CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Rahasia kita


__ADS_3

"Maukah kamu menemani Stella, Jo?" Pertanyaan Papa Stella membuat Jonathan menaruh perhatian lebih pada pria berambut putih yang duduk di depannya.


"Tentu saja saya mau, Om. Stella sahabat saya." Jonathan menegaskan kata sahabat dalam kalimatnya. Papa Stella menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Jo, kamu tahu maksud Om bantu dana proyek di tanah hilir?" Jonathan menggelengkan kepala, tapi ia merasakan firasat yang kurang baik, "Harapan Om, masa mendatang di saat Om dan Tante sudah tidak ada, kamu dan Stella dapat bersama-sama meneruskan dan mengembangkan usaha yang sudah Om bangun selama ini. Termasuk juga proyek barumu itu."


Jonathan menyipitkan matanya. Ia sudah paham arah pembicaraan Papa Stella, tapi ia memilih bertahan terlihat bodoh dulu di hadapan pengusaha besar tambang batu bara ini.


"Om jangan khawatir, saya dan teman-teman yang lain pasti akan membantu Stella," ucap Jonathan diplomatis. Papa Stella terkekeh pelan.


"Om tahu, kamu paham maksudnya." Papa Stella memandang Jonathan dalam, "Stella menyukaimu, Jo. Kamu tahu 'kan?" Jonathan tersenyum tipis, benar memang bicara dengan orang yang berpengalaman dalam kehidupan sulit untuk bersandiwara.


"Saya tahu, Om. Stella juga tidak pernah menutupinya, kami saling terbuka."


"Lantas apalagi yang harus kalian tunggu?"


"Kalau yang Om maksud saya dan Stella menjadi sepasang kekasih, saya mohon maaf tidak bisa." Jonathan menangkupkan telapak tangannya di depan dada.


"Alasannya?"


"Saya menganggap Stella sebatas sahabat, selain itu saya sudah mempunyai calon sendiri, Om." Papa Stella memandangnya semakin dalam, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya kembali sembari menundukkan kepala.


"Menyedihkan sekali ya putri Om. Menyukai seorang pria sejak dari sekolah, rela tidak mempunyai teman wanita demi dekat denganmu. Hingga dewasa cintanya masih saja bertepuk sebelah tangan. Nasibnya setelah dewasa pun kurang begitu baik, menjadi korban pelecehan seksual hingga hampir diperkosa karena ditinggal sendiri oleh pria pujaannya." Papa Stella bermonolog seolah tak ada Jonathan di depannya.


Jonathan semakin menundukkan kepalanya. Ucapan Papa Stella benar-benar menusuk hatinya sekaligus menyudutkannya.


"Saya minta maaf, Om, tapi saya belum bisa mengabulkan permintaan Om."


"Om masih punya harapan besar padamu, Jo. Kamu dari keluarga terpandang, harusnya juga mempunyai pasangan yang sepadan ya toh? Apalagi kalian berdua sudah saling kenal dari masih sekolah, tidak sulit bagi kalian membangun sebuah hubungan."


"Om ...." Jonathan sudah mulai jengah dengan pembicaraan malam ini.


"Masih ada waktu, Jo. Om sangat berharap padamu, dengan siapa lagi Om harus mempercayakan putri Om satu-satunya kalau bukan padamu?"


Jonathan menggelengkan kepalanya. Ia memilih diam lebih dulu, dari pada memancing perdebatan panjang tapi kosong. Percuma menolak untuk saat ini karena posisinya yang tidak menguntungkan.


"Pulanglah, Jo. Kamu pasti lelah." Papa Stella berdiri dari duduknya lalu berjalan masuk ke dalam kamar setelah sebelumnya menepuk-nepuk punggung Jonathan. Begitu Papa Stella tidak terlihat lagi, Jonathan langsung keluar dari pintu utama sebelum Stella memanggilnya kembali.

__ADS_1


Jonathan pulang dan masuk ke rumahnya dalam keadaan sudah gelap gulita. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Jonathan meraup wajahnya kasar, hampir sebulan ini ia pulang larut malam dan pergi di pagi buta. Selama itu juga ia hampir tidak bertemu dengan anggota keluarganya.


Kesalahan yang ia perbuat ternyata harus ia bayar dengan sangat mahal. Ia hampir kehilangan seluruh waktunya, bahkan kebebasannya pun hampir terenggut. Hubungannya dengan Jamilah sekarang menjadi taruhannya.


