
Begitu pintu lift terbuka, sekretaris cantik berambut sebahu sudah menyambutnya, "Ibu sudah di tunggu Bapak di dalam, silahkan." Sekretaris itu membukakan pintu ruang kerja Pak Eko.
"Terima kasih," ucap Hanum menunduk sopan.
Hanum berjalan masuk dan berdiri di tengah-tengah ruangan. Langkahnya sempat terhenti saat melihat Ane duduk di depan meja Pak Eko. Hanum sama sekali tidak mengira jika wanita genit itu ikut hadir siang ini.
"Silahkan duduk, Hanum." Pak Eko membuka kacamata lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
"Bagaiman kabarmu, Hanum?" sapa Pak Eko berbasa-basi.
"Baik," sahut Hanum singkat.
Ia melirik wanita yang duduk di sebelahnya. Ane masih setia dengan busananya yang minim dan ketat. Wanita itu seolah tak acuh akan kedatangannya. Sejak Hanum datang dan duduk di sampingnya, Ane hanya sibuk dengan hiasan kuku di jemarinya.
"Syukurlah jika baik-baik saja. Kamu tentu rindu dengan keluargamu di panti, bukan begitu Hanum?"
"Apa yang harus saya lakukan," tembak Hanum langsung.
"Hehehe, kamu orangnya ga sabaran sekali. Saya akui kamu orangnya pemberani dan sigap, buktinya kamu berhasil mengelabui Alex dan keluarganya sampai bisa menjadi menantu Pak Beni, konglomerat itu," ujar Pak Eko sinis. Ane yang duduk di sampingnya pun ikut tertawa sinis.
"Di mana keluarga saya?" tanya Hanum tak sabar.
__ADS_1
"Mereka aman dan sehat. Kamu jangan khawatir." Pak Eko memperlihatkan beberapa foto adik-adik pantinya.
Hanum mengamati foto-foto yang ada di tangannya, sekilas tidak ada yang aneh dalam foto tersebut. Namun Hanum merasakan ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah adik-adik pantinya. Sejak bayi dan balita Hanum membantu Ibu Anita merawat mereka, jelas Hanum sangat mengenal mimik wajah mereka.
"Mereka ada di mana sekarang? Mana Ibu Anita, saya tidak melihat Ibu saya di foto manapun?" Hanum membolak balikan lembaran foto dengan panik.
"Tenang Hanum, jangan buru-buru. Kita ngobrol santai dulu, oke?"
"Saya mau ketemu mereka sekarang, Pak," pinta Hanum setengah memohon.
"Kamu ingin segera bertemu mereka, berarti kamu juga sudah tahu apa yang harus kamu lakukan?"
Hanum terdiam. Ia mengingat saat datang ke panti bersama dengan Alex, ada nomer yang tidak dikenal menghubunginya. Hanum terkejut saat sahabat Papa Alex itu yang menghubunginya, entah dari mana pria itu mendapat nomernya.
Pak Eko meminta Hanum merahasiakan pembicaraan mereka di telepon, jika Hanum ingin tahu di mana keluarga pantinya berada dan segera menemuinya di kantor seorang diri.
Walau dengan berati hati, ia terpaksa mengikuti alur permainan Pak Eko. Ingin rasanya berbagi dengan pria yang sekarang menjadi suaminya itu. Namun perasaan bersalah masih menggelayuti hatinya.
Ia semakin yakin jika apa yang terjadi pada keluarga pantinya semua akibat keegoisannya. Hanya karena obsesinya pada Alex, Ibu Anita dan adik-adiknya yang tidak tahu apa-apa harus susah karena perbuatannya.
"Tapi tidak bisa secepat itu," ucap Hanum pelan.
__ADS_1
"Kenapa ga bisa?" Ane menoleh pada Hanum dengan tatapan sinis, "Kamu kira Alex sudah tergila-gila gitu sama kamu? mimpi!" Hanum tetap diam meski ingin menjawab ejekan Ane, karena saat ini fokusnya hanya satu. Ibu dan adik-adik pantinya.
...❤❤...
Follow
IG : Ave_aveeii
Halaman FB : Cerita Aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
__ADS_1
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