
"Siapa lagi manusia yang bisa hamil yang ada di dalam mobil ini? Jelas kamu yang hamil," ucap Alex sangat yakin.
"Kok maksa saya harus hamil sih?" Hanum menatap heran pada lelaki di sebelahnya itu.
Ia merasa akhir-akhir ini, Alex semakin lama semakin aneh tingkah lakunya. Alex yang dulu ia tahu adalah Alex yang pendiam dan irit bicara, tapi beberapa hari terakhir pria ini semakin cerewet.
Alex menghentikan mobilnya di depan kantor Caroline, lalu ia memandang perut Hanum yang dulunya buncit, sekarang terlihat rata dan ramping.
"Kamu ... belum hamil?" tanyanya ragu.
"Saya ga hamil dan tidak akan hamil sekarang." Hanum berkata dengan tegas, "Terima kasih sudah diantar, permisi," tambah Hanum, lalu dengan gaya yang sangat anggun dan dagu terangkat, Hanum turun dari mobil meninggalkan Alex yang masih tertegun di dalam mobil.
"Hai, Hanum sudah datang?" sapa Arthur ramah, "Duduk sini, Num. Kita tinggal tunggu Mba Caroline, dia tadi pamit ada urusan sebentar katanya." Arthur menepuk sofa di sisi kanannya.
"Acara kita hari ini ngapain ya, Mas?" tanya Hanum lalu menaruh tubuhnya tepat di sebelah Arthur.
"Kita hari ini cuman bincang santai aja, rapat kecil untuk acara grand launching minggu depan. Eh, diantar temanmu lagi?" tiba-tiba pandangan Arthur beralih ke arah pintu masuk.
Hanum ikut menoleh, ternyata Alex ikut turun menyusulnya masuk ke dalam kantor Caroline.
Alex berjalan pelan ke arah Sofa di mana Arthur dan Hanum duduk, lalu ia menarik tangan istrinya agar berdiri.
Walaupun sedikit heran dan kesal, Hanum tetap berdiri tanpa berbicara apapun. Setelah Hanum berdiri, Alex berganti duduk di sebelah Arthur lalu ia menarik tangan Hanum agar duduk di sebelahnya.
"Bukannya kita sudah saling kenal? Nama anda kalo ga salah ...." Arthur mengerutkan keningnya, saat Alex mengulurkan tangan mengajaknya bersalaman.
"Alex, nama saya Alexander Putra. Suami Hanum," ucap Alex dengan suara yang tegas. Hanum membelalakan matanya saat Alex menyebutkan statusnya.
"Anda pasti namanya Arthur, benar bukan?" tanya Alex seraya mengembangkan senyuman kemenangan saat melihat wajah pias Arthur.
"Kamu sudah menikah, Num?" tanya Arthur pada Hanum. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya karena wanita yang diajak bicara terhalang tubuh Alex yang tinggi. Hanum hanya tersenyum kaku sebagai jawabannya.
__ADS_1
"Istri saya sering bercerita tentang anda dan Ibu Caroline. Ia mengatakan bahwa mempunyai rekan kerja yang sangat menyenangkan, bukan begitu sayang?" papar Alex seraya menekankan kata rekan kerja dan kata sayang.
Hanum tidak ingin menanggapi pertanyaan Alex yang terkesan drama di depan Arthur. Ia hanya memberikan lirikan mata yang sinis pada suaminya.
Untunglah suasana canggung yang tercipta terselamatkan oleh kedatangan Caroline. Mereka bertiga masuk dalam ruang rapat yang berdinding kaca. Sehingga Alex bisa melihat keseluruhan di dalam ruangan, tapi tanpa mendengar percakapannya. Di dalam ruangan itu sudah ada beberapa team kreatif yang menunggu mereka.
Di amatinya interaksi antara Hanum dan Arthur. Walaupun tidak sedekat saat pemotretan, tapi mereka berdua duduk saling berdekatan. Terkadang kepala Hanum mendekat saat Arthur membisikan sesuatu begitu juga sebaliknya.
Alex semakin geram karena merasa gertakannya pada pria itu diabaikan.
Lebih dari dua jam Alex menunggu di luar ruangan dengan mata hampir tidak teralihkan dari semua gerak Hanum.
"Masih nungguin, Pak?" Alex memicingkan matanya saat panggilan yang dibencinya itu terdengar lagi.
"Ayo pulang."
"Mba Caroline, Mas Arthur, saya pulang dulu," pamit Hanum.
"Dia pasti aman bersama saya, karena saya suaminya." Alex yang menyahut.
Wajah Hanum mengkerut kesal, ia merasa tingkah Alex saat di kantor Caroline tadi sangatlah norak dan memalukan.
"Bapak kenapa sih tadi?" Perlu banget gitu bilang sana sini, saya suaminya Hanum." tanya Hanum dengan nada mengejek.
"Memangnya kenapa? kamu malu? bukannya dulu kamu yang begitu menginginkan saya menjadi suamimu?" Sudut bibir Alex terangkat membentuk senyuman sinis.
"Saya ga malu mengakui Bapak sebagai suami, tapi saya malu dengan tingkah Bapak tadi. Bap----"
Kalimat Hanum terputus saat bibir Alex menutup mulutnya. Alex nekat melakukan hal itu, saat mereka masih di dalam mobil yang berhenti saat lampu merah di tengah jalan yang padat.
...❤❤...
__ADS_1
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰
...❤...
Promosi punya teman, mampir di sana ya
Mengisahkan tentang seorang gadis desa bernama Raina Anastasya yang merasa hidupnya dipenuhi kesialan. Dipaksa menikah di usia belasan tahun. Tak boleh mengenyam pendidikan tinggi dengan alasan perempuan tak perlu terpelajar karena tugas wajibnya hanya 3 yaitu (macak, masak, dan manak). Pergi ke kota orang dengan harapan bisa untuk menghilangkan nasib buruknya. Namun, kenyataannya kesialan itu tetap mengikuti kemana pun kakinya melangkah.
Tak ada yang indah di dalam hidupnya, begitu pun dengan perjalanan cintanya.
Lantas bagaimana Raina berdamai dengan diri sendiri dan keadaan?
Temukan jawabannya di jawabannya di Diary Usang!
__ADS_1