
Krik ... krik ... krik
Semua yang duduk di sekitar meja makan, terdiam melongo menatap Jonathan yang berlutut di lantai.
"Milah," panggil Jonathan lirih. Ia sudah merasa pegal dan malu harus membuat drama yang baginya sangat memalukan, tapi Jamilah tak kunjung merespon.
"Ee ... aam ... aa-aku." Jamilah tak sanggup berkata-kata. Sungguh ia tidak menyangka Jonathan bakal melakukan hal seperti ini di depan kedua orangtuanya.
"Pa, bilangnya tadi agak pusing. Mama pijatin ya." Mama memberi kode Papa dengan lirikan matanya.
"He? aku sehat kok," protes Papa. Ia tidak rela keasyikannya menonton aksi anak bungsunya terganggu.
"Papa sakit!" Mama menendang kaki Papa di bawah meja.
"Aduh sakit!" Papa meringis tapi kaki yang dipegang bukan kepala.
"Tuh 'kan sakit. Mama pijet Papa dulu ya." Mama menarik paksa tangan Papa ke dalam kamar. Namun sampai di depan kamar, sepasang suami istri dewasa itu, kembali mengintip aksi anak bungsunya dari balik pilar.
Jonathan merasa kecewa bercampur malu, karena lamaran romantisnya tidak disambut baik. Ia lalu berdiri dari berlututnya dan duduk kembali di kursi makan.
"Kamu ga mau nikah sama aku, Milah? kamu masih marah?" tanya Jonathan sedih.
"Apa aku ada bilang ga mau?"
"Jadi kamu mau?"
"Pak Jo bener mau nikah sama saya? Saya ga punya apa-apa untuk dibanggakan dan saya ga punya siapa-siapa lagi. Saya juga bukan seperti Bu Hanum yang berani. Saya hanya pelayan di rumah makan," ucap Jamilah.
"Menurutmu aku punya segalanya? Apa yang melekat di badanku ini pemberian orang tua. Di kantor, aku dikenal sebagai adik CEO dan anak bungsu pemilik perusahaan. Tidak ada yang menganggap Jonathan itu orang yang hebat. Aku ga sanggup membahagiakan orang, bahkan kamu dan Stella sakit hati karena perbuatanku. Justru kalimatmu tadi, akulah yang harus mengucapkan itu. Aku butuh kamu untuk selalu ada disisiku, Milah." Jonathan menggenggam erat kedua tangan Jamilah di dadanya.
Jamilah yang awalnya tersanjung mendengar perkataan Jonathan, mendadak surut karena kalimat terakhir yang diucapkan pria itu. Ia merasa Jonathan hanya butuh dirinya, bukan mencintainya. Perlahan Jamilah menarik tangannya dari genggaman pria itu.
__ADS_1
"Kenapa, Milah?" Jonathan mulai menyadari perubahan sikap Jamilah.
"Ga apa-apa. Em, Bu Devi sama Pak Beni ga lanjutkan makan?" Jamilah mengalihkan perhatiannya.
"Kamu tidak mencintai aku, Milah?" Jonathan mengabaikan pertanyaan Jamilah, ia merasa kecewa dan malu sudah ditolak secara tidak langsung. Jamilah menoleh ke arah pria yang sudah mengganggu tidurnya tiap malam.
"Bapak sendiri bagaimana?" tanyanya lirih.
"A-aku cinta sama kamu," ucap Jonathan terbata. Ia tidak siap dengan pertanyaan Jamilah. Saat akan melamar tadi, ia merasa sangat percaya diri akan diterima karena melihat sikap kekasihnya yang sudah melunak.
Jamilah tersenyum, tapi hatinya mulai meragu untuk meneruskan hubungan mereka.
Kedua orangtua Jonathan yang sedang mengintip dari balik pilar, nampak penasaran dengan apa yang terjadi di ruang makan. Wajah pasangan muda itu tampak tidak bahagia, bahkan putranya seperti menahan emosi.
"Ditolak?" tanya Papa penasaran.
"Duh, kasihan betul anakku," ujar Mama sedih.
"Eehh, jangan. Mereka masih belum selesai. Biarkan mereka selesaikan masalah mereka dulu. Kalau kita tiba-tiba muncul, yang ada malah canggung." Mama menarik tangan Papa agar kembali berdiri di balik badannya.
