
Alex menghembuskan nafas kencang saat mendengar suara bernada centil di luar ruangannya.
Hampir setiap hari wanita itu datang, dan selalu merayunya untuk makan siang. Namun tak satu kalipun Alex memenuhi permintaanya dengan berbagai alasan.
Tetapi sepertinya wanita itu tidak pernah kehilangan akal. Ia memesan makanan online, dan duduk menyantap makan siang bersama dengan Alex di dalam ruangan.
Meskipun wanita itu selalu memesan menu makanan dalam jumlah yang cukup banyak, entah mengapa Alex tidak tertarik untuk menyicipinya. Baginya menu rumahan yang dikirim Mbok Jum tiap siang, sudah lebih dari cukup.
"Haaii, Al," sapa wanita itu. Satu lagi yang membuat Alex muak, wanita itu memanggil namanya sesuka hati. Wanita itu menyebut namanya dengan aksen kebarat-baratan.
"Makan siang yuk, pesan online atau makan di luar? Ini hari sabtu loh, Al, weekend sekali-kali kita jalan keluar yuk." Wanita itu berjalan memutari meja, lalu bergelayut manja di lengan Alex.
"Ane, berapa kali aku harus bilang sama kamu, ketuk pintu dulu sebelum masuk. Dan satu lagi, jangan sembarangan pegang aku seperti ini." Alex berdiri dari duduknya, dan otomatis pegangan Ane pada lengannya terlepas.
"Maaf, aku kadang lupa ketuk pintu," ucap Ane dengan nada manja sembari kembali berjalan mendekati Alex.
"Kamu makanlah sendiri." Alex melihat jam di tangannya. Sudah pukul 12 lebih, tapi kiriman makanan dari Mbok Jum belum sampai.
Alex mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Mbok Jum, "Siang, Mbok. Makan siang saya sudah dikirim?"
"Ya ampun, Mba Hanum kayaknya lupa ... anu Den, Mba Hanum tadi buru-buru berangkat jadi ga sempat masak buat Den Alex. Mbok kirim sekarang ya?"
"Hanum?"
"Iya, yang masak bekal untuk Den Alex kan Mba Hanum. Sekarang Mbok buatkan ya, Den?" tawar Mbok Jum.
"Ee, ga usah Mbok. Terima kasih." Alex menutup ponselnya dengan hati bertanya. Berarti selama ini dia yang masak buat aku?
"Aaal." Suara manja itu terdengar lagi di belakang Alex, "Ga ada kiriman makan siang ya, jalan ke Mall Kastanye yuk, kita makan siang di sana." Ane kembali bergelayut pada lengan Alex.
Alex yang sudah membuka mulutnya siap melontarkan kata kesalnya, urung mendengar nama tempat yang ingin wanita itu kunjungi, "Di mana?" tanyanya ingin kembali memastikan.
"Mall Kastanye, Al."
"Baiklah, ayo." Alex langsung berjalan keluar ruangan tanpa menunggu lagi.
"Benar kita makan siang di luar?" tanya Ane masih tak percaya saat mereka sudah di dalam lift.
"Hmmm," sahut Alex sambil melepaskan tangan Ane yang melingkar.
"Kamu mau makan apa?" Saat mereka mulai memasuki area Mall, Ane kembali melingkarkan tangannya ke lengan Alex seakan tidak ada jeranya.
"Ane, lepaskan tanganmu. Aku pria beristri," ucap Alex tegas. Walaupun ada rasa menggelitik untuk mengakui statusnya sekarang.
__ADS_1
"Aku yang seharusnya jadi istrimu, Al. Kapan kamu ceraikan perempuan itu?" tanya Ane setengah merajuk.
Alex paling tidak suka dengan wanita yang mengejar-ngejar seorang pria. Baginya wanita itu mahal, harus dikejar dan diperjuangkan.
Sejak sekolah, ia sudah bosan menjadi pusat perhatian wanita. Para wanita itu, selalu berebut menarik perhatiannya dengan segala macam cara termasuk juga Hanum diantaranya.
Alex sama sekali tidak menghirukan pertanyaan Ane, matanya sibuk mencari-cari sesuatu. Ia yang bisa dibilang satu tahun sekali menginjakan kaki di Mall, sedikit agak kebingungan dengan hiruk pikuknya Mall di jam makan siang.
