CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Pernikahan


__ADS_3

"Sah?"


"Sah!"


Gema ucapan syukur dan senyuman merekah memenuhi ruang tamu rumah Jonathan. Sesuai permintaan mempelai wanita, pernikahan keduanya tidak dilangsungkan di gedung yang megah. Melainkan memanfaatkan ruang tamu rumah Pak Beni yang luas dan taman belakang milik Bu Devi yang asri untuk menjamu para undangan.


Jonathan melirik ke arah wanita yang sudah menjadi miliknya. Lega di hati walau semalam suntuk ia tidak dapat memejamkan mata barang sejenak. Berkali-kali mencoba merapalkan ijab kabul, berkali-kali pula ia lupa dengan apa yang akan diucapkannya.


Untunglah pada saatnya tiba, ia dapat mengucapkan dengan sekali tarikan nafas. Meskipun sebelumnya sudah membuat kedua orangtuanya stress, karena putranya tiba-tiba lupa dengan nama calon istrinya sendiri.


"Gimana, aku keren 'kan tadi?" bisik Jonathan di telinga Jamilah. Wanita yang belum ada satu menit sah menjadi istrinya itu, hanya tersenyum malu sembari mengacungkan jempolnya.


"Dapet hadiah dong nanti." Jonathan mengedipkan sebelah matanya.


"Sssttt, jangan ribut sendiri, dengarkan dulu Pak Penghulunya belum selesai bicara." Jamilah urung menjawab karena Mama mertuanya sudah berbisik di belakangnya.


Tiba waktu ritual sungkeman, Mama Jonathan menangis haru sembari memeluk putra bungsunya dengan erat.


"Mama ga nyangka kamu sudah jadi suami, Jo. Mama kira kamu bakal lama nikahnya, karena banyak pilihan jadi bingung. Mama juga takut kamu asal comot perempuan karena takut dijodohkan seperti kakakmu," ujar Mama Jonathan dengan derai air mata.


"Mamaaa, maafkan kalau Jo ada salah ya." Jonathan balas memeluk Mamanya. Namun saat beralih ke Papanya, pria yang masih terlihat gagah di usia pertengahan 50tahun itu hanya menepuk-nepuk punggung putra bungsunya.


"Papa ga ada kata-kata untuk aku?" Jonathan mengangkat kepalanya dan menatap heran pada Papanya. Begitu ia melihat mata Papanya yang berair, tangisnya semakin meledak.


Suasana semakin haru ditambah dengan tangisan Hanum yang terdengar pilu.


"Kita dulu kok ga ada ritual sungkeman sih? Aku jadi kangen Ibu panti." Hanum terus terisak sembari mengecup baby Sarayu.


"Dulu pernikahan kita unik, waktu resepsi juga ga pakai adat. Nanti kalau Sarayu sudah bisa dibawa jalan jauh kita bawa ke panti ya." Alex menghibur istrinya dengan sabar.

__ADS_1


"Baiklah untuk mempersingkat waktu, kita masuk ke dalam acara yang paling ditunggu para undangan. Apa Bapak dan Ibuuu?" Pembawa acara segera mengambil alih acara karena sudah mulai melenceng.


"Makaaaann," sahut para undangan serempak.


"Pasti sudah pada lapar, saya juga. Mari para undangan bisa langsung ke arah taman belakang. Tuan rumah sudah mempersiapkan hidangan terbaik untuk kita semua." Pembawa acara yang sering tampil di acara televisi itu menunjuk ke arah pintu belakang yang menuju ke arah taman belakang.


"Senyam senyum aja kalian berdua. Bahagia sekali rupanya," ejek William.


"Apa harus dijelaskan sebahagia apa aku." Jonathan tersenyum bangga.


"Harusnya Kak Jo kasih aku hadiah spesial. Kalau bukan karena aku, mana mungkin bisa sampai pelaminan," timpal Kanaya.


"Gimana kalau kita bertaruh, sampai berapa lama Kak Jo bertahan tidak kumpul dengan para wanita penggemarnya," tambah Maura memanasi.


"Hei, hei, hei! Kalian bertiga ngapain masih di sini? Hush, hush pergi makan sana," usir Jonathan dengan setengah mendorong tiga kakak beradik itu menjauh dari pelaminan, "Tiga bersaudara, sama aja kelakuannya suka bikin rusuh!" umpat Jonathan kesal.