Jonathan menyeret kakinya yang berat ke arah dapur. Ia butuh sesuatu yang segar untuk mendinginkan otaknya. Bibirnya tersenyum saat melihat botol berisi cairan berwarna kuning dengan label bertuliskan 'Kunyit Asam Neng Hanum'. Tanpa pikir panjang ia langsung membuka penutup botolnya dan meminumnya.


"Itu pesanan orang, Jo." Jonathan memutar duduknya. Kakak iparnya sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan kedua tangan terlipat di dadanya. Rambut panjangnya yang acak-acakan, dengan daster besar membungkus perutnya yang semakin buncit terlihat semakin lucu.


"Aku bayar," ucap Jonathan pasrah.


"Ga usah, nanti aku minta kakakmu. Aku tahu gajimu banyak dipotong gara-gara sering ijin dan bolos rapat," ujar Hanum sembari menuang air ke dalam panci.


"Mau buat apa?"


"Sssttttt!" Hanum meletakkan telunjuknya di depan bibir.


"Kak Alex 'kan sudah larang makan mie instan selama hamil?"


"Dikit aja, lagi kepingin. Awas kamu jangan bilang-bilang kakak kamu loh," ancam Hanum.


"Eeh, ja---"


Kkrrrrr ... kkrrrrr Perebutan bungkus mie instan itu terhenti oleh suara dari perut Jonathan. Hanum melempar senyuman mengejek.


"Pakai telor sama sawi?" tanya Hanum setengah meledek.


"Cabe potong juga," sahut Jonathan meringis.


Selama kakak iparnya memasak mie instan untuk mereka berdua, pikiran Jonathan kembali lagi ke percakapan dengan Papa Stella.


"Jo, makan. Mikirin apa sih kamu?" Ternyata mie instan miliknya sudah sejak tadi ada di hadapannya, tapi pikirannya yang melayang membuatnya tidak melihat keberadaan mangkok di depan hidungnya.


"Ga ada," sahut Jonathan singkat. Bukan Hanum kalau tidak ingin tahu urusan orang lain. Selama makan, matanya terus menatap adik iparnya, seolah bisa membaca apa yang di pikiran Jonathan.


Jonathan yang jengah merasa dipandangi terus menerus akhirnya menyerah. Ia merasa juga harus membaginya dengan orang lain agar terasa lebih ringan.


"Oke, aku siap mendengarkan." Hanum menyingkirkan mangkoknya yang sudah kosong begitu Jonathan sudah akan mengeluarkan suara.

__ADS_1


Jonathan mulai menceritakan sejak awal ia bersahabat dengan Stella hingga ia bertemu dengan Jamilah yang mengubah segalanya. Lalu sampai tragedi yang menimpa Stella karena dirinya, dan puncaknya sekarang ia merasa di rantai oleh rasa bersalah.


"Yakin kamu tidak cinta sama Stella?"


"Yakin. Aku sayang sama Stella, hanya sebatas sahabat tidak lebih."


"Sama Jamilah?"


"Jelas cinta," sahut Jonathan tegas.


"Kalau cintanya sama Jamilah, ya jangan dilepas atau sampai terlepas. Untuk menebus rasa bersalahmu, bukan berarti kamu menyerahkan hidup secara utuh."


"Tapi arah pembicaraan Papanya ke arah sana, aku sudah tolak tapi ...."


"Kamu punya hak untuk menolak, Jo. Justru lebih merasa bersalah lagi kalau kamu memaksakan diri masuk ke dalam kehidupan Stella dan meninggalkan Jamilah. Rasa bersalahmu jadi dua kali lipat, sanggup kamu?" Jonathan menggelengkan kepala takut.


"Jadi aku harus gimana?"


"Ada satu cara agar kamu bisa bertanggung jawab sekaligus tetap mempertahankan hubunganmu dengan Jamilah."


"Apa??"


"Sini." Hanum memanggil Jonathan lebih mendekat.


"Ngapain bisik-bisik ga ada yang denger juga," protes Jonathan.


"Ah, iya." Hanum meringis, "Gini, setiap kamu datang ke rumah Stella, ajak Jamilah bersamamu dengan begitu menegaskan siapa Jamilah bagi kamu, dan Jamilah juga merasa tidak ditinggalkan," ucap Hanum tersenyum bangga.


"Bisa dicoba." Jonathan menganggukan kepalanya, "Tapi jangan cerita ke yang lainnya soal ini ya."


"Iyaa beresss, rahasia terjamin. Kamu juga ingat, jangan sampai kakakmu tahu tentang menu dinner kita malam ini."


...❤️🤍...


Aku bawa cerita baguuuss lagii


__ADS_1


__ADS_2