Apa yang sebenarnya kucari di sini? Sialan!. Alex membatin kesal menyadari kebodohannya.
"Aaall, makan di sana yuk." Ane menariknya ke arah restoran yang paling sepi pengunjung karena harga menunya yang tergolong mahal.
Alex menurutinya karena ia memang tidak suka berdesakan dengan banyak orang.
Restoran itu berada di lantai dasar dengan seluruh pembatasnya berupa kaca, sehingga dari dalam bisa melihat ke area luar restoran.
Alex menikmati makan siangnya, tanpa sama sekali menghiraukan Ane yang terus berkicau di hadapannya.
Sekelebat matanya menangkap sosok yang jadi tujuannya sejak awal masuk ke dalam Mall ini.
Hanum memakai gaun putih panjang di bawah lutut, dengan riasan wajah natural sedang berdiri di atas panggung dan kelilingi banyak orang.
Senyum malu-malunya muncul tiap kali orang memanggil namanya, dan mengarahkan kamera ponsel mereka ke arah wajahnya.
Di area pameran skincare Aku Cantik
"Kami mau memperkenalkan Brand Ambassador produk kami yang baru Paket perawatan kulit "Aku Cantik," papar Caroline, pada sekelompok orang yang sibuk mengarahkan kamera ke arah mereka.
"Kami memang sengaja tidak menggunakan artis terkenal untuk produk kami, karena kami ingin membuktikan jika produk kami ini hasilnya terbukti nyata," lanjut Caroline.
"Saya dan Mba Hanum bertemu sekitar sebulan yang lalu di Mall ini juga, saat itu kondisi kulit Mba Hanum seperti ini." Caroline menunjukan slide yang menampilkan wajah Hanum sebelum menggunakan skincare.
"Kami menawarkan kepada Mba Hanum untuk menggunakan skincare Aku Cantik, lalu melaporkan perkembangan kulit wajahnya kepada saya secara berkala." Slide selanjutnya menampilkan wajah Hanum yang secara bertahap berubah semakin cantik, mulus dan glowing.
Decakan kagum mulai bermunculan dari bibir-bibir yang menonton di bawah panggung.
Mata Alex terbelalak saat melihat dari jauh, slide besar yang menampilkan wajah istrinya.
"Al, kamu mau kemana?" tanya Ane terkejut saat Alex tiba-tiba berdiri dari kursinya.
"Ada perlu, kamu di sini aja." Tanpa menatap Ane, ia langsung menuju ke panggung yang terletak di tengah-tengah Mall.
Perlahan Alex mendekat namun masih bersembunyi di balik rak-rak produk.
__ADS_1
Hanum dan Caroline turun dari atas panggung. Beberapa orang yang sepertinya dari wartawan berita online, sibuk memotret Hanum dan Caroline. Kilatan lampu blitz mulai dari kamera ponsel, hingga kamera porfesional menerangi wajahnya.
Caroline membawa Hanum mendekat pada seorang pria berkemeja putih lengan panjang, yang digulung hingga siku.
"Hanum, perkenalkan ini Pak Arthur. Saya sering bekerja sama dengannya untuk pembuatan iklan di media cetak dan elektronik." Arthur mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Hanum erat.
"Hanum." Hanum menyebutkan namanya dengan tersenyum lebar.
"Nama yang cantik, secantik orangnya," puji Arthur.
Hanum yang masih berada dalam suasana euforia sejak di atas panggung, semakin melebarkan senyumnya dan tersipu saat mendengar pujian Arthur. Terlebih Arthur memandangnya lekat dan memuja.
"Terima kasih," ucapnya pelan.
"Pak Arthur ini nanti yang akan membantu kita membuat iklan, jadi kamu akan sering berhubungan dengan beliau dan staffnya," jelas Caroline.
"I-iklan?"
"Iya Hanum, nanti untuk produk skincare Aku Cantik kamu yang akan jadi bintang iklannya baik di media cetak, elektronik dan sampul depan produk," papar Caroline.
"Iklan ... maksudnya yg di tivi-tivi?" tanya Hanum tak percaya.
Caroline mengangguk dan terkekeh melihat reaksi spontan Hanum. Sedangkan Alex sudah berjalan menjauh dari area pameran sejak pria bernama Arthur itu memuji istrinya cantik.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
__ADS_1