
Jamilah menganggukan kepala. Walau enggan, ia memilih jalan aman mengikuti kemauan Jonathan untuk sementara waktu.
"Ada perlu apa Bapak tunggu saya pulang?" tanya Jamilah setelah mereka berdua sudah berada di luar restoran.
"Ayo pulang," ujar Jonathan sembari berjalan ke arah mobilnya.
"Saya naik angkot, Pak. Sepeda saya kan parkir di terminal." Jamilah berlari kecil mengikuti langkah panjang mantan atasannya.
"Ya udah, saya antar sampai terminal," ujar Jonathan tetap berjalan lurus ke arah mobilnya.
"Maaf, Pak. Bapak kan tahu saya ga mau merepotkan siapa-siapa untuk mengantar saya pulang kecuali hujan." Jamilah bersikukuh.
Tes ... tes ... tes ... blesss
Baru saja Jamilah menolak, tetesan air mulai hujan berjatuhan. Mula-mula gerimis, semakin lama semakin deras. Jonathan tersenyum dalam hati, ia merasa semesta mendukungnya.
"Masih mau tunggu angkot?" tanya Jonathan dengan seringaian kemenangan.
Jamilah menengadahkan kepala memandang ke atas langit, seakan bertanya dari mana datangnya kumpulan awan tebal yang tadi tidak terlihat.
"Masuk," perintah Jonathan sembari membukakan pintu mobil untuk Jamilah.
Di dalam mobil, Jonathan memberikan handuk kecil yang biasa ia simpan di laci mobilnya.
"Keringkan rambutmu."
Sepanjang perjalan mereka berdua hanya terdiam. Jamilah yang bertanya-tanya maksud kedatangan mantan atasannya ke restoran, sedangkan Jonathan sibuk merangkai kata agar kebersamaannya ini tidak berlalu sia-sia.
"Setiap malam pulang jam segini?" tanya Jonathan mengawali percakapannya. Jamilah menoleh sekilas lalu mengangguk.
Jonathan menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba merasa gatal, ia mulai kebingungan mencari bahan pembicaraan.
"Kamu senang kerja di sana?"
"Senang ... di tempat Pak Jo juga senang kok." Jamilah langsung melanjutkan kalimatnya sebelum mantan atasannya itu tersinggung lagi.
"Manager tadi kayaknya suka sama kamu."
__ADS_1
Jamilah tidak menjawab, ia hanya tersenyum tipis. Pikiran Jonathan semakin terbang kemana-mana.
"Kalau dia beneran serius suka, kok kamu malah dibiarkan pulang sendirian malam-malam. Laki-laki macam apa itu." Jonathan tertawa sinis.
"Yang bilang Pak Reno suka siapa?"
"Kamu."
"Saya ga bilang apa-apa. Pak Jo yang menyimpulkan sendiri."
"Yah, saya sebagai pria tahu bagaimana laki-laki tertarik dengan wanita."
"Memangnya seperti apa kalau laki-laki tertarik sama wanita?" tanya Jamilah sembari memutar tubuhnya sedikit menghadap Jonathan.
"Mmm, yaaaa biasanya suka kasih perhatian ... membelikan sesuatu .... sering telefon atau kirim pesan." Keringat dingin membasahi telapak tangan Jonathan saat Jamilah menunggu penjelasannya.
"Ow, seperti itu. Mungkin iya juga," ujar Jamilah sembari membalikan posisi duduknya seperti semula. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya.
"Manager kamu juga suka kasih perhatian, kirim pesan sama belikan kamu sesuatu?" kejar Jonathan.
Jawaban Jamilah yang singkat itu berhasil membuat Jonathan terdiam. Dadanya terasa semakin sesak, ia merasa gelisah takut gadis di sebelahnya ini menjauh dan tidak bisa diraih kembali.
Jonathan mulai menyadari, baru ini ia merasakan takut ditinggalkan oleh seorang wanita. Jika sebelumnya wanita secantik apapun mengancam akan meninggalkan dirinya, Jonathan tidak pernah ambil pusing. Bahkan jika wanita itu benar-benar meninggalkannya, dan menggandeng pria lain di depan mata untuk membuatnya cemburu, ia juga tidak pernah peduli.
Namun ini Jamilah, gadis yang sangat biasa tidak ada kelebihan apapun di dalam dirinya. Jamilah hanya punya mata sebulat kelereng yang mampu menghipnotis Jonathan dan memporak porandakan hari-harinya.
