata." Jonathan tersenyum lega. Jamilah balas tersenyum hanya sekejap lalu surut saat melihat wanita yang merebut posisinya berdansa tadi, ada di belakang tubuh Jonathan.


"Eh, kenalkan ini namanya Stella ... La!" Jonathan memberi kode pada Stella agar mengulurkan tangannya.


"Stella, calon istrinya Jonathan," ucap Stella penuh percaya diri.


"Sembarangan! dia temen sekolah aku dulu, papanya rekan bisnis di kantor."


"Jamilah." Jamilah menyambut tangan Stella dan tersenyum geli melihat interaksi keduanya yang seperti kucing dan tikus.


"Yang calon istri aku tuh dia, jangan asal kalo ngomong bisa salah paham nanti,"ujar Jonathan yang disambut dengan cibiran bibir dari Stella.


"Jo, ajak makan Jamilah sama Stella." Bu Devi datang menghampiri sembari tersenyum anggun.


"Halo, Tante apa kabar," sapa Stella dengan ceria.


"Kabar baik, Stella. Lama ga ketemu tambah cantik aja, main-main kerumah ya."


"Tante bisa aja." Stella tersenyum tersipu sembari menyelipkan rambut di belakang telinga, "Wah, dapat undangan resmi dari Mama Jonathan nih," ucap Stella dengan senyum penuh arti ke arah Jamilah dan Jonathan.


"Yuk, yuk makan semua jangan cuma berdiri aja di sini." Senyum angkuh Stella menghilang saat tangan mama Jonathan menggamit lengan Jamilah dan membiarkan ia berjalan sendiri di belakang.


Mama Jonathan menggiring mereka ke meja bundar yang di sediakan khusus untuk keluarga pengantin. Hanum yang melihat kedatangan Jamilah dari jauh, langsung menepuk bangku kosong di sebelahnya, memberi kode agar Jamilah duduk di dekatnya.

__ADS_1


"Milah, minggu depan ikut yuk ke Bali, kita mau bulan madu," ujar Hanum senang.


"Iya Milah, jalan-jalan ke Bali sama Jonathan. Tante sama Om juga ikut kok," timpal Mama Jonathan.


"Aku kok ga diajak sih, Tante." Stella mulai merajuk manja.


"Stella kalau mau ikut boleh kok, bilang sama mama dan papa dulu ya," sahut Mama Jonathan.


"Assyiikk, hitung-hitung kita latihan bulan madu ya, Jo. Apa mau sekalian prewedding di sana?" Stella memandang Jonathan antusias. Sontak semua kepala menoleh ke arah Stella dengan pandangan bertanya.


"Apaan sih! dah dibilangin ngomong tuh yang bener," sergah Jonathan jengah.


"Maaf. Bukan saya ga sopan menolak ajakan Bu Hanum, tapi saya masih baru masuk kerja ga enak kalau harus ijin," ujar Jamilah.


"Ya lah, yang bisa jalan-jalan kapan saja cuman pengusaha, yang kerja rendahan ga bisa ikutan," sahut Stella ketus.


"Bisa diem ga sih kamu!" Jonathan berbisik tegas pada Stella.


"Mana bisa Jonathan ikut, Ma. Siapa nanti yang stand by di kantor kalau semuanya pergi," ucap Pak Beni.


"Ya, Ma aku ga bisa ikut. Ada yang harus aku selesaikan."


"Mulai ajarkan aku cara berbisnis 'kan?" Stella mengerling manja, "Papa minta Jonathan ajarkan aku cara berbisnis, Om," lanjut Stella menjawab tatapan tanya dari kedua orang tua Jonathan.


"Iya, biar lebih dekat juga. Iya kan, Jo?"


Mama dan Hanum memandang Jonathan dengan tatapan menyelidik. Pria yang duduk di antara Jamilah dan Stella itu, hanya membalas dengan tatapan yang seolah berkata 'ga perlu dianggap serius'.


"Dia siapa sih, kok panggil Tante ibu?" tanya Stella.


