
"Kamu jangan gitu lagi kalo aku lagi ngomong serius sama si Jo. Dia itu kadang ga tau kapan harus serius, kapan boleh bercanda," tutur Alex sepeninggal adiknya kembali ke kamar.
"Maaf, tadi cuman mau kasih semangat aja."
"Dia kamu kasih semangat, aku ga pernah kamu kasih semangat," protes Alex.
"Emang lagi butuh disemangatin apa?"
Alex tampak berpikir sejenak, tersenyum tipis lalu merebahkan kepalanya di atas pangkuan Hanum, "pijet," ucapnya seraya memejamkan mata.
Ini sih bukan minta semangat, tapi minta pijet. Hanum hanya berani menggerutu dalam hati.
...❤...
Jonathan menutup kepalanya rapat di bawah bantal, saat ketukan di pintu kamarnya semakin keras. Ia pastikan kakak iparnya itu akan menyerah, jika ia tidak membukakan pintu kamarnya.
Ia bukannya tidak mau bangun lebih cepat, hanya ingin menambah durasi tidurnya sedikit lebih lama.
"JO!!" Jonathan melompat dari ranjangnya saat suara berat Papanya terdengar di balik pintu.
__ADS_1
"Yaaa, aku sudah bangun." sahutnya dengan suara serak. Jika papanya yang memanggil, harus ia jawab segera, kalau tidak pintu kamarnya bisa di buka dengan paksa.
Jonathan segera mandi dan bersiap sebelum gedoran yang kedua menghacurkan pintunya. Ini hari pertamanya ke kantor menggantikan kakaknya.
Kalau biasanya dia datang hanya sesekali sebagai adik pimpinan, sekarang ia datang untuk bekerja. Apakah ia benar-benar bekerja atau hanya tebar pesona, kita lihat saja nanti.
Semua mata yang ada di sekitar meja makan teruju pada Jonathan yang baru keluar dari kamarnya. Penampilan pria muda itu sedikit berbeda dari biasanya.
Kaos hitam atau putih kebanggaannya, sekarang berganti kemeja lengan panjang berwarna biru muda. Celana jeans sobeknya, sekarang berganti celana kain yang licin. Hanya alas kakinya masih memakai sepatu boots ala anak motor, tapi itu semakin menambah nilai plus pada penampilannya.
"Sudah ganteng belum?" tanya Jonathan seraya merentangkan kedua tangannya.
"Sudah siap?" tanya Papa.
"Sudah dandan sempurna gini masih ditanya lagi," sahut Jonathan angkuh sembari menyendok nasi goreng ke piringnya.
"Rapat nanti kamu cukup duduk diam dan dengarkan aja. Nanti Papa yang kenalin kamu ke petinggi dan pemegang saham lainnya. Jangan malu-maluin, Jo," lanjut Papa dengan penekanan.
"Siap, Bos," sahut Jonathan tak acuh dengan mulut penuh. Entah mengapa ia lebih takut menghadapi kakaknya ketimbang papanya.
__ADS_1
"Nanti aku dikirimin makan siang juga ga?" tanya Jonathan pada Hanum penuh harap.
"Kamu bisa suruh Cimoy belikan makan di luar," sahut Alex cepat sebelum istrinya menyanggupi keinginan adiknya.
"Nanti Mama yang kirim makan siang buat kamu." Mama menengahi karena melihat wajah kesal putra sulungnya.
"Ayo, Jo berangkat." Papa berdiri dari duduknya.
"Aku berangkat sendiri, Pa. Ga enak satu mobil sama Direktur utama ... aduh!" Ucapan Jonathan terhenti saat jitakan Papa bersarang di kepalanya.
...❤...
Pukul 07.45, Jonathan dengan motor besarnya masuk ke area parkir kantor milik keluarganya. Banyaknya pegawai wanita di area parkir pagi itu, membuat jiwa don juan Jonathan bangkit.
Dengan gerakan yang sengaja dibuat estetik, Jonathan turun dari motor lalu membuka jacket kulitnya dan di sampirkan di salah satu pundaknya. Jonathan berjalan dengan satu tangan di dalam saku celana dan sesekali menyugar rambutnya.
Tingkah lakunya kali ini sukses membuat kaum hawa satu kantor punya bahan gosip yang sama. Trending topik utama adalah CEO dingin dan kaku berganti dengan CEO keren dan tampan.
...❤🤍...
__ADS_1