CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Pengganggu


__ADS_3

Sementara Jamilah membacakan semua dokumen perusahaan, Jonathan mendengarkan sembari bermain ponsel. Sejak kecil tipe Jonathan adalah belajar sambil bermain, berbanding terbalik dengan sang kakak yang tekun dan rajin.


"Pak saya boleh istirahat sebentar?" Jamilah terengah-engah menahan haus. Ternyata pekerjaan yang semula ia anggap mudah, jika dilakukan sangat sulit.


"Boleh, kamu haus? tunggu sebentar ya." Jonathan menyalakan intercomnya memanggil Cimoy yang duduk di luar ruangan.


"Moy, tolong sampaikan ke OB dong, bawakan es teh dua gelas."


"Duh, maaf Pak bukannya saya nolak, tapi Bapak 'kan sudah punya sekretaris?" sahut Cimoy di seberang sana yang walaupun di sampaikan dengan nada yang santun, tetap saja membuat Jonathan semakin meradang dan malu dibuatnya.


"Biar saya aja Pak yang ambil, di pantry kan?" Jamilah langsung berdiri dari duduknya.


"Kamu tahu di mana pantry-nya?"


"Tahu, 'kan kemarin ambil sendok sama piring di sana."


"Oh, ya." Jonathan mengangguk. Sepeninggal Jamilah ke pantry, Jonathan termenung mengingat saat Jamilah membacakan berkas kantor untuknya dengan semangat.


Matanya yang bulat selalu bergerak dan mengerjap dengan antusias. Juga suaranya yang merdu membacakan dokumen kantor bagaikan dongeng di telinga Jonathan.


"Ehemm! pasti mikir jorok." Jonathan terlonjak saat lamunannya terusik oleh kedatangan William yang sudah duduk di kursi Jamilah.


"Kamu kok bisa langsung masuk sih?" protes Jonathan.

__ADS_1


"Bisalah, ruangan ini kan ada pintunya."


"Maksudku, kok orang-orangan sawah yang di depan itu ga bilang ada tamu."


"Cimoy? dia ku kedipin sama kasih senyum aja dah luluh, Jo."


"Sompret bener tuh sekretaris. Kalau bukan inget itu sekretaris kakak aku, sudah ku lempar dari jendela."


"Hati-hati jangan terlalu benci, nanti jatuh cinta."


"Idiiih, amit-amit! mo nggapain kesini?"


"Ngajak makan siang, kebetulan lewat tadi terus mampir mau lihat calon CEO beraksi."


"Ini Pak es tehnya, maaf saya ga tahu kalo ada tamu. Sebentar saya buatkan lagi." Jamilah menaruh dua gelas es teh di meja Jonathan.


"Ga usah. Saya habis ini mau makan di luar." William menahan langkah Jamilah yang sudah akan keluar ruangan. Matanya memandang takjub pada Jamilah, hal itu ditangkap oleh Jonathan.


"Siapa?" William berbisik pada Jonathan sembari melirik pada Jamilah yang duduk di kursi meja rapat.


"Asistenku, kenapa?" sahut Jonathan dengan nada waspada.


"Gaya banget, baru dua hari kerja sudah punya asisten. Alex yang udah tahunan aja cuman punya Cimoy."

__ADS_1


"Bedalah, mau makan siang di mana?" Jonathan berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Terserah. Dia ga diajak juga? atau kita pesen ajalah makan di sini gimana?"


"Banyak kerjaan dia, ayoo buruan dah laper aku." Jonathan menggiring William keluar dari ruangannya.


"Nama kamu siapa?" tanya William sebelum Jonathan menyeretnya keluar dari ruangan.


"Namanya Jamilah," sahut Jonathan cepat.


"Namaku William, Milah. Salam kenal ya."


"Ga penting. Jamilah, saya keluar makan siang dulu. Kamu istirahat aja ya, bisa pesan makan atau cari di luar ya," pesan Jonathan sembari menghalang-halangi William yang ingin melihat asistennya itu.


"Iya, Pak. Saya bawa bekal kok."


"Kenapa sih kok kayaknya ga suka aku kenalan sama asistenmu? jangan-jangan itu gebetanmu, alasan aja kerja biar bisa berduaan aja di ruangan?" sungut William setelah mereka berdua keluar dari gedung perkantoran.


"Sembarangan aja, aku cuman ga mau kerja dia jadi ga bener. Baru juga sehari masuk, jangan digangguin."


"Ga ganggu kok, malah mau kasih semangat. Lucu anaknya imut, pasti belum 20 umurnya. Nomer ponselnya dong." William menyodorkan ponselnya meminta nomer kontak Jamilah, yang langsung di sambut dengan mata melototnya Jonathan


...❤🤍...

__ADS_1


__ADS_2