CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Aku hanya minta waktumu sedikit saja


__ADS_3

"Vitamin?" Raditya setengah tidak percaya dengan ucapan Stella.


"Iya, terbukti aku makin cantik 'kan?" Stella menangkupkan telapak tangannya di kedua pipinya.


Raditya tersenyum lebar melihat keceriaan gadis belia yang duduk di hadapannya itu. Penatnya urusan pekerjaan yang serius dan monoton, membuatnya terhibur saat bersama dengan Stella.


"Aku pulang dulu ya, Om." Stella mengemasi semua barang bawaannya.


"Saya antar lagi?"


"Ga usah, aku bukan cewek manja aku bawa kendaraan sendiri. Daahhh." Stella melambaikan tangannya.


Sampai di dalam mobil, senyum yang tadi ia paksakan surut seketika. Stella melempar tasnya ke bangku samping, lalu menaruh kepalanya di atas kemudi mobil dan menangis di sana.


Stella merasa sesak di dadanya saat harus terus berpura-pura ceria dan tegar di hadapan orang lain. Namun yang sesungguhnya, ia rapuh dan kesepian.


Hari-hari berikutnya tak ada lagi sedikit waktu pun baginya bersama Jonathan, yang ada malah penolakan secara kasar seolah dirinya mahkluk paling menyebalkan dan selalu menganggu kehidupan Jonathan.


Rasa sedih dan sesak itu akhirnya mendorong Stella untuk datang menemui Jamilah di tempat kerjanya.


"Hai, saya mau bertemu dengan Jamilah, boleh tolong dipanggilkan?" pinta Stella pada pelayan yang membawakan buku menu.


Tidak menunggu lama, Jamilah keluar dari ruang khusus karyawan dengan masih menggunakan celemek di bajunya. Saat mengetahui siapa yang mencarinya, Jamilah sempat menghentikan langkahnya sesaat.


"Mba Stella cari saya? mau pesan apa?"


"Duduk dulu, Milah. Aku sudah pesan sama teman kamu tadi. Maaf kalau ganggu pekerjaanmu, aku cuman minta waktu sebentar saja," ucap Stella dengan nada memohon.


"Mau bicara apa, Mba?" Jamilah menuruti Stella untuk duduk di hadapannya.


"Saya mau minta tolong sama kamu, Milah. Maukah kamu ... meminjamkan Jonathan untukku sebentar saja?"


Jamilah mengerutkan kening, ia sama sekali tak mengerti arti permintaan wanita di hadapannya ini.


"Meminjam Jonathan? saya ga ngerti, Mba," ungkap Jamilah jujur.


"Aku tahu kamu sedang menjalani hubungan yang serius dengan Jonathan. Aku tidak akan mengambil dia darimu, Milah, aku hanya ingin Jonathan kembali baik sama aku," ucap Stella sedih.

__ADS_1


"Saya minta maaf kalau Pak Jonathan menjauhi Mba Stella, tapi tolong mba Stella jangan salah sangka saya tidak pernah melarang Pak Jo dekat dengan siapa pun," tutur Jamilah pelan.


"Aku mengerti, Milah. Aku yakin kamu wanita yang baik. Aku juga minta maaf kalau dulu aku sempat berlaku kasar sama kamu, mungkin karena aku belum sempat mengenalmu lebih jauh dan juga ... aku takut kehilangan Jonathan," ucap Stella semakin lirih.


"Ga apa-apa, sikap Mba Stella wajar kok. Pak Jo juga ga pernah melupakan Mba Stella, dia sering cerita juga masa-masa lucu waktu di SMA dulu bersama Mba Stella."


"Oh ya?" Wajah Stella yang tadinya sendu langsung cerah mendengar Jonathan membicarakanya di depan Jamilah.


"Iya, dari sana aku jadi tahu kalau Mba Stella itu orangnya baik." Stella tersenyum haru mendengar pujian Jamilah.


"Tentang aku ingin meminjam Jonathan ... bisakah kamu membuat Jonathan ada waktu sedikit untukku?" pinta Stella penuh harap.


Jamilah terdiam mendengar permintaan Stella, sisi hatinya ada perasaan tidak rela pria yang dicintainya membagi waktunya untuk wanita lain, tapi melihat sorot mata memohon di hadapannya Jamilah akhirnya menganggukan kepala.


"Terima kasih, Milah. Aku yakin kamu wanita yang tepat untuk Jonathan." Ucapan Stella itu cukup menenangkan hati Jamilah.


