CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
bab 146


__ADS_3

Begitu sampai di panti asuhan tempat ia dibesarkan, Hanum langsung berlari kecil ke dalam rumah setelah menyerahkan Sarayu ke pelukan suaminya.


"Ibuuuu." Hanum langsung menghambur memeluk Ibu Anita yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya.


"Hanuum, kangen sekali ibu. Mana cucu ibu?" Wanita pertengahan lima puluh tahun itu mengintip ke balik tubuh Hanum mencari bayi kecil yang selama ini hanya dilihatnya dari foto dan ponsel.


"Itu." Hanum menunjuk ke arah Alex yang berjalan ke arahnya dengan Sarayu dalam gendongannya.


"Loh, kok suami kamu yang gendong?"


"Biar aja, Bu. Biar terlatih jaga anak," ucap Hanum sedikit ketus. Bu Anita urung melanjutkan pertanyaannya, karena Alex dan keluarganya sudah datang menghampirinya.


"Apa kabar, Bu sehat?" Alex mencium tangan ibu panti sekaligus ibu mertua angkatnya.


"Sehat, Nak. Uluuu ... Ini si cantik yang suka ketawa kalau nenek telepon ya." Bu Anita tak sabar meraih Sarayu darj gendongan Alex dan menciumnya lembut, "Cantik banget sih kamu, Sayang."


"Cantik ya Bu, mirip mamanya," ucap Alex dengan niat merayu Hanum yang sedang ngambek. Istrinya itu belagak tak mendengar. Hanum hanya memutar kedua bola matanya keatas menanggapi pujian suaminya.


Kedua orangtua Alex yang sudah tahu pokok pertikaian keduanya, hanya menahan senyum melihat kelakuan anak dan menantu mereka.


"Mari masuk dulu, tapi seperti biasa berantakan dan ribut." Bu Anita mendahului masuk ke dalam rumah panti yang sederhana namun luas.


"Bu Anita ini seperti kami ini orang asing saja. Namanya panti asuhan, tempat anak-anak pasti ramai," timpal Papa Alex tertawa pelan.


"Mana mereka, Bu kok sepi. Masih di sekolah? Ini 'kan sudah hampir sore." Mama memutar kepalanya mencari-cari anak-anak yang selalu berlarian di halaman dan kebun yang mengitari bangunan panti.


Baru saja mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah panti bagian tengah yang luas, keluarga Alex dikejutkan dengan suara sorakan gembira dari anak-anak.

__ADS_1


"Selamat datang ayah, bundaaaaa."


Puluhan anak mulai usia empat tahun hingga SMU berbaris rapi menyambut kedatangan keluarga besar Alex. Mereka bersorak seraya beberapa di antara mereka mengibaskan pom-pom layaknya pemandu sorak.


Ruang tengah tampak semarak dengan hiasan pita serta balon di dinding dan langit-langit. Di belakang anak-anak itu terpasang spanduk besar bertuliskan 'Selamat datang Ayah, Bunda, Bang Alex, Bang Jo, Mba Hanum, Mba Jamilah dan adek Sarayu'.


Mama dan Hanum yang paling expresif mengutarakan isi hatinya, langsung terpekik dan meneteskan air mata.


"Lela, Andi, Kasiiiihh ... Kalian kenapa cepat besaaarrr." Hanum memeluk satu persatu adik pantinya dengan penuh haru. Terakhir ia bertemu mereka, saat ulah Pak Eko yang mengancamnya untuk menjauh dari Alex dengan cara menculik adik-adik pantinya.


Setelah itu Hanum hanya melihat aktifitas mereka lewat video yang dikirimkan Bu Anita setiap harinya. Keluarga pertama tempat di mana ia merasa diterima dan disayangi.


"Mba Hanum tambah cantik, wangi lagi," puji Lela yang duduk di bangku SMP.


"Tapi agak gendut, hihihihi ...." Andi terkikik geli melihat pipi Hanum yang tebal. Senyum Hanum menghilang, ia cemberut dibilang gendut karena itu salah satu perjuangannya dulu saat berusaha menarik perhatian pria yang menjadi idolanya itu.


"Iiihh, lucu."


"Gemesss."


"Tinggal sini ya, dek."