"Kamu menolakku, Milah?" ulang Jonathan, kali ini suaranya sedikit terdengar bergetar. Jamilah hanya diam, tangannya sibuk mengaduk-aduk kuah sop dalam mangkuknya. Hatinya mengatakan mau, tapi ada sisi takut untuk menjalani pernikahan dengan orang yang hanya butuh tapi tidak mencintai.
"Baiklah kalau begitu." Jonathan memundurkan kursinya dengan gerakan kasar, lalu masuk ke dalam kamar. Jamilah hanya melongo, ia tidak menyangka Jonathan akan meninggalkannya sendirian begitu saja di ruang makan.
Berada di tempat asing dan ruang yang seluas ini, membuat Jamilah merasa tidak nyaman. Ingin langsung keluar tapi takut disangka tidak sopan. Papa dan Mama Jonathan melihat putranya pergi meninggalkan pacarnya sendirian segera menghampiri.
"Loh, Jo di mana, Milah?" tanya Mama pura-pura tidak tahu.
"Em, tadi masuk ke dalam," ucap Jamilah.
"Biar Om panggilkan dulu ya."
__ADS_1
"Jangan, Pak. Saya kebetulan mau pulang. Saya permisi." Jamilah dengan cepat menyambar tasnya dan berdiri, "Eh, terima kasih atas makan malamnya." Jamilah yang sudah berjalan lima langkah, masuk kembali lalu membungkukan badan dengan sopan.
"Ada apa dengan mereka?" Papa dan Mama saling berpandangan bingung.
"Mama juga ga ngerti. Tadi datang baik-baik aja. Apa Jamilah memang ga suka sama Jonathan? Kasihan anak bungsumu itu, banyak wanita di sekelilingnya tapi yang dia mau malah menolak. Giliran yang ga pernah dekat sama perempuan, begitu ketemu satu langsung nikah langgeng sampai punya anak." Mama terkekeh geli.
"Apa kita jodohkan aja ya seperti Alex dulu?" Mata Papa berbinar senang.
"Ga setuju! Kalau Papa punya ide selalu gagal. Ga usah main jodoh-jodohan. Sudah untung bukan wanita ga bener itu yang jadi menantu kita." Mama memajukan bibirnya kesal.
"Ya sudah, cuman usul ga perlu ngegas ngomongnya. Coba kamu temui anakmu dulu, khawatir frustasi lompat dari jendela dia."
"Lompat dari jendela juga biarin, kamar juga lantai satu," ujar Mama tak acuh.
Sementara itu di dalam kamar rupanya Jonathan tidak bermaksud meninggalkan Jamilah begitu saja. Ia sedang berusaha menenangkan dirinya. Jonathan bukan seperti Alex yang dapat menyembunyikan perasaannya.
Jonathan bagai buku yang terbuka, orang akan mudah melihat isi hatinya hanya dengan menatap matanya. Apalagi ini berurusan dengan hati, ia tidak mau terlihat lemah di depan Jamilah.
Begitu ia masuk dalam kamar tadi, Jonathan berjalan hilir mudik sembari mengatur nafasnya. Ia berulangkali menyusut tetes air mata yang tergenang di pelupuk matanya. Berulang kali juga ia merapalkan kata-kata yang menguatkan dirinya sendiri. Kedua tangannya di kebas-kebaskan selama ia berjalan di sepanjang kamarnya untuk menyalurkan emosi di dadanya. Begitu ia merasa siap menghadapi Jamilah, ia membuka pintu dan kembali ke ruang makan. Namun saat tidak menemukan Jamilah di sana, ia mulai panik.
"Ma, mana Milah?" tanya Jonathan pada Mamanya yang sedang membersihkan meja makan.
"Loh, harusnya Mama yang tanya sama kamu. Pacarnya pulang kamu kok ga anterin."
"Pulang?" Rupanya ia tidak sadar sudah meninggalkan Jamilah sendirian lebih dari satu jam.
"Kamu memangnya ngapain di kamar lama sekali?"
Jonathan tidak menghiraukan pertanyaan Mamanya, ia segera menyambar kunci mobil dan mencoba mengejar Jamilah. Ada yang harus ia luruskan sebelum terjadi kesalah pahaman yang lebih jauh.
...❤️🤍...
__ADS_1