
"Kamu tenang aja, semua bakal baik-baik aja." Kendra mengusap tangan Jamilah yang melingkar di lengannya.
Mereka berdua duduk termenung menunggu kabar selanjutnya dari ruang persalinan, tanpa menyadari ada sepasang mata yang sedang mengamati mereka dari jauh.
"Di mana ruang persalinan?" Suara yang sangat dikenali dan dirindukan Jamilah terdengar. Spontan tangan yang melingkar di lengan Kendra terlepas.
Kendra menunjuk sebuah pintu dengan lampu merah menyala diatasnya. Ia yang tanpa rasa bersalah sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan Jonathan. Sebaliknya Jamilah seperti kucing yang ketahuan mencuri.
"Kata Pak Komar, kalian berdua yang mengantar istri Kakak saya?" tanya Jonathan dengan mata menatap lurus ke arah Jamilah yang tertunduk.
"Iya, tadi Bu Hanum lagi ngobrol sama Jamilah, tahu-tahu kesakitan," ujar Kendra santai.
"Terima kasih, sebaiknya kalian pulang biar saya yang menunggu di sini," ucap Jonathan. Sebenarnya ada rasa tak rela jika Jamilah benar pergi dari sana. Ia sangat merindukan kekasihnya, itupun jika ia masih boleh memanggil Jamilah sebagai kekasih. Cincin milik Jamilah yang belum sempat ia kembalikan, selalu tersimpan dalam dompet miliknya.
Namun pemandangan siang ini yang ia lihat benar-benar mematahkan harapannya. Jamilah benar sudah memilih pria lain sebagai ganti dirinya. Jelas ia sadar bahwa semua itu buah akibat perbuatannya yang tidak pandai menempatkan posisi dan emosi.
"Baiklah kalau begitu, saya kembali ke restoran dulu ... kamu mungkin masih mau di sini?" tanya Kendra pada Jamilah. Ia mengerti kalau teman kerjanya ini sedang menahan rasa pada pria berpenampilan rapi yang berdiri di hadapannya ini.
"Eh, aku balik sama kamu." Seperti baru tersadar dari pesona Jonathan, Jamilah kembali memandang Kendra.
"Oke." Kendra mengangguk sekilas lalu berjalan diikuti Jamilah di belakangnya dengan langkah lambat.
"Milah." Panggilan Jonathan hampir membuat Jamilah terjungkal karena terlalu senang. Itulah yang sejak tadi ia harapkan, Jonathan menyebut namanya.
"Aku tunggu di depan kalau kamu mau balik ke restoran, tapi kalau kamu masih mau ngobrol kabari aku saja," ucap Kendra sembari tersenyum dan tangannya mengangkat ponsel memberi kode pada Jamilah.
Mereka berdua menunggu hingga Jonathan menghilang di ujung lorong rumah sakit, lalu saling bersitatap dan serempak menunduk canggung.
"Aku ikut berduka cita," ucap Jamilah membuka percakapan. Jonathan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan cepat. Pembicaraan ini sepertinya akan terasa berat untuknya.
"Terima kasih," sahut Jonathan, "Bagaimana kabarmu?"
"Baik."
"Syukurlah."
__ADS_1
"Pak Jo sendiri kabarnya bagaimana?"
"Seperti yang kamu lihat."
Tetap tampan seperti biasa. Mata Jamilah memindai penampilan mantan atasannya itu.
Mereka terdiam lagi. Hanya dengan berdiri berhadapan di tengah lorong dengan jarak satu meter, sesekali saling berpandangan seolah dari isyarat mata semua sudah tersampaikan.
"Kamu mau kerja?"
"Eh ... iya, saya ... mau lanjut kerja." Tergagap Jamilah menjawab, "Saya ... nyusul Kendra." Jamilah menunjuk ke arah di mana Kendra menghilang tadi, lalu berjalan dengan langkah kikuk.
"Eh, Milah."
"Ya?" Dengan cepat Jamilah berbalik saat Jonathan memanggil namanya.
"Mmm ... sudah sore." Jonathan melihat ke arah luar.
"Ah, iya ga kerasa sudah sore," timpal Jamilah.
"Sebentar lagi jam kerjamu selesai."
Keduanya lalu terdiam lagi masih seperti awal mula, berdiri saling berhadapan.
"Bapak tadi panggil saya mau bilang apa?" tanya Jamilah bingung karena Jonathan hanya berdiri menatapnya.
