CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Uji Nyali


__ADS_3

"Iyaaa, Mama muda, Mama yang masih sangat muda," ucap Alex mengalah, namun di telinga Hanum terdengar seperti sebuah sindiran.


"Kamu harus hargai, aku rela loh mengandung anakmu dengan resiko badan kembali jadi gendut," ucap Hanum merajuk.


"Iyaaa, aku hargai kok. Kamu mungkin capek. Istirahat dulu ya." Alex memberi kode pada perawat agar membawa bayinya keluar. Ia menduga omongan istrinya yang melantur kemana-mana dikarenakan efek dari obat bius yang masih bekerja.


"Aku ga capek kok." Hanum masih berusaha mempertahankan bayi dalam gendongannya.


"Iyaaa, tapi Sarayu yang capek. Dia mau tidur. Benar 'kan suster?" Alex memberi kode pada perawat dengan kedipan matanya. Perawat itu langsung mersepon dengan senyuman tersipu. Bayi yang belum genap berusia satu hari itu diletakan oleh perawat di ranjang khusus bayi.


"Baru aja punya anak, sudah main mata sama cewek lain," cetus Hanum lalu tidur membelakangi suaminya. Alex langsung melongo bingung dan serba salah.


"Biarkan aja dulu," bisik Mama, "Num, Mama sama Papa pulang dulu ya. Kamu istirahat aja dulu, nanti malam Mama datang lagi kesini." Mama mengusap punggung menantunya.


"Aku juga pulang ya. Jaga baik-baik keponakanku," ujar Jonathan.


"Kak, aku juga balik masih banyak tugas belum selesai," ucap Maura menyusul.


Hanum membalikan badannya dan memberikan senyum manis pada anggota keluarga Alex yang sedang memandangi putrinya di ranjang bayi.


"Kamu ga pulang juga? atau mau nyari siapa gitu di sini," sindir Hanum.


"Ngomong apa sih, Mama muda ini." Alex melepas sepatunya lalu naik ke ranjang bersama Hanum. Kamar rawat VVIP yang di ambil oleh keluarga Prasojo memang mempunyai ranjang yang cukup besar.


Hanum membiarkan tangan suaminya mengusap-usap punggungnya. Ia sebenarnya sadar tingkahnya barusan sedikit memalukan, tapi entah mengapa emosinya sulit dikontrol.


Sementara itu Jonathan tidak langsung pulang, ia langsung menuju ke restoran tempat Jamilah bekerja dan berharap kekasihnya itu masih ada di sana.


Senyumnya terlembang saat ia melihat dari luar restoran, Jamilah masih ada di balik meja kasir. Diingatnya tadi saat mereka masih di rumah sakit, Ia menangis dipelukan gadis bertubuh kecil itu. Sungguh memalukan, tapi sekaligus juga melegakan. Jiwanya seakan tenang setelah melepaskan semuanya di pelukan Jamilah.


Apakah ini jawaban bahwa gadis itu memang ditakdirkan untuknya? tapi apakah ia sudah siap melangkah ke jenjang yang lebih serius dan berkomitment hanya dengan satu wanita?


Mengingat persahabatannya dengan Stella, membuat rasa bersalah dan tidak percaya diri untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita. Ia takut jika muncul Stella-Stella lainnya yang ia sakiti, termasuk Jamilah.


"Bapak nungguin siapa?"


"Loh, sudah selesai?" Jonathan terlalu asyik melamun sampai tidak menyadari Jamilah sudah berdiri di sisinya, "Aku tunggu kamu, Milah. Perasaan tadi masih di sana." Jonathan menunjuk ke arah dalam restoran.

__ADS_1


"Dari dalam saya memang sudah lihat Bapak, tadi memang sudah siap-siap pulang sih."


"Masih boleh ajak jalan ga?"


"Tergantung, kalau ngajaknya ke jalan yang benar mau aja, tapi kalau ke jalan yang sesat jelas ga mau," ujar Jamilah seraya tersenyum simpul. Hatinya sedang berbunga-bunga karena dapat dekat lagi dengan pujaan hatinya. Walau sempat merasa kecewa, belum ada yang bisa menggeser Jonathan dari hatinya.


"Kalau jalannya di atas pelaminan gimana?" goda Jonathan dengan kerlingan menggoda.


"Tergantung juga, jalannya sama siapa."


"Sama aku?" Jamilah mengulum senyumnya, ia membuang pandangannya ke arah jalan raya, "Udah ah, buruan." Jonathan yang juga merasa malu, segera membuka pintu mobil dan menggiring Jamilah masuk ke dalam.


