CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Sudah sadar


__ADS_3

Hanum mendekatkan wajahnya ke arah wajah suaminya, ia masih tidak menemukan tanda-tanda, jika Alex sudah sadar.


"Subuh tadi sudah sadar, Kak," ujar Jonathan meyakinkan. Ia menyadari jika kakak iparnya itu, tidak mempercayai perkataannya.


"Wooi, Kak. Katanya laper mau makan. Tadi mau disuap sama perawat yang cantik pake nolak segala, giliran aku yang minta suap eh, dijutekin sama perawatnya," keluh Jonathan.


"Tadi bilangnya mau makan tapi nungguin, Akak ipar. Gih, bangunin," bisik Jonathan seraya menunjuk kakaknya yang masih memejamkan mata.


Hanum menggelengkan kepala, ia takut dan juga malu tentunya. Kalau boleh ia berharap suaminya jangan dulu sadar saat ini. Terdengar seperti istri yang durhaka memang, tapi ia tak ingin tingkah dan ucapannya tadi diketahui oleh Alex.


"Kak, bangun, istri sudah dateng malah dicuekin." Alex masih belum bergeming, tapi bola matanya terlihat bergerak-gerak di dalam kelopak matanya.


"Kak, di sini banyak dokter muda yang cakep-cakep. Ada satu namanya Bryan, sebentar lagi mungkin jadwal kunjungan. Nanti aku kenalin kalo Kak Hanum mau," ucap Jonathan yang ditujukan pada Hanum dengan suara yang sengaja ia keraskan.


"Kamu tuh ada-ada aja, Jo." Hanum terkekeh pelan.


"BERISIK!" Hanum terlonjak saat suara datar Alex menghardik mereka berdua.


Alex membuka matanya sedikit, tatapan kesal ia tujukan pada adiknya yang duduk di samping Hanum.

__ADS_1


"Tuh sudah, akhirnya bangun juga. Hidup dalam kepura-puraan itu melelahkan, Bro. Aku pulang dulu ya, byee." Jonathan segera keluar dari ruang rawat, sebelum Mama dan Hanum menghentikan langkahnya.


"Num, Mama juga mau ketemu dokter sekalian urus pembayaran dulu ya. Kamu temani suamimu dulu." Mama menepuk pundak Hanum lalu memberikan kedipan sebelah mata pada putra sulungnya yang terbaring di ranjang pasien.


Hanum memalingkan wajahnya kembali pada Alex yang terlihat memejamkan mata lagi.


"Mas Alex ... mau makan?" tanya Hanum pelan. Alex masih tidak bergeming seperti tadi saat masih ada Jonathan.


"Mas." Hanum menjawil lengan Alex seperti tadi saat Jonathan menjawil tangan kakaknya.


"Hmm." Alex merespon dengan singkat.


"Ga bisa gerak," keluh Alex dengan nada yang terkesan manja.


"Aku suapin ya." Hanum menumpuk sebuah bantal lagi di kepala Alex. Ranjangnya pun ia angkat sedikit agar suaminya bisa setengah duduk.


"Sakit ya?" Hanum ikut meringis saat bibir Alex mengkerut menahan nyeri di dadanya karena agak tertekuk di bekas jahitannya.


"Kenapa sih pakai ikut nyerang segala, 'kan udah ada polisi juga di sana. Sok jago." Hanum merengut sambil menyuapkan bubur ayam.

__ADS_1


"Aku kayaknya lebih enak ga sadar bisa diciumin sambil dielus, kalo sadar gini malah diomelin." Alex melirik ke arah Hanum yang tertunduk pura-pura tak mendengar.


"Tadi bilangnya kangen, bener?" tanya Alex lagi. Hanum malas menjawab, ia pura-pura sibuk mengaduk bubur di dalam mangkok.


"Haak." Hanum meminta Alex membuka mulutnya saat sendok sudah berada di depan mulut, tapi pria itu tetap mengatupkan mulutnya.


"Masih mau makan ga sih?" Hanum memandang kesal sementara Alex menatapnya dengan bibir masih terkatup rapat.


"Masih," ucap Alex sembari tangannya yang tidak di perban menurunkan tangan Hanum yang memegang sendok.


"Aku cuman pingin bikin kamu tambah kesal aja sama aku, biar lebih di sayang. Katanya semakin aku bikin kesal, kamu semakin sayang."


...❤❤...


Lanjut malam ya 🙏🥰


Mampir sini juga yuuk


__ADS_1


__ADS_2