CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Papa Mama


__ADS_3

"Kenapa sudah pulang?" tanya Papa heran saat melihat putra sulungnya sudah duduk setengah berbaring di sofa depan televisi.


"Anakmu ngotot minta rawat jalan, jadi nanti ada suster yang dateng tiap hari untuk ganti perbannya," ujar Mama dengan nada sedikit jengkel. Sementara yang dibicarakan hanya memandang lurus ke arah televisi pura-pura tidak mendengar.


"Papa sudah pulang, Hanum buatin teh ya," ucap Hanum yang baru datang dari arah dapur membawa satu cangkir teh hangat untuk suaminya.


"Ga usah, nanti bisa buat sendiri. Papa bukan laki-laki manja," sindir Papa Alex. Sekali lagi yang dibicarakan tetap tak bergeming seolah tuli.


"Sudah sore, Mas Alex kalau mau mandi aku bantu usapin badannya ya. Aku udah nyalain pemanas air di kamar mandi," ucap Hanum setengah berbisik. Alex baru menunjukkan responnya, ia menoleh dan tersenyum senang.


"Aku kok jadi malu ya lihat Alex seperti itu?" ujar Papa setengah berbisik juga seraya memperhatikan Alex yang berjalan dengan bersandar di tubuh Hanum.


"Kok malu gimana sih?! justru Papa harus senang Alex bisa berubah, sekarang sudah lebih mirip manusia yang hidup, ga kayak robot lagi," tukas Mama.


"Hhhh, iya aku ga bisa bayangkan kalau Ane yang jadi nikah sama Alex." Pak Beni menggelengkan kepalanya, "Dia ternyata wanita bayarannya Pak Eko, bukan keponakannya."


"Maksud Papa si Ane itu dibayar untuk pura-pura jadi keponakannya Pak Eko terus nikah sama Alex gitu?"


"Lebih dari itu. Dia wanita simpanan, ga ada sama sekali hubungan keluarga dengan Pak Eko."

__ADS_1


"Astagaa! aku pikir dia cuman licik aja tapi ... hhiiiihhh, ngeri sekali kalo dia hamil itu jadinya anak siapaaa?!" Mama Alex bergidik membayangkan jika Ane yang akan menjadi menantunya.


"Aku kasihan sekali lihat istri dan anaknya di kantor polisi tadi. Sudah gitu Pak Eko dan wanita iblis itu ga terima dengan penangkapannya, mereka berdua masih aja marah-marah di kantor polisi. Terang-terangan mau bayar semua polisi yang ada di sana kalau dia dilepaskan," papar Papa Alex sembari tertawa miris.


"Kok ada orang model gitu. Syukurlah Alex dilindungi dari jerat mereka berdua. Tinggal satu nih tugas kita, anak bungsumu itu masih suka mainin anak cewek. Aku takut dia kena karma," keluh Mama.


"Masih muda, Ma. Biar aja, semakin banyak dia kenal cewek, dia bisa menilai yang terbaik untuknya. Biar aja puas-puasin memilih sekarang asal jangan sampe memilih setelah menikah."


"Kayak sapa?" Mama mengerling sinis.


"Siapa?? Papa? jelas beda, Papa dulu bukan memilih tapi mau nambah," sahut Papa ringan.


"Kamu kenapa, Jo?" tanya Mama heran melihat putra bungsunya yang tidak seperti biasanya.


"Ga ada apa-apa," ucap Jonathan malas.


"Paling ditolak cewek," sahut Papa. Jonathan mendengar celetukan Papanya hanya menghela nafas panjang dan semakin menunduk lesu.


"Tuh, baru juga dibicarakan. Ada apa lagi dengan anak itu," ucap Mamanya khawatir.

__ADS_1


"Biar aja, sudah besar juga. Eh, mana Ibu Anita sama anak-anak?" Papa menoleh ke sekitarnya menyadari suasana rumah yang sepi.


"Mama sewakan rumah di blok sebelah untuk satu bulan, sambil nunggu panti di renovasi. Lagian ini masanya libur sekolah, jadi biar aja anak-anak ngerasain liburan di kota."


"Kenapa ga tinggal di sini aja, jadi sepi kalau ga ada mereka."


"Bu Anita yang merasa ga enak kalau harus tinggal di rumah ini. Lagian ada Mama masih aja ngerasa sepi." Mama bergeser mendekat ke arah Papa.


"Hehehee, berani godain berarti siap pake baju dinas?" Papa terkekeh mes*um.


"Mau warna apa?" tanya Mama sembari berjalan ke arah kamar dengan gerakan menggoda.


"Warna kulit aja, Maaa," seru Papa sebelum istrinya menghilang dari balik pintu kamar.


...❤🤍...


Sekilas cerita tentang Jonathan ntar malam yaa


Sambil nunggu mampir sini yuk

__ADS_1



__ADS_2