CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Siasat


__ADS_3

"Bukan begitu, saya masih tahu diri kok. Hanya saya harus mencari alasan yang tepat." Hanum memilih mengalah agar sampai ia benar-benar yakin jika keluarga pantinya dalam keadaan baik-baik saja.


"Aku tahu cara yang paling mudah dan pasti berhasil membuat kamu ditendang jauh-jauh oleh Alex." Ane menatapnya penuh siasat. Hanum merasa sedih mendengar suaminya akan menendangnya jauh dari kehidupan keluarganya.


"Arthur," ucap Ane dengan senyum liciknya. Hanum memiringkan kepalanya masih menunggu kelanjutan dari perkataan Ane.


"Arthur siapa?" tanya Hanum akhirnya karena Ane sepertinya memang sengaja membiarkannya penasaran.


"Siapa lagi kalau bukan Arthur Gunawan, pengusaha broadcasting terkenal itu. Kamu dekat dengannya kan?" Ane menatapnya tajam.


"Ada apa dengan dia?" Hanum masih belum mengerti apa hubungan Arthur dengan pernikahannya dengan Alex.


"Alaaaah! jangan sok lugu kamu, Num." Ane mengibaskan tangannya di depan wajah Hanum.


"Aku benar-benar ga ngerti!" Pikiran Hanum benar-benar buntu sekarang, yang ada dalam pikirannya bagaimana ia bisa bertemu dengan keluarga pantinya. Itu saja tak lebih untuk saat ini.


"Jalin hubungan dengan Arthur, dengan begitu Alex pasti akan melepaskanmu dengan sukacita." Ane kembali memasang senyum liciknya.


"Arthur dan saya hanyalah rekan kerja, mana mungkin punya hubungan sep---"


"Maka itu buatlah hubungan! goda kek, rayu kek, terserah kamu! sama Alex aja genit ngejar-ngejar kayak wanita murahan. Masak seperti ini aja harus diajari," sergah Ane sinis.

__ADS_1


Jika dalam kondisi normal, mungkin Hanum akan menampar, mencakar serta menarik rambut pirang wanita iblis itu. Tangan Hanum terkepal menahan emosinya.


Sejenak kemudian ia tersadar jika apa yang dikatakan oleh Ane itu ada benarnya. Ia sama saja dengan wanita yang duduk di sampingnya ini, mengejar pria hingga menghalalkan segala cara.


Perlahan kepalan tangannya mengendur. Ia terus berbicara dalam hati dan menghibur dirinya sendiri, jika semua akan berlalu dan baik-baik saja.


"Hanum, maaf kalau kami terkesan memaksamu, tapi satu hal yang harus kamu sadari. Kami tidak merebut milikmu, tapi kami mengambil kembali yang seharusnya menjadi milik kami," ujar Pak Eko.


"Baiklah. Beri saya waktu dan biarkan saya melakukan semuanya dengan cara saya sendiri," ucap Hanum dengan suara tercekat. Sesungguhnya ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


"Jangan lama-lama," ujar Ane seraya kembali fokus dengan kukunya.


"Tapi bisakah saya ketemu dengan mereka?" tanya Hanum kembali memohon seraya mengusap foto-foto yang ada di atas meja.


"Kenapa diambil?, biarkan saya yang menyimpannya," protes Hanum.


"Dan membiarkan kamu menceritakan semuanya kepada Alex dan keluarganya? saya ga bodoh, Hanum. Ingat, kamu tidak ada bukti apapun untuk menuduh saya. Saksi di kampungmu mengatakan, mereka keluar sendiri dengan sukarela dari panti." Pak Eko kembali duduk dan bersandar di kursi besarnya.


Hanum kembali lemas mendengar penjelasan Pak Eko yang semakin menyudutkannya.


"Sudahlah, Hanum. Cara yang di sampaikan Ane tadi itu paling bagus dan cepat."

__ADS_1


"Saya permisi dulu." Hanum berdiri dari duduknya. Pak Eko menganggukan kepala sedangkan Ane tampak tak peduli. Saat menutup pintu, sekilas Hanum melihat pemandangan yang tak biasa di antara Ane dan Pak Eko.


...❤❤...


Follow


IG : Ave_aveeii


Halaman FB : Cerita Aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕

__ADS_1


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


__ADS_2