CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Hai, Jamilah


__ADS_3

"Pak, ada yang cari." Kepala Cimoy yang berambut kuning terang, menyembul dari balik pintu.


"Siapa?" tanya Jonathan malas. Ia masih berkutat dengan tumpukan dokumen yang berjilid-jilid.


"Tauk," sahut Cimoy dengan wajah judesnya.


"Suruh masuk." Jonathan malas meladeni sekretaris kakaknya yang tidak menghargai dirinya. Ia heran bagaimana kakaknya itu bisa bertahan punya sekretaris mirip orang-orangan sawah itu.


"Permisi." Suara Jamilah si gadis susu terdengar lembut di telinga Jonathan.


Ia bertahan agar tidak menoleh terlebih dulu. Dalam hati Jonathan merasa geli membayangkan gadis itu terkejut melihat dia ada di ruang pimpinan.


"Duduk." Jonathan masih duduk membelakangi Jamilah. Kali ini ia duduk di kursi meja rapat bukan kursi CEO, "Titipan saya ada?" Tangan Jonathan menggapai-gapai di belakang kursi.


"Ini Pak." Jamilah menyerahkan kantung plastik berisi nasi bungkus ke tangan Jonathan. Lehernya ia panjangkan, berusaha mengintip rupa atasannya, tapi tetap saja tidak bisa terlihat dengan jelas.


"Sudah sarapan?" tanya Jonathan dengan mulut penuh.


"Sudah, Pak."


"Mulai hari ini kamu kerja sebagai asisten saya. Kamu siap?"


"Siap, Pak." Jamilah menyahut dengan lantang. Jonathan menahan senyumannya mendengar suara Jamilah yang bersemangat.


"Gaji kamu sementara standart UMR ga apa-apa?"


"Tidak apa-apa, Pak. Saya diterima berkerja di sini saja sudah senang sekali."

__ADS_1


"Kalau kamu kerja di sini, jualan susumu bagaimana?"


"Bapak kok tahu saya jualan susu?"


"Uhhuukk! ... minum, tolong ambilkan minum." Jonathan segera berdiri dari duduknya. Ia menunjuk-nunjuk gelas di atas meja kerjanya.


"Kamuu??" Jamilah urung mengambilkan minum. Ia tercengang saat melihat pria yang memecahkan botol susu jualannya beberapa hari yang lalu.


"Iyaa ... cepet minumnya dulu." Jonathan memegang lehernya yang terasa mengganjal karena tersedak.


"Ini." Jamilah menyerahkan gelas pada Jonathan dengan wajah bertanya.


"Haaahh ... terima kasih. Kamu duduk di situ." Jonathan menunjuk kursi di depan mejanya, sementara ia duduk di kursi kebesaran Alex.


"Kamu kok ada di sini?" kejar Jamilah penasaran.


"Kamu kan ...."


"Supir?" tebak Jonathan. Jamilah mengangguk ragu, "Yang bilang aku supir kan kamu."


"Jadi kamu? ...."


"Pimpinan ... masih tetap mau kerja di sini?" Jonathan mengembangkan senyum kemenangan.


Jamilah menganggukan kepala pasrah. Keadaan ekonomi keluarganya yang kurang baik, membuatnya harus bekerja keras di usia muda.


"Oke, Jamilah kenalkan nama saya Jonathan. Ingat-ingat, sematkan nama bos kamu ini dalam hati dan sanubarimu yang terdalam."

__ADS_1


"Sementara gajimu standart UMR, kalau kerjamu baik yaaah, bukan tidak mungkin akan naik gaji," ujar Jonathan formalitas seperti pimpinan pada umumnya. Padahal untuk menggaji Jamilah yang sebesar standart UMR saja, ia harus rela meninggalkan hidup foya-foyanya.


"Sudah tahu kerjamu apa di sini?" Jamilah menggeleng menanggapi pertanyaan Jonathan.


"Kerjamu gampang aja, tidak membutuhkan kemampuan khusus. Hanya membaca dengan suara keras."


"Membaca?"


"Iya, membaca semua dokumen yang ada di atas meja itu dengan suara keras sampai saya dengar."


"Itu saja?" Jamilah merasa aneh dengan pekerjaannya. Baru ini ia mendengar ada pekerjaan cukup membaca saja.


"Iya, sekalianlah kamu belajar juga. Jadi, kalau saya lupa bisa tanya kamu."


"Bagaimana?"


"Baik. Jadi aku harus bacain dokumen sampai kamu dengar."


"Satu lagi, saya di sini atasan kamu. Panggil saya Bapak ... Bapak Jonathan," ucap Jonathan mempertegas pengucapan namanya, "Ayo ulangi ... Bapak Jonathan."


"Baik, Bapak Jonathan."


"Mantap." Jonathan mengacungkan kedua jempolnya.


"Oke, bisa dimulai dari sekarang. Kamu duduk di sini, jangan jauh-jauh dari saya lalu baca ini dengan jelas, keras dan jangan terburu-buru." Jonathan memberikan buku company profile pada Jamilah.


...🤍❤...

__ADS_1


__ADS_2