"Mau kemana?" tanya Jamilah, tapi Jonathan hanya tersenyum menanggapi.


"Kok ga bilang kalau mau kerumah? kalau bilang 'kan aku bisa mandi sama ganti baju dulu." Jamilah panik saat mobil Jonathan mengarah ke komplek perumahan keluarga Jonathan.


"Untuk apa? masih cantik kok."


"Malu ah, ada Pak Beni sama Bu Devi ga di rumah?" Jamilah mengambil ponselnya dan berkaca di layarnya.


"Ada, atau jangan-jangan kamu berharap mereka ga ada di rumah jadi kita bisa berduaan, gitu?"


"Loh, kenapa kalau kita hanya berduaan di rumah. Apa bedanya dengan sekarang kita hanya berdua di dalam mobil? ck ck ck ... kotor juga di dalam sini." Jonathan mengetuk dahi Jamilah gemas.


"Iiih, Pak Jo!" Jamilah menepis tangan Jonathan.


"Mau ngapain ke rumah?" tanya Jamilah saat mobil mulai masuk ke dalam halaman.


"Maunya kamu di mana? apartement boleh, Hotel asyik juga. Aku sih di mana aja ga ada masalah." Jonathan tersenyum geli melihat reaksi wajah Jamilah yang mengekerut kesal.


"Bercandanya kelewatan."


"Maaf, biar ga tegang aja. Kita sudah lama ga ngobrol," ucap Jonathan sebelum turun dari mobil.


"Loh Jo, kok ga bilang mau bawa Jamilah ke rumah?" Mama Jonathan terkejut saat mendapati anak bungsunya datang bersama seorang gadis.


"Jonathan juga ga bilang sama saya, Bu. Maaf saya belum sempat mandi dan ganti baju."

__ADS_1


"Kalau ditunda-tunda biasanya malah ga jadi, Ma. Cuman pingin ngajak makan malam sama-sama aja. Boleh 'kan, Ma?"


"Boleh, dong. Tapi makan malam sederhana aja ga apa-apa 'kan Milah? Coba kalau Jonathan bilang mau ajak kamu ke rumah, Tante bisa masak yang spesial." Beda dengan Jamilah, Mama Jonathan membiasakan menyebut dirinya sebagai Tante bukan Ibu, karena ia tidak pernah menganggap Jamilah sebagai karyawan.


"Ga apa-apa, seperti ini sudah sangat spesial buat saya." Jamilah tersipu saat Jonathan dan Bu Devi menatapnya sambil tersenyum.


"Papa mana, Ma?"


"Tumben nanyain Papa." Mata Mama mengerling jenaka. Dari gerak-geriknya, ia merasa anak bungsunya ini sedang merencanakan sesuatu.


"Rasanya kurang lengkap aja."


"Masih di kamar, sebentar lagi juga keluar. Tuh, Papa." Mama menunjuk dengan dagunya.


"Ada apa cari Papa? ow, ada Jamilah?" Papa tersenyum sembari duduk di kursi ujung meja.


"Makan dulu aja ya, aku sudah lapar," ujar Jonathan. Mama dan Papa saling melirik heran karena tingkah Jonathan tidak seperti biasanya. Tangannya yamg sedikit bergetar serta senyum dan gerakan tubuhnya terlihat canggung.


"Jamilah masih kerja di restoran yang dulu?" Mama membuka pembicaraan.


"Masih, Bu."


"Lama ga lihat kamu datang kemari, sibuk?" tanya Papa.


"Kadang-kadang aja, Pak." Jamilah melirik Jonathan dulu sebelum menjawab.


"Ga mau kembali kerja lagi di kantor saya, Milah?" lanjut Papa.


"Gak!" Bukan Jamilah yang menjawab melainkan Jonathan yang menyahut dengan tegas.


"Kok kamu yang jawab." Papa melirik ke arah Jonathan.


Jonathan menarik nafas panjang lalu meletakan peralatan makannya dengan pelan.


"Pa, Ma. Jonathan ga mau Jamilah kerja di kantor lagi, karena Jamilah bukan karyawan. Jamilah nantinya juga ga perlu kerja lagi di restoran."


"Loh kok ....?" Jamilah hendak melayangkan protes, tapi terhenti karena Jonathan berdiri dan berlutut di samping kursinya.

__ADS_1


"Jamilah, di depan kedua orangtuaku, aku memintamu untuk menjadi pendamping hidupku."


...❤️🤍...


__ADS_2