CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Papa berbicara


__ADS_3

Alex segera keluar dari kamar dan di susul Hanum yang sudah berganti pakaian.


"Ada apa, Ma?" tanya Alex. Ia mendapati Mamanya sedang duduk di kursi meja makan dengan wajah terlipat.


"Papamu baru aja dateng dari luar kota, langsung Mama tanyakan tentang panti yang pindah nama ke Pak Eko. Eh, Papamu bilang nanti aja ceritanya lagi sakit perut. Langsung buru-buru ke WC, mama ditinggal gitu aja," ujar Mama kembali merengut.


Alex menghela nafas lega sekaligus kesal. Kedua orang tuanya ini selalu membuat pusing dengan tingkah laku ajaib mereka.


Alex ikut menemani Mamanya duduk di kursi meja makan, sedangkan Hanum masuk ke dalam dapur ingin membantu Mbok Jum menyiapkan makan malam.


"Non, tadi tetangga sebelah Mbok Jum kasih icipin jamu kunyit asem buatan Non Hanum dan mereka suka, enak katanya. Nanya kalo beli satu botol besar berapa?"


"Walah, aku kan ga jualan Mbok."

__ADS_1


"Sayang loh, Non. Udah banyak yang nanyain. Katanya jamu buatan Non Hanum seger dan ampasnya sedikit."


"Hihihihi, masak sih Mbok. Syukurlah kalo banyak yang suka, rasanya enak karena buatnya pake cinta," bisik Hanum. Mbok Jum dan Tini ikut terkikik mendengar kalimat Hanum


"Eh itu, Bapak sudah selesai mandi. Cepet bawa piringnya ke meja makan, Non," celetuk Mbok Jum. Hanum dibantu dengan Tini dan Mbok Jum menyusun piring dan lauk di atas meja.


Papa Alex menghela nafas berat sebelum memulai pembicaraan. Mama menatap Papa seolah siap mencari kesalahannya.


"Num, Papa minta maaf kalau keputusan Papa menyerahkan bangunan panti beserta tanahnya itu kepada perusahaan Pak Eko," Mama ingin menyela tapi Papa mengangkat tangannya meminta Mama menahan segala pertanyaannya.


"Lantas Papa tanya, hal apa yang harus saya lakukan agar Pak Eko bisa memaafkan saya. Kalau untuk memisahkan anak saya dan menantu saya sekarang, Papa bilang dengan tegas. Tidak bisa, selama anak saya masih mau mempertahankan rumah tangganya." Alex, Hanum dan Mamanya tersenyum mendengar penjelasan Papa.


"Pak Eko bilang ia sudah memaafkan. Jika Alex sudah punya pilihan mau bagaimana lagi, katanya. Lalu kami saling bicara santai dan merambat sampai ke panti, yang menurut dia kurang terakomodasi dengan layak." Pak Beni kembali menarik nafas panjang. Rupanya sangat berat bagi Papa Alex menceritakan kebodohannya di hadapan keluarganya.

__ADS_1


"Lalu?" tanya Mama Alex tak sabar.


"Pak Eko bilang jika dia jadi aku, ia ingin membangun rumah baca di samping rumah panti. Dia juga menyarankan merenovasi rumah panti agar jauh lebih mewah. Papa jadi merasa bersalah, karena beberapa tahun terakhir ga pernah kesana, jadi ga tau bagaimana kondisinya sekarang."


"Akhirnya ... Papa memutuskan mempercayakan pengelolaan panti pada Pak Eko, hitung-hitung sebagai pengobat sakit hatinya pada keluarga kita."


"Maksud Papa panti itu masih milik kita?" tanya Alex.


"Iyaa, memang rencananya mau Papa berikan pada Pak Eko, tapi pengalihan tanah dan gedung kan ga kayak beli permen, Lex."


"Lalu Papa sudah tanya belum sama Pak Eko kemana semua penghuni panti itu?" kejar Mama. Hanum terus menyimak dalam diam semua pembicaraan di meja makan itu.


...❤❤...

__ADS_1


Lanjut malam lagii yaa


__ADS_2