CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
yang manis tapi bukan gula


__ADS_3

Hanum melirik wajah Alex yang sejak sore tadi hingga malam menjelang tidur, terlihat sangat berbeda. Kesan dingin dan cuek di wajahnya yang datar, seakan sudah luntur.


"Lagi seneng ya ada cewek yang ngejar-ngejar sampe rela dijadikan yang kedua?" tanya Hanum. Tanpa ia sadari intonasi pertanyaannya terdengar sinis.


"He? apa?" Alex mengalihkan pandangan dari ponselnya kepada Hanum yang sedang duduk di depan meja rias.


Hanum tersenyum sinis saat melihat sudut bibir Alex terangkat membentuk senyuman kecil.


"Ada yang lagi seneng, soalnya ada cewek cantik yang ngejar-ngejar minta dinikahi," sindir Hanum lagi dengan ditambah penekanan suara.


"Sudah aku nikahi," sahut Alex santai.


"Ha?" Hanum terkejut. Apa ada yang ia lewati? baru sore tadi si Aneh merengek minta dinikahi oleh suaminya, lalu sekarang suaminya ini bilang sudah dinikahi? kapan?


"Kalau sudah resmi sama yang sana, cepat aja ceraikan saya," protes Hanum setengah merajuk.


Kening Alex berkerut tak mengerti arah pembicaraan Hanum.


"Kenapa harus bercerai?" tanyanya bingung.


"Walaupun saya wujudnya seperti ini, ga secantik istri Bapak yang itu. Saya punya harga diri. Saya ga mau diduakan," ucap Hanum tegas seraya berjalan menghampiri Alex yang duduk bersandar di atas ranjang.


"Saya? Bapak?" ulang Alex. Matanya memicing tak suka.


"Iya, untuk apa harus berakrab-akrab ria kalo nantinya juga jauh-jauhan." Hanum melipat kedua tangannya di depan dada. Dagunya terangkat seolah menantang Alex.


Kening Alex semakin berkerut dalam. Ia semakin tidak mengerti topik pembicaraan yang sedang berlangsung.


"Istri saya yang itu, maksudnya siapa? Tolong kalo bicara denganku jangan berbelit-belit."


"Siapa lagi kalo bukan si Aneh itu, Bapak sudah nikah kan sama dia?" tuduh Hanum tak beralasan.


"Sejak dia pulang sore tadi, sampe malam ini kamu terus berada di sebelah aku. Lantas kapan aku menikah dengan dia?" tanya Alex kesal.


"Ah ... eh, bi-bisakan sekarang nikah online?" Hanum mulai menyadari kesalahannya.


Alex menggelengkan kepala, dari mulutnya terdengar menertawakan kegugupan Hanum.


"Bapak yang bilang sendiri tadi sudah dinikahi." Hanum bersikukuh menutupi rasa malunya.


"Bapak lagi?" sindir Alex dengan nada meninggi.


"Mas," ralat Hanum.


"Ya benar sudah aku nikahi. Salahnya di mana?"


"Naaah, benar kan??" seru Hanum gembira menemukan kesalahan Alex yang langka.


"Iya, benar kan? ada wanita yang ngejar-ngejar untuk aku nikahi, dan itu kamu," ujar Alex seraya menunjuk pada Hanum.


"Aku?" Hanum menunjuk dirinya sendiri.


"Benarkan kamu yang dulu ngejar-ngejar aku di sekolah, sampai buat aku tidak bisa mencetak three point saat SMU, dan akhirnya sekarang kamu berhasil," papar Alex.


"Kamu sudah tahu?" tanya Hanum lirih.

__ADS_1


"Dari awal aku sudah tahu," ucap Alex tenang.


"Sejak kapan?" suara Hanum semakin lirih.


"Sejak kamu duduk di sebelahku di depan penghulu."


"Selama itu? dari mana kamu tahu?" Hanum seakan tidak percaya.


"Saat saksi berkata kita sudah sah sebagai pasangan suami istri, dan senyumanmu sama persis dengan bocah yang terlewat percaya diri di SMU dulu."


Mulut Hanum terbuka lebar. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


"Lantas kenapa tidak marah saat itu juga?"


Alex menarik nafas panjang, "Untuk apa?"


"Ya ... yaa karena saya sudah menipu?" ucap Hanum tak yakin.


"Kamu memang sudah menipu aku dan keluargaku, tapi kamu tidak menipu kalo kamu benar-benar mencintai aku," jelas Alex. Wajah Hanum bersemu merah menahan malu, "Aku benar kan?" tanya Alex lagi.


"Itu dulu!" Hanum kembali menegakkan tubuhnya. Ia masih belum terima dengan sikap Alex yang menerima tantangan si Aneh.


"Maksudnya sekarang kamu sudah ga suka lagi sama aku?"


"I-iyaa!"


"Ow, lalu kenapa marah kalau Ane ingin jadi istri kedua?"


"Wanita mana yang mau dimadu? kalo bener mau nikah sama si Aneh itu, cusss silahkan! tapi ceraikan aku dulu," tantang Hanum.


