CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Wajib lapor


__ADS_3

"Ayoo." Jonathan menarik tangan Jamilah lebih keras lagi agar gadis itu segara berdiri.


"Jo, jangan kasar-kasar kenapa sih," cetus Hanum.


"Kita juga sudah mau jalan kok. Yuk, Num nanti depot mie pangsitnya penuh." Alex mengalihkan perhatian istrinya.


Bisa gawat kalau Hanum terlalu larut di tengah-tengah Jonathan dan Jamilah. Alex sudah sangat paham, adiknya itu terlihat sekali sedang menahan emosi.


Sampai di ruangan, Jonathan terus memperhatikan wajah Jamilah yang menurutnya terlihat lebih sumringah dari biasanya. Hal itu memancing rasa cemburu di hati Jonathan.


"Senang betul kamu, kenapa?" tanyanya ketus.


"Biasa aja kok, Pak. Ada lagi yang harus saya bacakan?" tanya Jamilah dengan senyum terkembang, dan Jonathan tak suka itu.


"Ga ada."


"Baik kalo gitu, saya ijin pulang dulu, Pak," pamit Jamilah sembari mengambil tasnya.


"Kok pulang?" Suara Jonathan sudah mulai meninggi.


"Kan memang sudah jam pulang kerja? atau mungkin ada kerjaan lain buat saya?"


"Ow, eh. Ga ada. Naik apa kamu?"


"Seperti biasa, angkot terus lanjut naik sepeda dari terminal." Jonathan tidak menawarkan mengantar pulang, karena Jamilah pernah menolak dengan alasan mau diantar jika saat hujan saja.

__ADS_1


"Ya udah. Langsung pulang, jangan kemana-mana," perintah Jonathan bak seorang ayah pada anaknya.


"Iya, Pak. Permisi." Jamilah membungkukan badan namun keningnya berkerut mendengar pesan bosnya yang tidak biasa.


Benar saja belum sampai di rumah, ponsel Jamilah terus berdering dan berdenting. Setelah memasukan sepeda roda duanya ke dalam rumah, Jamilah membuka ponselnya. Ia tidak berani mengangkat ponsel saat di jalan tadi.


Pesan masuk dari Jonathan bagaikan arus sungai yang deras.


Sudah sampai rumah?


Kok belum balas?


Kenapa tidak diangkat telepon saya?


Kamu di mana?


Segera kabari saya, kamu di mana sekarang.


Jamilah


Milah


Jamilah!


Belum lagi panggilan tak terjawab dengan jumlah yang membuat Jamilah panik karena khawatir terjadi sesuatu di kerjaannya. Jamilah segera menghubungi Jonathan dengan jantung berdegub. Dering pertama langsung terdengar suara tak sabar bosnya di seberang sana.

__ADS_1


"Selamat Malam, Pak. Maaf ba---"


"Kamu di mana?, kenapa ga angkat telepon saya?" Jonathan memberondong Jamilah dengan pertanyaan yang menuntut jawaban.


"Saya baru sampai rumah. Maaf kalau di jalan saya ga berani buka ponsel."


"Tadi mampir kemana dulu?" tanya Jonathan dengan nada curiga.


"Ga mampir kemana-mana, saya langsung pulang. Tadi angkotnya memang sedikit lama tunggu penuh soalnya. Ada masalah apa ya, Pak? Apa ada salah dengan pekerjaan saya?"


"Ya sudah kalau gitu. Selamat istirahat," ucap Jonathan langsung memutus panggilannya.


"Ga jelas banget sih." Jamilah menggerutu kesal karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan.


Hari-hari berikutnya, Jonathan masih memperlakukan Jamilah dengan cara yang sama. Wajib menghubungi dirinya setelah sampai rumah, dan memastikan Jamilah tidak mampir kemana-mana setelah pulang kantor.


Bahkan perilaku Jonathan semakin menjadi-jadi. Seperti siang ini, ia terus memperhatikan Jamilah yang tampak selalu tersenyum sembari melihat ponselnya.


"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Jonathan dengan nada yang ketus.


"Maaf Pak, lagi kirim pesan sama teman."


"Bawa sini ponselmu." Jonathan menengadahkan tangannya. Walau ragu, Jamilah tetap menaruh ponselnya ke tangan bosnya.


Begitu berada dalam genggamannya, ponsel Jamilah langsung di periksa secara detail isi pesannya dan juga memastikan tidak ada nomer William di sana.

__ADS_1


"Peraturan baru, tidak ada ponsel di jam kerja." Jonathan menaruh ponsel Jamilah di sisi ponselnya. Ia pura-pura tidak melihat raut wajah Jamilah yang sudah berkerut kesal.


...❤🤍...


__ADS_2