CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Undangan kecil


__ADS_3

Siang harinya Jonathan menepati janji sudah siap berada di depan restoran tempat Jamilah bekerja. Lima belas menit setelah jam kerja Jamilah berakhir, gadis itu tampak keluar dari pintu belakang restoran dengan senyum cerianya.


"Hai." Begitu Jamilah mendekat, Jonathan dengan sigap keluar dari mobil dan membuka pintu untuk wanita yang baru sehari menjadi kekasihnya itu.


"Hai," sambut Jamilah malu-malu, "Kita mau kemana?" tanya Jamilah setelah keduanya berada di dalam mobil.


"Emmm, yang rahasia ditunda nanti malam ya. Ini kita ke rumah dulu, Mama mau buat syukuran kecil untuk kandungan Hanum yang baru masuk tiga bulan," jelas Jonathan sembari mengarahkan mobilnya keluar dari area parkir.


Sampai di kediaman keluarga Prasojo, Jamilah disambut Hanum yang sedang duduk di teras bersama dengan suaminya.


"Milaaahh." Hanum merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dan memeluk erat bagaikan sahabat lama. Jamilah menyambut pelukan istri atasannya itu dengan agak canggung, "Masuk yuuk, Milah." Hanum berjalan masuk ke dalam rumah mendahului Jamilah dan Jonathan.


"Jangan kaget ya, istrinya Kak Alex itu dari dulu memang agak aneh ora---" Jonathan menghentikan bisikannya pada Jamilah, saat sikut Alexander bersarang di pinggangnya.


"Naah, sudah pada lengkap semuanya. Langsung makan yuk." Bu Devi menyambut mereka di ruang makan sedangkan Pak Beni sudah duduk di ujung meja.


"Eh, saya jadi ga enak Bu ini kan acara keluarga."


"Ga apa-apa, kita ini cuman mau syukuran sederhana aja, Milah. Ayo Jo ajak Jamilah duduk, kita makan sekarang. Mamamu ga bolehkan Papa nyentuh sendok nasi sebelum semuanya ngumpul," keluh Pak Beni.

__ADS_1


Perhatian semuanya teralihkan saat terdengar suara mesin mobil masuk ke pekarangan rumah. Serempak semuanya menoleh dan saling berpandangan.


"Mama undang siapa lagi?" tanya Alex.


"Ga ada." Mama Jonathan mengernyit dan menggeleng bingung.


"Permisiiiii." Suara tinggi yang melengking terdengar dari arah ruang tamu.


"Duh! ngapain kecoa terbang itu kesini?" Jonathan sudah mulai tidak tenang.


"Suruh masuk, Jo," perintah Papa.


"Ngapain di suruh masuk, kita diam aja pura-pura ga ada orang di rumah," ujar Jonathan dengan suara berbisik.


"Waah, lagi pada ngumpul." Stella terpekik senang saat Mama Jonathan mengajaknya untuk ikut bergabung di meja makan.


"Syukuran kecil keluarga aja," sahut Mama singkat.


"Syukuran keluarga kok ada orang asing sih, Tante?" Stella menunjuk ke arah Jamilah.

__ADS_1


"Kamu tuh yang orang asing," sembur Jonathan pedas.


"Iiih, Jonathan tuh selalu kasar sama aku, Tan," rengek Stella mengadu pada Mama Jonathan.


"Udah, udaah. Bisa ga kita mulai makan sekarang, Papa laper," ucap Papa dengan wajah memelas.


Stella menarik tempat duduk kosong tepat di sebelah Jamilah lalu berbisik, "Geser aku di sebelah Jonathan."


Jamilah yang sudah akan berdiri, tangannya ditahan oleh Jonathan, "Sudah aku bilang, kamu dilarang jauh dari aku," bisik Jonathan tegas. Jamilah pun urung berdiri.


Stella yang merasa kesal permintaannya diabaikan oleh Jamilah dan Jonathan, mulai memikirkan cara agar Jonathan sedikit memperhatikannya.


"Om, Jo ini hebat loh ternyata. Kata Papa aku, Jo kompeten sekali mimpin proyek di daerah hilir sana," ujar Stella di tengah-tengah makan bersama.


"Proyek apa?" Mata Papa Jonathan dan Alex memicing ke arah Jonathan.


"Ee, itu proyek mmm ... baru rencana, Pa lagi survey," ucap Jonathan tergagap.


"Masak sih, kata papa aku ...." Stella menghentikan ucapannya setelah Jonathan menendang kakinya di bawah meja.

__ADS_1


Jantung Jonathan berdegup, nasi yang masuk ke dalam mulutnya seakan tidak mau turun ke kerongkongan. Ia sangat takut sekali jika Papa apalagi kakaknya tahu, ia sembrono mengambil keputusan yang jelas-jelas sudah ditolak oleh mereka.


...❤🤍...


__ADS_2