
Selesai mandi, Hanum menggunakan pakaian yang paling terbaik menurutnya. Ini juga moment spesial baginya. Ia akan pergi bersama Mama Alex.
Tentunya ia tidak lupa menggunakan rangkaian paket perawatan wajah, brand Aku Cantik milik Caroline. Wajahnya terlihat sudah banyak mengalami perubahan, yang awalnya banyak jerawat di wajahnya sekarang sudah mulai mengering dan tidak tumbuh yang baru lagi. Kulit wajahnya pun semakin terang karena minyak berlebih yang selama ini membuat wajahnya kusam, sudah tidak nampak.
Hanum megusapkan perona pipi dan mata secara samar. Alisnya yang sudah tebal hanya ia rapikan. Ia mengoleskan warna coklat muda pada bibirnya, menyesuaikan dengan warna bajunya yang casual khas anak muda.
"Kereeeen." Hanum berputar-putar di depan cermin meja riasnya. Ia merasa puas hasil belajar make up singkat dari konten youtube, akhirnya bisa ia gunakan sekarang.
Rambutnya yang sulit diatur, ia ikat menjadi satu, dan digulungnya hingga menyerupai konde kecil.
"Oke, aku siap." Sekali lagi Hanum berkaca dan merasa yakin dengan penampilannya.
Ia keluar kamar dan menemui Ibu mertuanya, yang sedang duduk santai di ruang tamu menantinya.
"Saya sudah siap, Bu." Mama Alex mengangkat wajah dari layar ponselnya.
Sempat sejenak ia tertegun memandangi Hanum, "Oh, ya ayo," ajaknya, sambil berdiri dari sofa dan beranjak keluar rumah.
Hanum mengikutinya dari belakang, ternyata Jonathan sudah menunggu mereka di dalam mobil. Hanum diminta duduk di depan, sedangkan Mama Alex duduk di bangku belakang.
Saat Hanum masuk ke dalam mobil, Jonathan juga sempat melongo melihat perubahan penampilan istri kakaknya itu.
"Kamu Hanum, 'kan??" tanya Jonathan seakan meyakinkan dirinya sendiri.
"Iya, kenapa?"
"Ga apa," ucap Jonathan masih memandang Hanum heran.
"Ini jadi ke salon Marisa, Ma?" tanya Jonathan, seraya melirik Mamanya melalui kaca spion. Mama Alex hanya memberi kode dengan anggukan kepala.
"Waah, diajak nyalon nih, anak mantu," ujar Jonathan usil.
"Jooo ...." Mama Alex memberi peringatan.
"Mama mungkin takut kena azab, judulnya mertua yang zolim pada anak menantunya. Seperti cerita di novel-novel online tuh, kamu baca juga ga?" bisik Jonathan pada Hanum yang duduk di sampingnya.
"Joo!! ga usah banyak drama, nyetir aja!" seru Mama Alex sudah mulai emosi.
Jonathan mengarahkan mobilnya ke arah pusat kota, ternyata ia sudah hafal dengan langganan salon Mamanya.
Hanum dan Ibu mertuanya turun di depan salon, yang dari tampilan luarnya mungkin hanya kalangan atas yang berani masuk ke dalam.
"Mama tahu kamu ada kencan, nanti Mama pulang sendiri," potong Mama Alex, saat Jonathan membuka mulut ingin mengatakan sesuatu.
Hawa sejuk dan aroma wangi, menyambut Hanum saat mereka membuka pintu salon.
__ADS_1
"Selamat siang, Bu Devi. Lama sekali ga perawatan," sapa seorang staff salon berseragam.
"Iya, lagi sibuk nemenin Bapak."
"Mau perawatan apa nih?
"Seperti biasa, saya hair spa dan menicure pedicure. Untuk anak mantu saya, rambutnya di tata ulang ya Terserah bagaimana, saya tahu di tanganmu semua keren hasilnya." Mama Alex mengedipkan sebelah mata pada staff salon kepercayaannya.
Belum habis rasa terkejut Hanum saat mendengar sebutan anak mantu dari Mama Alex. Ia sudah digiring salah satu staff salon, untuk di cuci rambutnya.
"Istrinya Mas Alex ato Mas Jonathan, Mba?" tanya staff salon yang mencuci rambutnya.
"A-alex," jawab Hanum lirih. Ia masih agak canggung mengaku sebagai istri Alex pada orang asing.
"Waah, akhirnya nikah juga mas freezer itu. Kirain ga suka cewek loh. Soalnya yang ngejar banyak cantik-cantik lagi. Jangankan suka, dilirik juga enggak." Hanum tidak menanggapi apapun. Ia hanya membatin, yang cantik aja ga dilirik apalagi aku. Ga di ludahi aja harus bersyukur.