Hujan di luar mobil semakin lebat, jalanan menuju rumah Jamilah yang belum di aspal membuat mobil Jonathan berjalan sedikit lambat.
"Tunggu, Milah. Kamu pakai ini." Jonathan menutup kepala Jamilah dengan handuk kecil agar tidak kehujanan, "Sebentar." Jonathan kembali menahan Jamilah yang sudah siap akan membuka pintu mobil, "Buat kamu." Jonathan menyodorkan paper bag kecil.
"Ini apa?" Jamilah mengintip sedikit ke dalam paper bag. Matanya membesar saat mengetahui isi di dalam paper bag itu.
"Bukanya di dalam aja." Jonathan memandang lurus ke depan, ia tak sanggup beradu tatap dengan Jamilah karena malu.
"Saya turun ya, Pak. Terima kasih sudah diantar ... terima kasih juga ini." Jamilah mengacungkan paper bag di tangannya, meskipun ia belum paham untuk apa mantan bosnya memberikan barang seperti itu, "Hati-hati di jalan." Jamilah langsung membuka pintu mobil dan berlari kecil menghindari hujan yang belum mau mereda.
Jonathan tersenyum lega seolah ada batu besar yang mengganjal sudah terangkat dari dadanya. Namun senyum itu tidak bertahan lama, saat mobilnya tidak bergerak dari tempatnya.
__ADS_1
Jonathan menekan pedal gas semakin dalam, tapi yang terdengar hanya deru suara mesin yang meraung.
"Sial! pasti ban mobil masuk ke lumpur." Jonathan melongok ke arah luar mobil. Suasana jalan sangat sepi karena hujan yang sangat lebat. Lagi pula daerah tempat tinggal Jamilah merupakan daerah pinggiran dekat tempat pembuangan akhir yang jauh dari pusat kota.
Jonathan mencoba sekali lagi menginjak pedal gas semakin dalam, dan akhirnya ia menyerah lalu memukul setir mobilnya sekuat tenaga.
Tuk ... tuk ... tuk
Jonathan menoleh ke arah kaca jendela mobil yang diketuk menggunakan kuku. Wajah Jamilah yang khawatir nampak di sana.
"Mogok?" tanya Jamilah dengan bahasa bibir karena jendela masih tertutup rapat.
Jonathan segera keluar dari mobil dan berlari memutari kendaraannya dan bergabung dengan Jamilah di bawah payung yang dibawanya.
Jonathan memperhatikan kondisi mobilnya yang ternyata separuh ban sudah terbenam di dalam lumpur.
"Harus ditarik, tapi malam gini ga ada orang, Pak." Jamilah berteriak mengalahkan deru suara hujan. Jonathan mengangguk lemas.
"Masuk dulu, Pak." Jamilah menggiring mantan bosnya itu masuk ke dalam rumah, "Saya buatkan teh ya," ucap Jamilah lalu langsung ke dapur tanpa menunggu jawaban dari Jonathan.
"Minum dulu, Pak." Jamilah juga memberikan handuk untuk Jonathan, "Maaf saya ga punya handuk baru, punya Bapak tadi basah." Jonathan meringis melihat handuk tipis yang punya beberapa lubang.
"Kamu ga takut tinggal di sini sendirian?"
"Takut, tapi kalau kalau saya di rumah langsung tutup pintu ga keluar-keluar lagi."
Jonathan mendesah kesal saat signal ponselnya tidak bisa dipergunakan untuk mengirim pesan dan menghubungi seseorang.
"Saya bermalam di sini ga apa-apa?" tanya Jonathan dengan pandangan memohon, "Begitu bisa dipakai telepon, saya langsung panggil tukang derek," lanjut Jonathan saat melihat wajah Jamilah yang bimbang.
"Saya cuman bingung, Pak Jo mau tidur di mana?"
Jonathan mengedarkan kepalanya. Kamar di rumah Jamilah ini hanya ada satu itupun kasur busa yang sudah sangat tipis bekas almarhum ibunya. Tidak ada kursi tamu apalagi sofa, yang ada hanyalah kursi kayu yang ia duduki saat ini.
"Saya ga tidur, duduk aja di sini sambil nunggu signal normal lagi. Siapa tahu bisa dipakai telepon panggil orang derek mobil. Kamu tidur aja, kerjaanmu pasti bikin capek. Saya beneran ga apa-apa."
Jamilah awalnya nampak ragu, lalu akhirnya mengangguk. Walaupun semalaman ia bakalan sama sekali tidak bisa tidur.
__ADS_1