Jamilah menepati janjinya, ia mulai dengan membatasi pertemuannya dengan Jonathan. Tiap kali pria itu mengajaknya jalan keluar, Jamilah selalu mengeluarkan beribu alasan agar dapat menolak permintaan kekasihnya.


"Milah, kamu kenapa sih akhir-akhir ini seperti menghindari aku?" Jonathan sudah tidak bisa menahan kesal karena ditolak terus menerus.


"Perasaan Pak Jo saja. Saya masuk dulu ya, Pak. Terima kasih sudah diantar." Jamilah menunduk dan tersenyum sopan. Jonathan mendengus kesal dengan jawaban dan sikap Jamilah yang masih saja bersikap formal jika bicara dengannya.


Saat ingin menghentikan langkah Jamilah masuk ke dalam apartment, ponsel Jonathan berdering. Dengan sangat terpaksa ia mengangkat panggilan dari Stella karena hampir seharian ini gadis itu menghubunginya seperti teror.


"Apa lagi sih, Laaa??!" sembur Jonathan langsung begitu ia mengangkat panggilan Stella.


"Besok jadi 'kan?" Suara Stella di seberang sana terdengar sangat berharap.


Jonathan berdecak kesal sebelum menjawab, "Oke, tapi ga pakai lama!"


"Makasih, Paijo ... muuaacchh." Suara Stella yang berubah ceria dengan panggilan ledekan masa sekolah dulu diiringi kecupan jauh, membuat Jonathan yang tadinya kesal menjadi tersenyum geli.


...❤️...


Esok sorenya Jonathan benar menepati janjinya, menemani Stella keliling Mall seharian. Mulai berbelanja, makan, nonton hingga ke salon.


Jonathan sudah mulai jenuh menunggu Stella yang menghabiskan sisa hari panjangnya di salon. Wanita itu mengambil paket perawatan lengkap serta mengganti warna dan model rambutnya.

__ADS_1


"Selesai jam berapa?" Untuk kesekian kalinya Jonathan datang menghampiri Stella yang sedang di tangani rambutnya oleh karyawan salon.


"Bentar lagi, Mas. Ini sudah tahap terakhir, sabar dikit lagi ya. Nanti yang senang Masnya juga kalau pacarnya cantik." Karyawan salon yang memegang rambut Stella yang menjawab sedangkan gadis itu hanya menyengir dari balik cermin.


Jonathan kembali lagi ke sofa ruang tunggu, ia mengetik sebuah pesan untuk Jamilah.


📩 Pulang jam berapa, Yang? Aku jemput ya, kita makan dulu. Aku laper


📩 Bentar lagi pulang. Malam ini Pak Jo lagi sama Mba Stella 'kan, temani dulu aja Mba Stellanya kita bisa kapan-kapan aja makannya


Balasan pesan dari Jamilah membuat Jonathan menegakkan badannya yang tadi setengah berbaring. Ia tidak memberitahukan pada Jamilah perihal menemani Stella seharian ini. Mengapa ia seolah merasa Jamilah sengaja memberi Stella ruang dan waktu untuk bersamanya?


📩 Jangan pulang dulu. Aku ke tempatmu sekarang


"La, aku jemput Jamilah dulu. Kamu pulang sendiri ya."


"Loh aku 'kan ga bawa mobil Jo. Ini sudah malem, jauh juga dari rumah. Tunggu bentar lagi ya, nanti kita sama-sama jemput Jamilah." Stella menahan tangan Jonathan saat pria itu akan keluar dari salon.


"Kamu pulang sendiri aja naik taxi online 'kan bisa. Jangan manja!" Jonathan menghentakkan tangan Stella yang menggenggam erat lengannya.


"Joo ...." Stella masih berusaha menahan tangan Jonathan meski pria itu terus menepisnya.


"Cukup La! kamu "tuh bukan siapa-siapa aku, ada hati Jamilah yang harus aku jaga. Tolong ngerti!" Jonathan langsung keluar dari salon meninggalkan Stella yang mematung di depan pintu.


...❤️🤍...


Aku bawa cerita bagus lagiii



Blubr:


21+


Menjadi penghangat ranjang lelaki beristri tega Retha lakukan demi mendapatkan uang. Hubungan yang awalnya sebatas saling membutuhkan lambat laun menumbuhkan cinta.


Ketika cinta mulai bersemi di antara mereka, istri Bara yang telah lama pergi tiba-tiba kembali. Apa yang akan Retha lakukan menyadari posisinya sebagai orang ketiga dalam rumah tangga Bara dan Silvia?

__ADS_1


__ADS_2