CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Kanaya beraksi 1


__ADS_3

“Ingat, kamu harus selalu tersenyum, bersikap mesra tapi tetap harus anggun.” Jonathan berbisik pada Kanaya yang duduk disampingnya. Gadis yang tahun ini baru genap berusia 19 tahun itu hanya mencibirkan bibir, mengejek teman kakaknya dengan kesal.


Sepanjang perjalanan menuju tempat kerja pacar Jonathan, ia sudah kenyang dengan petuah, peringatan dan ancaman yang diucapkan Jonathan. Sekarang sudah duduk berdua di dalam restoran, ia masih saja harus terus mendengar ocehan Jonathan.


“Kak, yakin cewek Kak Jo nanti cemburu? Kalau cuek aja gimana?”


“Makanya aktingmu harus meyakinkan. Berhasil atau tidaknya itu semua tergantung sama kamu.”


“Iiiih, kok aku. Kalau dia cemburu terus malah menjauh gimana? Kak Jo, ga seperti ini caranya biar cewek itu mau kembali sama cowoknya, yang ada cewek Kak Jo nanti tambah ga suka atau malah benci,” ujar Kanaya memberi saran.


“Tahu apa kamu soal hubungan antara laki perempuan. Kalau masih main sama boneka barbie, ga usah sok-sokan kasih saran,” ledek Jonathan.


“Yang mana sih cewek, Kak Jo?” tanya Kanaya sembari menebarkan senyum manis di tiap pelayan restoran yang melewati mereka.


“Tunggu sebentar, pokoknya yang paling manis dan cantik,” ujar Jonathan seraya memanjangkan lehernya. Hatinya berdegub kencang tiap pintu karyawan yang menghubungkan dalam restoran dan dapur terbuka.


“Kak, kalau ceweknya marah, aku di jambak, di permalukan, bayaranku pokoknya harus dobel,” ucap Kanaya.

__ADS_1


“Ssssttt, itu diomongin nanti.” Jonathan seraya menendang kaki Kanaya di bawah meja, “Itu yang namanya Jamilah,” tunjuk Jonathan lewat isyarat lirikan matanya. Kanaya mengikuti arah pandang mata Jonathan, seketika mulutnya ternganga lebar.


“Iiih, Kak Jo pedofil? Ceweknya itu lebih kecil dari pada aku,” tukas Kanaya.


“Ssstt, lihatnya jangan gitu amat.” Jonatahan menendang kaki Kanaya sekali lagi.


Sementara itu Jamilah sejak awal kedatangan Jonathan dan Kananya di tempatnya bekerja, sudah mengetahui keberadaan mereka. Kendra sudah membisikan kedatangan Jonathan bersama dengan seorang wanita dan Jamilah enggan keluar selangkah pun dari dapur, tapi Kendra dan Reno yang tahu tentang kisah cinta mereka berdua, menggunakan seribu satu cara agar Jamilah keluar dari dapur dan berani menghadapi masalahnya.


Jamilah mengantar pesanan pelanggan yang berada tak jauh dari Jonathan. Ia berjalan lurus tanpa menoleh, walaupun ujung matanya berusaha menangkap wajah yang ia rindukan.


“Enak,” sahut Kanaya malas.


“Kamu mau pilih menu yang lain mungkin?” tanya Jonathan dengan suara yang paling lembut. Jamilah yang berdiri di deretan kursi belakang mereka berdiri tidak sabar menanti pelanggan yang sedang memilih menu.


“Yang ini aja juga belum habis,” ucap Kanaya polos.


“Barangkali kamu mau makan yang lain, semua di sini bebas pilih. Apa sih yang ga buat kamu," ucap Jonathan. Kanaya memutar kedua bola matanya mendengar ucapan gombal Jonathan yang terdengar receh untuk memanas-manasi kekasihnya.

__ADS_1


“Bener, nih?” Kanaya tersenyum penuh arti, “Mba, saya mau pesan.” Kanaya memanggil Jamilah yang baru selesai mencatat pesanan pengunjung yang lain.


“Nanti dibantu sama rekan saya,” ucap Jamilah memaksakan senyumnya.


“Sama Mba nya aja, yang lain sepertinya masih repot,” ujar Kanaya setengah memaksa. Jonathan mencolek-colek lengan Kanaya kesal. Memang niatnya memanas-manasi Jamilah, tapi tidak harus dipanggil seperti itu juga.


“Baiklah, mau pesan apa?” Jamilah menyodorkan buku menu yang sejak tadi ia dekap. Ia berusaha menjaga gerak bola matanya agar tidak mengarah ke sosok di samping gadis berwajah imut itu.


“Mmm, menurut Mba menu apa yang paling laris dan enak di restoran ini?” tanya Kanaya. Diam-diam ia mengamati wajah wanita yang sudah membuat sahabat kakaknya ini blingsatan. Diakuinya wanita yang sedang berdiri memegang kertas menu dan pensil untuk mencatat itu, sangat mempesona.


Wajahnya yang khas Indonesia, hampir tidak ada sapuan make up di kulitnya yang bersih. Rambutnya yang hitam lurus di gulung rapi keatas. Sorot mata yang teduh dan nada suara yang halus menarik perhatian Kanaya. Dalam hati ia mengakui pilihan hati Jonathan sangatlah tepat. Wanita itu terlihat sangat sabar dimatanya dan sangat serasi jika berdampingan dengan sahabat kakaknya yang selalu mengedepankan emosi.


...❤️🤍...


Mampir ke karya temanku ya


__ADS_1


__ADS_2