"Kamu bahagia?"
"Hah?"
"Kamu bahagia sama dia?"
"Sama dia siapa maksud Bapak?"
"Kendra, pacar kamu."
__ADS_1
"Kendra bukan pacar saya, Pak. Kita hanya rekan kerja," ucap Jamilah sembari tersenyum, sedetik kemudian ia baru sadar telah membuka sandiwaranya sendiri.
"Ow, pantas. Sedikit heran tadi, lelaki macam apa pacarmu itu kok meninggalkan ceweknya berdua dengan pria lain." Bibir Jonathan sudah bisa mengulas senyum tipis.
"Memang ga pantas kalau orang yang sudah punya pasangan hanya berdua dengan lawan jenis dalam satu ruangan," sahut Jamilah lirih. Ia tidak bermaksud menyindir Jonathan, hanya tercetus begitu saja, "Tapi kita bukan di dalam ruangan 'kan, Pak. Kita di tempat umum," lanjut Jamilah cepat setelah menyadari kesalahannya.
"Maaf." Namun terlambat, Jonathan menyadari arti kalimat Jamilah, "Aku minta maaf, Milah. Aku sumber masalah hubungan kita, aku juga penyebab Stella mengalami kejadian buruk, aku yang selalu memberinya harapan palsu." Jonathan terlihat sangat emosional. Ia berjalan mundur lalu duduk di bangku ruang tunggu persalinan.
Jonathan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pertahanannya runtuh di depan Jamilah. Jonathan menangis terakhir saat pemakaman Stella, setelah itu ia tidak menunjukan air matanya walau raut wajahnya selalu mendung.
Seakan merasa terpanggil, Jamilah bergerak mendekat lalu duduk di sebelah Jonathan. Suara sesenggukan tertahan terdengar dari sela-sela jari kekasihnya itu. Tangannya terangkat lalu mengusap punggung lebar itu meski terkesan ragu. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Jonathan menoleh memandang wajah Jamilah yang duduk di sampingnya. Sejenak mereka bertatapan, hanya mata yang berbicara. Jamilah dengan penuh kasih menarik tubuh Jonathan ke dalam pelukannya. Air mata Jonathan kembali tertumpah di pundak Jamilah.
Di dalam pelukan Jamilah, Jonathan merasa itulah rumah yang sebenarnya. Saat di depan keluarga, teman dan kerabatnya Jonathan merasa sulit mencurahkan kesedihannya, tapi bersama gadis susunya ini entah mengapa ia merasa sangat nyaman untuk berbagi perasaan.
"Duh! apa-apaan si Jo itu, anak orang belum dinikahi main peluk-peluk."
"Eiitss, mau kemana?" Papa yang baru datang bersama Mama Jonathan, hampir saja mendekat dan merusak suasana kalau saja Bu Devi tidak menarik tangan suaminya.
"Itu, kamu lihat si Jo." Papa menunjuk ke arah putra bungsu mereka yang sedang dipeluk oleh Jamilah.
"Biarin dulu Jonathan memang sedang butuh seseorang yang mengerti dia, kita awasi dari sini." Sepasang orang tua paruh baya itu bersembunyi dan mengintip dari celah pilar lorong rumah sakit.
Sementara itu di luar, Kendra masih menunggu Jamilah keluar dari gedung rumah sakit. Ia akan menunggu sedikit lagi untuk memberikan waktu pada Jamilah dan pacarnya menyelesaikan masalahnya.
"Sepertinya ga balik ke restoran dia." Kendra terkekeh pelan. Ia lalu memutuskan memesan ojek online untuk kembali ke restoran.
"Ken ... Kendra? kamu Kendra 'kan?" Mendengar namanya disebut, Kendra berbalik.
"Iya benar, saya Kendra. Kenapa ya, Mba?" Gadis di hadapannya seketika berubah raut wajahnya. Kendra mengerutkan keningnya, apa ada yang salah.
"Kamu ... ga kenal aku?" Gadis itu seperti bicara sendiri. Suaranya terlalu lirih, namun Kendra masih dapat mendengarnya.
"Mba kenal saya?" Wajah gadis itu semakin mendung, "Eh, maaf mungkin saya lupa. Bisa dibantu mungkin kita pernah ketemu di mana."
__ADS_1
"Sepertinya saya salah orang, hanya namanya aja yang mirip ... maaf." Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan Kendra yang kebingungan di area parkir.
...❤️🤍...