"Calon istri! sudah dibilang calon istriku masih tanya aja," sembur Jonathan sebelum mamanya menjawab. Bu Devi dan Hanum tersenyum senang dengan reaksi spontan yang ditunjukan Jonathan.


Stella tidak menghiraukan sikap ketus Jonathan, karena memang sejak dulu putra bungsu keluarga Prasojo itu selalu santai dan sekenanya jika berbicara.


"Saya dulu kerja di kantor, Pak Jonathan," sahut Jamilah.


"Ow, pantes karyawan toh," sahut Stella.


"Pulang sekarang?" tanya Jonathan pada Jamilah yang sudah menyelesaikan makannya. Jamilah mengangguk mengiyakan, ia ingin segera menjauh dari tatapan Stella yang seperti ingin mengulitinya.


"Saya permisi pulang dulu, terima kasih Pak, Bu." Jamilah mengangguk sopan.

__ADS_1


"Iya, Milah. Sering-sering main ke rumah ya," sahut Bu Devi.


"Jo, ikut." Stella mengejar Jonathan dan Jamilah.


"Selangkah lagi kamu ikutin aku, aku patahin hak sepatumu," ancam Jonathan.


Stella menghentakkan kakinya kesal. Bagi orang lain mungkin ancaman Jonathan terdengar menggelikan, tapi Jonathan yang sudah mengenal Stella sejak lama tahu jika barang yang melekat di tubuhnya sangat berharga dibanding apapun bagi wanita itu.


"Maaf ya, kamu jangan salah sangka," ucap Jonathan setelah mereka berdua dalam mobil yang mengarah ke tempat tinggal Jamilah.


"Salah sangka kenapa?"


"Sama Stella, aku sama dia ga ada apa-apa. Emang gitu anaknya, suka seenaknya kalo bicara." Jamilah tertawa kecil mendengar Jonathan berusaha menjelaskan. Baginya Jonathan belum sepenuhnya miliknya, walaupun baru saja cincin disematkan di antara jarinya, Jamilah masih merasa ia belum pantas berada di sisi pria tampan itu.


"Ga apa-apa, Mba Stella lucu kok." Jamilah memang tidak terlalu terganggu dengan kehadiran Stella. Kalapun Jonathan lebih memilih Stella, ia dengan besar hati akan mundur walau pastinya ia akan merasa terluka karena Stella jauh lebih pantas bersanding dengan Jonathan dibanding bersamanya.


"Pak Jo kenapa kok senyum-senyum?" tanya Jamilah saat menangkap Jonathan yang melirik jemarinya untuk yang kesekian kalinya.


"Ga apa-apa. Seneng aja lihat cincin itu akhirnya ada di jari kamu." Jonathan menyelipkan telapak tangannya di tangan Jamilah, "Jangan pernah dilepas ya."


"Aku pikir kamu ga mau pakai cincin dari aku, karena lagi ada hubungan sama Manager restoran itu," lanjut Jonathan.


"Pak Reno?"


"Ga tau, ga inget namanya," sahut Jonathan sewot.


"Pak Reno itu ga suka wanita." Jamilah berbisik pelan.


"Maksudnya? ...." Jonathan melirik Jamilah penasaran. Jamilah mengangguk seolah tahu yang dipikirkan Jonathan.


"Justru kalau Pak Jo yang dekat sama Pak Reno, nanti saya yang curiga karena kabarnya, Pak Reno itu sukanya cowok-cowok seperti Pak Jo," ujar Jamilah jahil.


"Ah, yang bener kamu?" Jonathan tiba-tiba merasa ngeri, "Besok kamu masuk kerja?"


"Kerja, masuk pagi jam tiga sudah pulang."


"Kebetulan, besok ikut aku ya."


"Kemana?"


"Rahasia." Jonathan mengedipkan sebelah matanya, "eh, tapi aku ga masuk ya. Aku tunggu di luar, takut ketemu manager kamu."

__ADS_1


"Iyaa." Jamilah berusaha menahan rasa gelinya melihat reaksi Jonathan.


...❤🤍...


__ADS_2