"Adek Sarayu kesini hanya berkunjung, karena Adek Sarayu rumahnya di Jakarta tinggal sama mama dan papanya," ucap Ibu Anita. Wajah anak-anak panti sontak berubah mendung. Mereka semua tentu ingin merasakan keluarga yang sesungguhnya. Ingin mempunyai keluarga utuh dan memanggil orangtua dengan sebutan mama, papa atau ayah, ibu.


"Mba Hanum bawa banyak hadiah. Kalian mau gaaaa ...." Hanum yang menyadari perubahan dari adik-adik pantinya, langsung mengalihkan perhatian dan membawa mereka keluar dari rumah panti.


"Tambah ramai pantinya, Bu?" tanya mama setelah anak-anak panti keluar mengikuti Hanum dan Jamilah.

__ADS_1


"Saya tidak tahu harus bahagia atau sedih kalau penghuni bertembah. Di satu sisi saya senang suasana rumah jadi tambah ramai, tapi saya juga miris banyak anak terlantar tanpa keluarga. Bahkan ada anak yang sengaja ditinggalkan orangtuanya begitu saja," papar Bu Anita sedih.


"Anak bayi, Bu?"


"Bukan. Kalau bayi yang tanpa orangtua biasa di tangani oleh dinas sosial. Anak kecil yang baju merah itu namanya Rio, saat masuk ke dalam panti ia masih usia empat tahun. Dia ditemukan oleh warga sekitar di pinggir jalan saat hujan. Bajunya basah, menggigil kedinginan. Warga membawa ia kemari, tapi saat akan dibawa dinas sosial ia menangis tidak mau ikut mereka karena sudah nyaman bersama kami."


"Orangtuanya di mana? Kenapa anak sekecil itu ada di tengah jalan sendirian?" tanya Papa Alex dengan nada sedikit emosi.


"Tidak ada yang tahu. Jika Rio ditanya ia hanya mengangkat kedua bahunya dengan sedih," ujar Ibu Anita.


"Tega sekali," timpal Mama Alex geram.


"Dua anak yang selalu bersama itu kakak adik, namanya Nilam dan Sari. Mereka masih usia tujuh dan lima tahun saat kedua orangtuanya meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan karena pandemi covid." Bu Anita menunjuk ke arah dua anak yang seakan tidak mau saling menjauh.


"Kasihan." Alex mengusap wajahnya kasar. Sejak mempunyai anak, ia sangat sentimentil tentang semua terkait anak kecil.


"Yang itu, namanya Nabila." Bu Anita menunjuk seorang anak usia sekitar delapan tahun. Bu Anita menarik nafas panjang sebelum melanjutkan penjelasannya, "Dia korban pelecehan seksual guru dan ayah tirinya."


"Biadab!" Jonathan menggeram marah, "Para bajingan itu sudah dipenjara?"


"Mungkin sudah, saya juga tidak mengikuti perkembangan ceritanya. Saya fokus dengan perkembangan mentalnya. Saat pertama kali datang kemari, Nabila selalu terbangun dan histeris saat malam hari. Dia suka melamun dan takut melihat lelaki dewasa. Beberapa bulan terakhir ini kondisinya jauh lebih baik." Bu Anita memperhatikan seorang gadis yang tampak berdiri jauh dari teman-temannya.


"Ibu butuh orang untuk membantu di sini? Nanti saya carikan ya." Mama menggenggam tangan Bu Anita penuh haru.


"Tidak perlu, Bu. Anak-anak lainnya sudah besar, mereka sudah bisa bantu menjaga adik-adiknya sama seperti Hanum dulu. Lagipula kalau ada orang baru, belum tentu mereka cocok. Saya hanya berharap dan berdoa, anak-anak di sini segera dapat keluar dan berkarya di tengah masyarakat. Apalagi jika nasib mereka bagus seperti Hanum, dapat suami Mas Alex yang baik sekali."


Alex tersenyum lebar dengan wajah tersipu malu. Dipandangnya Hanum yang berada di tengah adik-adik pantinya. Saat mata mereka bertemu, Alex memberikan senyum hangatnya. Namun Hanum membalasnya dengan ledekan lidah terjulur keluar.

__ADS_1


...❤️🤍...


__ADS_2