
"Kanayaaaa!" Jonathan berseru tertahan. Tangannya mengepal di atas meja, matanya terbelalak tak percaya melihat Kanaya sudah berada di tengah-tengah pengunjung restoran. Berulangkali ia menoleh ke tempat duduk Kanaya lalu ke tengah ruangan memastikan ia tidak sedang berhalusinasi.
Ingin rasanya ia berteriak menghardik adik dari William itu, tapi tepuk tangan dan seruan semangat dari pengunjung restoran sudah membahana sebelum ia memarahi Kanaya.
"Maju ... Maju ... Maju!" Para pengunjung restoran semakin bersemangat memaksa Jonathan untuk berdiri dari duduknya.
Jonathan merasa kedua kakinya terpaku pada lantai. Dengan susah payah ia melangkahkan kaki mendekati Kanaya yang menyengir kearahnya seolah tanpa dosa. Suara sorakan pengunjung semakin keras saat Jonathan semakin dekat ke arah Kanaya.
"Tembak ... Tembak ... Tembak!" seru para pengunjung restoran.
"Oww, bukan saya ceweknya. Sudah pada ga sabar ya. Sebentar saya panggilkan dulu ya," ujar Kanaya.
"Jangan, Aya!" Jonathan menarik tangan Kanaya yang sudah akan melangkah ke arah kasir. Bibirnya berdesis dengan tajam tapi tetap tersenyum pada para pengunjung restoran yang masih setia menanti aksinya.
"Kepalang tanggung, Kak. Sudah nikmati aja. Kalau di tolak itu sudah resiko sebagai pria," ujar Kanaya balas berbisik. Jonathan ingin pingsan saat Kanaya dengan lincahnya mendekati salah satu pegawai meminta agar memanggilkan Jamilah untuk segera keluar dari dalam dapur.
"Haaii." Kanaya melambaikan tangannya saat Jamilah muncul dari balik pintu dapur.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Jamilah bingung. Ia juga merasa khawatir sudah melakukan kesalahan yang fatal pada kedua pasangan ini.
"Sini dulu." Kananya menarik tangan Jamilah dan mensejajarkannya dengan Jonathan.
Jamilah melirik gugup ke arah pria yang menjulang tinggi di sebelahnya. Wajah Jonathan menegang terkesan angkuh di matanya. Tepuk tangan dan sorakan pengunjung restoran semakin terdengar riuh. Bahkan tak sedikit yang mengambil gambar dan video mereka berdua.
__ADS_1
"Maaf mengganggu kenyamanan makan siang Bapak dan Ibu semua, saya hanya minta waktu sedikit saja untuk dua sejoli ini. Gimana Bapak, Ibu cocok ga merekaaa?" Kanaya bak pembawa acara di panggung berseru dengan semangat.
"Mba, kenapa begini. Saya minta maaf, soal yang tadi. Sungguh saya ga bermaksud." Jamilah mendekati Kanaya dan berbisik pada gadis itu. Di matanya Kanaya sedang marah dan menghukum mereka berdua atas kejadian saat ia mencatat menu pesanan.
"Ssttt, sudah berdiri aja di situ." Kanaya menggiring Jamilah kembali ke sisi Jonathan.
"Hentikan, Aya! atau aku ...." Jonathan membesarkan bola matanya saat Kanaya berdiri menghadapnya.
"Atau apa? Mau ancam aku apa? Jadi cowok itu harus berani," tantang Kanaya. Jonathan menggeram kesal, ia menyesali melibatkan Kanaya ikut dalam sandiwaranya. Seharusnya ia tahu sifat tiga bersaudara itu semuanya jahil dan tidak ada rasa takut pada siapapun.
Jonathan dan Jamilah saling bertukar pandang. Keduanya terlihat gugup dan malu menjadi sorotan banyak pasang mata.
"Bapak, Ibu semuanya kasih semangat untuk Mas ganteng ini dong, biar kuat kalau ditolak." Kanaya berseru semakin kencang. Jonathan berjanji jika pulang nanti dia akan menjitak kepala adik William itu dengan sangat keras.
"Kalau Masnya ga mau saya aja yang duluin. Saya makan siang selalu di sini karena ingin lihat senyum manis Mbanya," celetuk seorang pemuda berkemeja hitam. Sontak Jonathan memberikan tatapan mengancam pada pemuda itu.
"Payaahh, huuuu ...." Teriakan kecewa terdengar saling bersahutan membuat rasa angkuh Jonathan tersentil.
"Jamilah, di depan pengunjung restoran ini ...." Jonathan menggantung ucapannya. Sebelum meneruskan kalimatnya, ia melirik sinis pada Kanaya dan pengunjung restoran siang itu.
Suasana hening seketika, semua orang menghentikan aktifitas makannya. Tidak ada suara denting piring dan sendok beradu. Bahkan dari arah dapur karyawan yang selalu sibuk, tidak terdengar suara peralatan masak sedikitpun. Hanya suara pendingin ruangan yang berhembus kencang di dekat mereka. Membuat tubuh Jonathan dan Jamilah semakin bergetar antara kedinginan dan malu. Semua mata tertuju ke arah tengah restoran. Beberapa kepala karyawan teman Jamilah, menyembul dari balik pintu. Mereka menunggu moment yang jarang terjadi di restoran itu.
"Eheemm." Jonathan melonggarkan kerah kemeja yang terasa mencekiknya. Ia meraih tangan Jamilah dan mengenggam nya dengan sangat erat. Matanya menatap lurus pada kedua bola mata jernih yang selalu membuatnya tersesat di dalamnya.
__ADS_1
Jamilah sedikit terkejut saat Jonathan meraih tangannya dan menggenggamnya. Ia bisa merasakan telapak tangan pria itu sangatlah dingin dan gemetar. Ia tahu Jonathan berusaha mengendalikan dirinya agar tidak terlihat payah di depan banyak orang.
Jamilah membalas genggaman Jonathan. Ia ingin memberi kekuatan pada pria yang masih menguasai hati dan pikirannya itu. Jonathan dapat merasakan adanya respon positif dari kekasihnya. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat, hanya mata yang saling berbicara.
Jonathan sudah lupa dengan banyaknya mata disekitarnya. Jamilah juga lupa ada wanita yang ia kira kekasih baru dari Jonathan yang mengawasinya. Dunia hanya milik mereka berdua saat ini. Perlahan kedua tangan mereka menghangat diiringi senyum yang terbit di bibir mereka.
"Menikahlah denganku, Jamilah. Jadilah istriku, karena hanya kamu yang aku mau." Jonathan berlutut dengan satu kaki dan menatap mata Jamilah penuh harap, "Apa kamu bersedia, Milah?"
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku ya
Kelanjutan dari kisah Nadhira di "Apa salahku Pa"
Rifki adalah sosok yang ahli dalam dunia beladiri dan juga dunia gaib, dia pemimpin dari sebuah geng yang diberi nama Gengcobra, sementara Theo adalah sosok yang juga ahli dalam dunia beladiri dan dia menjabat sebagai pemimpin dari geng yang diberi nama Gengters
Kedua lelaki itu saling memperebutkan Nadhira agar menjadi pasangan mereka, lantas siapakah yang akan memenangkan hati Nadhira? Akankah terjadi perkelahian ketika anggota dua geng saling bertemu?
Ingin tau kelanjutannya? Yuk mampir dinovelku
Jangan lupa dukungannya ya
__ADS_1