"Siapa yang suka bikin rusuh, Jo?"


"Belum, 'kan mau kasih selamat sama pengantin baru dulu. Selamat ya, semoga bahagia selalu dan cepat diberi momongan seperti Alex." Papi Ray dan istrinya mengulurkan tangan dan menepuk-nepuk pundak Jonathan cukup keras.


"Terima kasih, Pi." Jonathan menyengir menahan rasa sakit di pundaknya.


"Selamat, Jo, yang rukun ya. Jangan suka ngambek sekarang sudah punya istri jadi harus lebih bertanggung jawab." Mami Lea memeluk Jonathan dan mengusap pundak yang tadi dipukul oleh suaminya.


Kehangatan dan perhatian yang diberikan oleh Mami Lea pada dirinya dan Alex, tidak ada ubahnya sejak mereka kecil hingga saat ini sudah dewasa.


"Terima kasih, Mi." Jonathan memeluk erat Ibu dari Maura, adik kandungnya namun beda ibu.


"Keluarga Pak Jo banyak dan rukun ya," ucap Jamilah sendu. Dari panggung pelaminan yang lebih tinggi dari taman belakang, mereka dapat melihat keseluruhan undangan yang sedang menikmati sajian dan hiburan di bawah lampu yang menyoroti tengah taman.

__ADS_1


"Iya." Jonathan mengangguk bangga. Ia juga menebarkan pandangannya ke seluruh sudut taman.


Tempat yang tidak memungkinkan untuk mengundang ribuan orang, membuat mereka harus selektif menyebar undangan. Sebagian besar undangan yang hadir adalah anggota keluarga dan kerabat dekatnya.


Nampak di tengah taman kedua orangtuanya didampingi oleh kakak dan istrinya serta bayi mereka yang masih berusia enam bulan, berbincang hangat dengan Papi Ray serta istrinya dan juga Om Erik dan istrinya. Sesekali mereka tertawa dan mengagumi bayi kecil yang di gendong oleh kakak iparnya.


Di sudut yang lain, sekelompok anak yang jauh lebih muda tertawa dan saling mengejek. Tiga bersaudara itu tak henti-hentinya berbuat ulah jika sedang berkumpul. Kali ini yang menjadi sasarannya adalah putri Om Erik yang masih duduk di bangku SMU. Gadis itu tampak cemberut dan mendekati orang tuanya untuk mengadu. Tak berapa lama Papi Ray menghampiri ketiga anaknya, lalu menarik daun telinga mereka tanpa peduli dengan pandangan tamu yang lain. Ketiganya terlihat meringis kesakitan dan menahan malu karena sudah cukup dewasa untuk diperlakukan seperti itu.


"Hahahaha, rasaiiin!" Jonathan terbahak kencang dan puas melihat ketiganya mendapat hukuman yang setimpal. Namun tawanya berhenti saat sudut matanya menangkap Jamilah sedang menyusut air mata.


"Kamu kenapa, Milah?"


"Ga apa-apa, aku cuman lagi kangen Bapak sama Ibu." Jamilah semakin terisak ketika suaminya merengkuhnya masuk ke dalam pelukan.


"Jangan nangis ya, Ibu sama Bapak sudah bahagia di surga. Mereka pasti juga bahagia sekarang melihat anaknya sudah menikah, jadi jangan buat Bapak dan Ibu sedih di hari bahagia ini." Jonathan memeluk dan mencium puncak kepala Jamilah.


"Aku sedih, Bapak dan ibu tidak bisa menyaksikan hari ini. Aku juga ga punya keluarga yang ikut bahagia atas pernikahanku." Jamilah masih menangis di pelukan Jonathan.


"Hei, hei. Jangan punya pikiran seperti itu. Semua keluargaku akan menjadi keluargamu juga. Keluargamu besar, Milah. Lihatlah." Jonathan mengarahkan Jamilah yang masih berderai air mata menghadap ke arah undangan.


"Belum sehari jadi suami, sudah buat istrinya nangis," ucap William sinis.


"Ck ck ck ck ck." Kedua adik perempuannya ikut menimpali dengan menggelengkan kepala.


"Kecuali mereka bertiga, kamu boleh tidak menganggap mereka saudara," ujar Jonathan kesal.


...❤️🤍...


Mampir ke karya temanku ya

__ADS_1



__ADS_2