Hanum bergidik mengingat sorot mata Alex saat mencecarnya, sungguh menakutkan. Selama ini yang ia tahu Alex orangnya datar dan pendiam.
Seperti dulu saat SMU dan ia menyoraki Alex yang bertanding basket, sama halnya saat akad nikah mereka. Meski orang lain menghina dan mencacinya, Alex tidak menolak keberadaanya apalagi ikut menyakitinya.
Hanum menurut dan diam saja saat rambutnya diutak-atik oleh staff salon. Ia percaya dengan rekomendasi dari ibu mertuanya.
Sementara kepalanya ditangani dua orang sekaligus, satu orang lagi duduk di hadapannya memotong kuku kaki dan tangannya.
Hanum tersenyum geli dan merasa aneh memikirkan, apakah orang kaya harus ke salon untuk memotong kukunya.
Rambutnya yang kering, mengembang sulit diatur sudah berganti menjadi lembut, halus dan lurus panjang sebahu dengan sedikit bergelombang di ujungnya. Warna rambutnya berubah menjadi coklat muda, membuat kulit wajahnya semakin terlihat terang.
Berulang kali Hanum mengusap rambutnya seakan tidak percaya jika wanita yang di cermin itu dirinya.
"Gimana, Bu?" tanya staff salon pada Bu Devi yang berjalan mendekat.
"Kamu memang ga pernah gagal," puji Mama Alex.
"Kamu suka, Num?" tanya Mama Alex.
"Suka banget." Ia kembali menghadap kaca dan mengusap rambutnya. Ia juga melihat dari pantulan kaca, kuku jari tangannya pun sudah terlihat cantik. Tidak ada lagi warna kekuningan bekas kunyit, sekarang yang menempel di kukunya warna merah mengkilat.
"Terima kasih. Ibu baik," ucap Hanum, seraya memandang Mama Alex lewat pantulan cermin salon. Ibu mertuanya tersenyum menanggapinya.
"Ayuk, kita pulang," ajak Mama Alex.
"Jonathan ga jemput, kita naik taxi online, Bu?" tanya Hanum saat mereka sudah berada di luar salon.
"Ga, kita di jemput," ujar Mama Alex, telunjuknya mengarah ke mobil sedan putih yang meluncur mendekati mereka.
__ADS_1
Kaki Hanum gemetar saat menyadari jika Alex yang menjemput mereka.
"Ayo, naik." Mama Alex sudah mendahului membuka pintu mobil bagian belakang, "Kamu di depan." Tubuh Hanum sedikit di dorong mundur saat ia ingin masuk di bangku belakang bersama dengan Ibu mertuanya.
Hanum membuka pintu dan masuk ke dalam mobil dengan kepala terus menunduk.
Kepalanya ia tahan untuk tidak menoleh ke sisi kanannya. Padahal temperatur suhu AC di mobil Alex dan Jonathan sama, tapi hawa dingin dalam mobil terasa menusuk kulit hingga ke tulangnya.
Rambutnya yang sekarang lembut dan jatuh tergerai, ia manfaatkan untuk menutupi sisi wajah sebelah kanannya. Ia tahu jika sedari tadi, Alex mencuri pandang ke arahnya.
Bunyi dering ponselnya yang nyaring, memaksanya menjawab panggilan yang masuk.
Nama Caroline muncul di layar ponselnya, "Selamat sore," sapa Hanum sedikit berbisik. Ia merasa tidak nyaman pembicaraanya di dengar oleh Alex dan Mamanya.
"Selamat sore, Hanum. Besok bisakah kamu datang ke Mall Kastanye, saya ingin melihat kemajuan perubahan kulitmu. Sekalian pengambilan foto untuk promosi, kamu bisa Hanum?"
"Besok di Mall Kastanye, jam berapa?"
"Jam makan siang aja,"
"Bisa, besok sebelum jam dua belas saya sudah di Mall Kastanye."
Hanum mengakhiri pembicaraannya, dan menyimpan kembali ponsel keluaran lebih dari sepuluh tahun yang lalu itu kedalam tasnya.
"Kamu ada acara apa, Num di Mall Kastanye besok?" tanya Mama Alex.
"Ke-ketemu temen, Bu," sahutnya. Ia belum ingin keluarga Alex tahu, jika ia menerima produk gratis dari orang asing.
Tanpa ia sadari, Alex mendengarkan setiap percakapannya saat menerima ponsel. Alex menyipitkan mata dan melirik Hanum, seakan tidak puas dengan jawaban yang diberikan wanita itu.
...❤❤...
Follow IG : Ave_aveeii
Jangan lupa yaa 🙏
Love/favorite ❤
Komen bebas asal santun 💭
Like / jempol di setiap bab👍
Bunga 🌹
Kopi ☕
__ADS_1
Rating / bintang lima 🌟
Votenya doong 🥰