CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Selamanya tetap saudara


__ADS_3

William mulai mencari nama di daftar ponselnya lalu mulai menghubungi orang yang ia tuju. Jonathan menunggu penuh harap dengan dagu masih diletakan di atas meja William.


"Haloo." Suara gadis ceria, terdengar di seberang ponsel William.


"Sibuk ga, Mola?" tanya William sembari menyalakan pengeras suara di ponselnya.


"Maura?" tanya Jonathan dengan gerakan bibirnya. William memberi kode dengan anggukan kepala.


Jonathan langsung menegakan tubuhnya. Hubungannya dengan adiknya yang beda ibu itu, seperti anjing dan kucing yang tidak pernah rukun jika bertemu. Terlebih Jonathan sering mendekati dan memberi harapan pada teman-teman wanita Maura, tapi tidak ada satupun yang ia anggap serius. Sehingga membuat hubungan Maura dan beberapa teman wanitanya merenggang.


"Biasa aja, kenapa? tumben nanyain," sahut Maura dari seberang sana.


"Ada yang butuh bantuanmu." William mengabaikan Jonathan yang terus melambaikan tangannya. Memintanya untuk tidak membicarakan kesalahannya pada adik perempuan mereka.


"Siapa?"


"Jo," sahut William. Jonathan langsung menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tak sanggup mendengar cercaan adik perempuannya itu.


"Haissh, kenapa lagi dia?"


"Datang ke kantor sekarang, Dek. Kita ngobrol sama-sama di sini," putus William.


"Kenapa harus minta bantuan dia sih, Will?" tanya Jonathan setelah William menutup ponselnya.


"Harus. Kamu tahu sendiri Maura itu 'kan pintar buat denah, dia juga jago arsitektur bangunan. Satu lagi yang paling penting, dia bisa jadi tameng kalo Kak Alex dan Om Beni marah," papar William.


Jonathan mengangguk-angguk, ia akui jika papa dan Alex jauh lebih sabar menghadapi Maura ketimbang dirinya.


Setelah upaya rayuan dan sogokan ditawarkan oleh William, Maura akhirnya menyanggupi permintaan untuk datang ke kantor.


Saat Maura datang, segala sajian makanan favorite adik perempuan mereka sudah siap di atas meja tamu William.

__ADS_1


"Halo cantik," sapa Jonathan gugup. Maura tidak membalas sapaan Jonathan, ia hanya menaikan sudut bibir atasnya saat melewati kakaknya itu.


Usia Jonathan dan Maura yang hanya selisih tiga tahun membuat keduanya kerap kali bertengkar sejak kecil. Maura yang sehari-hari tinggal bersama mamanya, mempunyai jadwal khusus tiap bulan menginap di rumah ayah kandungnya yaitu Pak Beni.


Selama menginap di rumah ayahnya, Jonathan selalu merasa tersaingi dengan kehadiran Maura. Ia jadi merasa bukan hanya dia satu-satunya anak paling kecil di rumah yang selalu mendapatkan hak istimewa dari kedua orang tua dan kakaknya.


Semua untuk Maura, semua karena Maura. Papa dan Mamanya sangat memanjakan adik perempuannya itu jika Maura menginap di rumah. Alex pun saat masih kecil pernah dengan polosnya mengatakan lebih enak punya adik perempuan, dari pada adik laki-laki yang sulit diatur dan dengan teganya menyarankan pada kedua orang tuanya untuk menjual dia pada orang lain.


Walaupun setelah dewasa ini ia tahu jika perkataan kakaknya itu hanyalah ungkapan tidak serius karena mereka masih kecil, tapi rasa kesal dan sakitnya diabaikan masih saja terasa.


"Pasti masalah cewek," ucap Maura tanpa menunggu penjelasan kedua kakaknya.


"Bukan. Ini sedikit serius." William mulai menjelaskan pada Maura sejak awal kebodohan Jonathan hingga tentang kehadiran Stella.


Selesai William bercerita, Maura sudah menghabiskan lima potong pizza dan sebuah burger dua tumpuk.