"Ya-yakin!" Hanum berjalan mundur searah pergerakan Alex yang semakin maju.


"Setelah usahamu sekian lama, dan kamu mau melepaskan aku begitu aja?" Alex terus merangsek maju menekan pergerakan Hanum ke sudut kamar.


"Kenapa tidak?" tantang Hanum. Dagunya ia angkat semakin tinggi.


"Yakin bisa jauh dari aku?" Suara Alex semakin dalam dan Hanum sudah tidak bisa berjalan mundur lagi karena terhalang tembok.


"Bi-bisa," ujar Hanum lirih.


"Aku yang ga bisa," bisik Alex tepat di telinga Hanum.


"He?" Hanum memalingkan kepalanya ke arah wajah Alex yang sudah berada di atas pundaknya.


"Aku ga bisa jauh dari kamu, Num. Kamu pake dukun mana sih?" bisik Alex.


"Ha??!" Mata Hanum melotot, "Ngawur!" Hanum mendorong badan Alex keras hingga suaminya itu terjungkal di atas ranjang.


Hanum berjalan ke luar kamar meninggalkan Alex yang menahan tawanya di balik bantal.


"Ku dukunin juga tu laki!" seru Hanum geram.


"Hanum," panggil Mama Alex. Hanum yang sedang membuat teh hangat untuk meredamkan emosinya, terpanjat saat Ibu mertuanya itu menepuk bahunya.


"Eh, Ibu."

__ADS_1


"Mama," ralat Mama Alex.


"Eh?" Mengapa ibu dan anak ini begitu kompak ingin mengubah panggilan mereka.


"Panggil Mama, kamu istrinya Alex berarti juga anak saya. Lagi buat apa?"


"Teh hangat. Ma-mama mau?" tawar Hanum canggung.


"Enggak, terima kasih. Buatkan juga untuk suamimu. Dia kalau mau tidur selalu minum teh hangat tawar."


"Iya, Ma." Hanum mengambil cangkir baru dan membuatkan untuk suaminya meski hatinya sedang kesal pada pria itu.


"Num, Mama minta kamu jangan lepaskan Alex ya. Meski awalnya Mama ga suka cara kamu masuk dalam kehidupan kami, tapi Mama percaya kamu anak yang baik. Kamu rela berubah demi Alex, itu bagi Mama sudah lebih dari cukup. Alex juga sejak menikah dengan kamu, lebih banyak tersenyum dan betah ada di rumah."


"Masak sih, Ma?" Hanum seakan tidak percaya dengan penjelasan Mama mertuanya, karena yang ia lihat Alex tetap seperti dulu dingin, kaku hanya memang lebih cerewet dibanding dulu.


"Iya, memang kamu mungkin ga merasa karena belum lama mengenal dia, tapi Mama sudah kenal Alex sejak dalam kandungan. Sejak kecil dia hampir tidak pernah tersenyum. Apa yang Mama dan Papa minta selalu ia turuti, seakan tidak punya ambisi dan keinginan sendiri. Tadi sore Mama mendengar Alex dengan tegas mengatakan pada perempuan itu jika kamu istrinya dan tidak ingin yang lain. Mama senang ... senang sekali."


Hanum tertegun menatap Mama mertuanya yang sedang berkaca-kaca menatapnya.


"Mama doakan kalian terus berbahagia." Hanum memberikan senyuman terbaiknya untuk menanggapi doa Mama mertuanya.


Hanum masuk kembali ke dalam kamar dengan dua cangkir teh hangat di tangannya.


"Ini tehnya," ucap Hanum seraya menaruh dua cangkir teh di atas nakas.


"Semua tawar?" tanya Alex.


"Yang ini ga pake gula," ujar Hanum seraya memberikan secangkir teh hangat tawar kepada Alex.


"Terima kasih. Aku lebih suka teh tanpa gula, karena yang manis sudah ada di depanku."


...❤❤...


Selamat berbuka puasa dengan yang manis bersama Mas Alex.


Promo punya teman ya, silahkan ramaikan di sana


"Ada rapuh yang tersusun rapi. Sebelum menjadi indah, kupu-kupu hanyalah secuil ulat yang menempel rapuh di dedaunan."


~ Vlora Yukika ~


"Hanya karena dahaga sebentar, tak lantas membuatmu harus meminum racun bukan?"


~ Haedar Gibran ~


Dikhianati suami, diasingkan keluarga sendiri, tidak ada tempat tuk berbagi keluh, jua seolah tak ada rumah yang sungguh tuk berteduh. Adakah yang lebih sakit dari ini?


Pada titik terendahnya, Vlora bangkit menjadi sosok yang baru. Dendamkah ia pada mereka yang telah menyakitinya? Sementara ia sendiri memiliki rahasia besar yang dianggap sebuah pengkhianatan.


"Duri itu kau sendiri, lalu kau jua yang merasa tersakiti."


~ Tristan Pratama ~


Lantas apa yang Vlora lakukan? Bagaimana jika rahasia besar itu terungkap? Masih banggakah ia dengan kehidupan baru yang kini melambungkan namanya?

__ADS_1



__ADS_2