
"Hahahaha ... ha ... ha ... ha ...." Jonathan yang awalnya tertawa keras perlahan menyurutkan suara tawanya saat menyadari ternyata hanya dia yang menganggap perkataan Papanya menggelikan.
"Kok Papa sama Kak Alex lihat aku seperti itu ?" tanya Jonathan kikuk dengan pandangan keduanya.
"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Papa balik dengan wajah datar.
"Ya itu hadiah buat Jamilah masak cincin kawin hehehe ...." Jonathan kembali terkekeh.
"Hadiah yang bagus." Alex menimpali dengan kepala terangguk.
"Ga lucu, ah!" Jonathan mulai gerah dengan pembicaraan membahayakan itu.
"Memang ga lucu, lalu kenapa kamu tertawa?" balas Papa.
"Papa juga aneh, masak iya aku hadiahkan Jamilah cincin kawin. Perhiasan boleh lah, tapi bukan cincin kawin dong," tolak Jonathan.
"Ow ya udah kalo kamu keberatan, Papa juga hanya menyarankan toh tadi. Kamu ga mau ya juga ga apa-apa. Papa lihat, kamu dan Jamilah itu cocok dan saling melengkapi. Jamilah juga anak yang baik, cantik, beda jauhlah sama siapa itu teman-teman cewekmu. Sangking banyaknya Papa sampai ga hafal satupun namanya." Papa menggelengkan kepalanya.
"Bella, Cindy, Mauren, Alicia, Marsha, Jesi---"
"Sudah ga usah disebutin, bisa sampai malam kita disini kalau kamu rinci satu-satu kenalan cewekmu," potong Alex kesal.
__ADS_1
"Iya yang baru kenal cewek seumur hidup cuman dua biji," sindir Jonathan yang langsung mendapatkan tatapan mengancam dari sang Kakak.
"Atau mungkin kamu mau cari pasangan seperti cara Alex? Papa masih ada kenalan yang punya anak ga----"
"Oww, jelas tidak perlu. Papa tahu aku handal dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis, jadi tidak perlu dibantu seperti Kak Alex hehehe ...." Jonathan memberikan lirikan setengah mengejek.
"Bagus kalo gitu. Jadi Papa bisa ijinkan anak Papi Raymond yang mendekati Jamilah."
"Anak Papi Raymond siapa? si William??"
"Iya, siapa lagi? anak yang laki kan cuman satu," sahut Papa santai.
"Kok Papa main ijinkan gitu sih. Jamilah itu asistenku loh, Pa. Kenapa ga bilang sama aku dulu??" Jonathan mulai tidak tenang.
"I-iya hehehe ...." Jonathan tertawa namun semakin canggung, tapi begitu selesai tertawa sudut bibirnya turun begitu saja.
"William memangnya bilang mau sama Jamilah?" tanya Jonathan dengan pandangan sedih.
"Papi Raymond yang kemarin bilang, William cerita ada pegawai baru di kantor kita dan dia tertarik. Inisiatif aja dari Papi Raymond ingin mendekatkan William dengan Jamilah, karena Papa juga bilang kalo Jamilah itu anaknya baik, rajin cocok untuk anak-anak yang badung macam kalian berdua."
"Ow." Jonathan menundukan kepala, "Tapi 'kan belum tentu Jamilah mau sama William," ucap Jonathan menghibur diri.
__ADS_1
"Gampang itu, nanti Papa kasih tahu Jamilah biar dia ga kaget kalo William deketin," ujar Papa sembari berdiri dari kursi dan berjalan keluar ruangan.
"Eh, Papa mau kemana?" Jonathan menghadang langkah Papanya.
"Kamu kenapa sih?!"
"Papa mau kemana??" ulang Jonathan seraya membentangkan kedua tangannya menghalangi Papanya yang sudah hampir sampai di pintu.
"Ke kamar kecil, mau buang air! kenapa mau ikut??" Papa membesarkan bola matanya kesal.
"Ow, silahkan kalo gitu." Jonathan membukakan pintu untuk Papanya. Perhatian Jonathan beralih pada Alex yang tertawa di kursinya.
"Apa yang lucu?" tanyanya kesal.
"Ga ada." Tawa Alex lenyap dengan cepat beralih dan ke wajah datarnya lagi, "Aku balik ke ruangan dulu. Eh, Jo ... jaman sekarang bidadari tuh datang ga selamanya pakai sayap yang indah seperti kupu-kupu, tapi seringkali datang seperti nyamuk yang berisik dan mengganggu." Alex menepuk bahu Jonathan sebelum keluar dari ruangan.
Sejenak Jonathan duduk kembali dan mencoba mengingat kembali percakapan dengan Papanya. Ia memang suka jika Jamilah berada di dekatnya, tapi untuk menikah? Jonathan menggelengkan kepalanya keras.
Kalau saja tidak ada cerita tentang William yang akan mendekati Jamilah dan sudah disetujui oleh para orang tua, ia tidak akan galau seperti ini.
...❤🤍...
__ADS_1
Mampir sini yuk, kisah cewek SMU yang sempat prank Jonathan dan William