"Lalu?"


"Em ... ada ide ga buat pembangunan tanah di hilir," ucap Jonathan pelan.


"Wiiih, kamu pinter Mola," puji Jonathan tulus.


"Emang aku pinter," sahut Maura angkuh, "Dananya ada ga?"


"Ya, dananya dari investor satu-satunya Pak Gunawan itu. Masalahnya, aku tuh seperti dibeli aja untuk anaknya," keluh Jonathan.


"Ya jual lah kalau dibeli," sahut Maura ringan.


"Tega kamu," ucap Jonathan sedih.


"Jonathan bilang dia sudah punya pacar, Mola," ujar William.

__ADS_1


"Biasanya juga punya pacar, cuman beda di bertahan berapa lama aja," timpal Maura.


"Beda ini, katanya serius," jelas William membela Jonathan.


"Beneran serius atau hanya karena menghindari Stella?" tuduh Maura.


"Katanya sih serius." William yang menjawab sedangkan Jonathan tetap diam menyaksikan kedua saudaranya itu membicarakan masalahnya.


Ia khawatir kalau ikut berbicara, lalu terjadi perdebatan dengan Maura dan menyebabkan adiknya itu urung membantunya. Pasalnya benar kata William, Maura merupakan tameng jika ia harus menghadapi kemarahan papa dan kakaknya.


"Jadi penasaran, aku kenal ga?" ucap Maura seraya mengerling ke arah Jonathan.


"Gak. Kalian berdua ga ada yang kenal" sahut Jonathan pelan. Ia belum ingin kedua saudaranya ini tahu tentang Jamilah, apalagi William. Biarlah mereka konsentrasi membantu masalahnya dulu.


"Oke, kita kembali ke topik semula. Berarti soal dana tidak ada masalah meski itu masih menggunakan dananya Om Gunawan. Satu-satunya cara kalau kamu ga mau berhadapan dengan Om Beni dan Kak Alex, kamu harus mengikuti permintaan Om Gunawan ... stop-stop jangan menyela." William mengarahkan telapak tangannya ke depan wajah Jonathan saat pria itu siap melayangkan protes.


"Om Gunawan 'kan ga minta kamu nikahi Stella? dia cuman minta kamu temani dan jangan kasar. Kalau Om Gunawan kesal dan kecewa lalu ia tarik dana investasinya, kamu mau ganti pakai apa? proyek yang sudah setengah berjalan kamu bayar pakai apa?"


Jonathan melepaskan dua kancing kemejanya yang teratas, ia merasa sesak dengan pertanyaan William. Bagaimana bisa ia mengganti dana milik Om Gunawan kalau sekarang saja ia masih berstatus karyawan dan digaji dari perusahaan milik papanya sendiri.


Kalaupun ia jujur pada papa dan kakaknya lalu meminta tolong untuk menutup penggantian dana investasi milik ayah Stella, apa ia tega jika perusahaan yang di bangun oleh papanya harus kolaps hanya gara-gara keputusan konyolnya? Mungkin saja papanya memilih langsung melamar Stella untuk ia nikahi dari pada harus mengganti dana milik Om Gunawan.


"Kamu cuman cukup bersikap baik, ramah sama Stella. Selama itu kita harus bergerak cepat menjalankan proyekmu di daerah hilir sana, supaya kamu bisa segera mengganti dana investasi pembangunan Om Gunawan."


"Berapa lama?" bisik Jonathan lirih.


Maura dan William saling berpandangan lalu kembali menatap Jonathan dan serempak mengangkat kedua bahunya. Hal itu membuat Jonathan kembali meraung.


"Kita baiknya kesana dulu, Kak Jo untuk lihat lokasi baru bisa merancang pembangunan selanjutnya," ucap Maura.


"Bener. Sekalian urus perijinan dengan warga sekitar," timpal William.

__ADS_1


"Atur aja lah, buntu otakku." Jonathan kembali meletakan kepalanya di atas meja William.


...❤🤍...


__ADS_2