
"Saat kamu minta cerai ... aku ga suka aja dengernya."
"Jadi maunya harus mas Alex gitu yang minta cerai??"
"Ya ga juga, Nuuum. Cuman waktu kamu tantang aku minta pisah, aku ga rela dan jadi emosi dengernya. Apalagi si teman sok gantengmu itu tebar-tebar pesona terus." Suara Alex sedikit meninggi terbawa emosi.
"Mas Arthur memang ganteng kok."
"Ow."
"Mas Alex juga ganteng," ucap Hanum cepat saat menyadari ada yang salah dari pendapatnya.
"Tapi dia lebih ganteng?"
"Gaaa, mas Alex jauh lebih ganteng." Sekarang posisi berbalik, Hanum yang merayu suaminya yang merajuk.
"Tapi kamu puji dia ganteng, aku ga pernah kamu puji."
"Mas Alex ganteng, tampan, manis. Ga pernah puji secara langsung kan bukan berarti ga mengakui kalo ganteng." Hanum memeluk dan bergelayut di badan Alex.
"Sakiiitt!" Alex merintih saat jahitan di dadanya terkena lengan Hanum.
"Maaf." Hanum mengecup luka di dada Alex.
"Kurang." Mata Hanum memicing saat nada suara suaminya menyiratkan sesuatu.
__ADS_1
"Mau ditambah apaan?"
Kedua sudut bibir Alex terangkat mendengar pertanyaan Hanum yang baginya seperti menawarkan sesuatu.
"Nengokin si kecil boleh? ... ini," ujar Alex karena melihat Hanum tidak mengerti dengan maksudnya. Sembari tanganya mengusap-usap perut istrinya.
"Mmm, ga apa-apa. Pegang aja, tapi kan masih kecil banget." Hanum ikut mengusap perutnya sendiri.
"Dari dalem maksudnya." Alex lebih memperjelas lagi keinginannya.
" ... Bercinta Hanum," ucap Alex akhirnya karena merasa Hanum tidak kunjung paham kode yang diberikan.
"Mana bisaaa, kan lagi sakit. Gimana cara naik turunnya coba."
"Ya kamu yang naik turun." Alex mengedipkan sebelah matanya seraya menunjuk ke arah inti tubuhnya.
"Kan kamu pernah sekali, sudah langsung pinter lagi. Aku suka ... yuk." Alex menarik tubuh Hanum agar berada di atas tubuhnya.
"Malu tau jangan diingatkan lagi ... seperti ini?" Hanum melihat ke arah bawah tubuhnya. Ia merasa sedikit aneh dan kurang nyaman sebenarnya.
"Iyaa ... gerak aja senyaman kamu," ucap Alex dengan suara yang mulai memberat. Lama-kelamaan Hanum semakin menikmati peran yang menuntutnya lebih mendominasi malam ini.
"Tunggu sebentar," ujar Alex tiba-tiba.
"Kenapa? ga enak ya?"
__ADS_1
"Enak, tapi part ini harus ditutup dulu. Kasihan yang baca."
...❤...
Sementara itu di dalam kamar, Jonathan masih menimbang-nimbang antara pengeluaran dan kebutuhannya.
Ponselnya sudah terbuka dengan nama Jamilah di layarnya. Ia siap menghubungi gadis susu itu untuk dijadikan asistennya. Ia tidak bisa memanggil Jamilah melalui department personalia, karena gaji asistennya berasal dari kantong celananya sendiri.
Jonathan juga malas beradaptasi dengan orang baru jika harus memilih dari salah satu kandidat pelamar yang lain selain Jamilah. Setidaknya dengan gadis susu itu, ia sudah pernah saling berbicara panjang lebar. Selain itu Jonathan paling suka memandang sinar matanya yang berbinar seakan bisa berkata-kata.
"Ha-halo ... dengan Jamilah?" Akhirnya Jonathan mencoba menghubungi gadis susu itu. Ia merendahkan nada suaranya agar terdengar lebih wibawa.
"Iya, benar. Maaf dengan siapa?"
"Saya pimpinan dari PT. Pesona Ragam Lahan, kemarin kita sudah sempat berbincang."
"Aah, iya Pak. Bagaimana, Pak ada yang harus saya lakukan?" Suara gadis susu itu terdengar bersemangat sekali.
"Besok jam delapan datang ke kantor, langsung menemui saya ya."
"Baik Pak, terima kasih banyak." Terdengar gadis susu itu berbicara sembari melompat-lompat kegirangan.
"Eh, satu lagi ... sebelum masuk ke kantor saya minta tolong, belikan satu nasi bungkus lauknya telor balado. Nanti uangmu aku ganti ... kamu ada uang kan?"
"Ada Pak ... ada kalau untuk beli nasi bungkus."
__ADS_1
"Oke, sampai ketemu besok pagi." Jonathan memutus sambungan teleponnya dengan lega. Ia hanya perlu memikirkan bagaimana bisa menjual satu unit rumah dan menghafal semua tentang perusahaan tanpa perlu membaca.