
"Pak Jo?" Jamilah pura-pura terkejut dengan kedatangan kekasihnya.
"Aku mau bicara," ulang Jonathan tegas. Kendra yang merasakan hawa pertikaian diantara keduanya tanpa bertanya langsung masuk kembali ke dalam dapur.
"Saya lagi kerja."
"Aku mau bicara. Kalau kamu menolak, aku bisa buat keributan di sini," ancam Jonathan. Jamilah melepas celemeknya, lalu melemparnya ke atas meja. Ia mengikuti langkah Jonathan ke arah parkiran restoran. Keduanya berdiri berhadapan saling melempar tatapan marah.
"Apa maksudnya ini?" Jonathan membuka telapak tangannya dan menunjukkan cicin milik Jamilah di sana.
"Aku kembalikan," ucap Jamilah. Badannya terus bergerak gelisah menyembunyikan kegundahan hatinya.
"Kenapa?" tanya Jonathan denga raut wajah datar dan dingin.
"Bapak bisa berikan itu pada orang yang jauh lebih layak." Jamilah berusaha tidak terjadi kontak mata dengan Jonathan, karena ia khawatir tidak dapat menahan air matanya.
"Siapa orang yang layak itu menurutmu?"
Jamilah mengangkat kedua bahunya. Ia tidak mau terlihat cemburu pada Stella, sungguh memalukan baginya.
"Kamu sendiri ga merasa layak?" lanjut Jonathan.
"Saya ga layak. Maaf, Pak saya harus kerja karena kemarin jam kerja saya banyak terpotong," ujar Jamilah lalu membalikkan badan akan segera kabur dari sana.
"Selama aku belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, kamu tidak boleh masuk ke dalam." Jonathan menarik lengan Jamilah dan mengancamnya.
"Bapak ga ada hak menahan saya!" Jamilah memberanikan diri menatap mata Jonathan. Dalam hati ia merasa senang, Jonathan menahannya. Semarah apapun, wanita selalu mau dipertahankan dan diperjuangkan terlebih dahulu.
Namun perasaan senang itu tidak berlangsung lama, ponsel Jonathan kembali berdering. Dengan sebelah tangannya, Jonathan meraih ponsel dari saku celananya dan menjawab panggilan di ponselnya.
"Kritis? ... rumah sakit mana? ... baik saya segera menyusul kesana, Om." Wajah Jonathan yang semula marah, berubah khawatir setelah menjawab panggilan di ponselnya.
Tangan Jonathan masih mencengkram lengan Jamilah. Sesaat ia nampak bingung apa yang harus dilakukannya.
"Pergi saja, Mba Stella lebih membutuhkan Bapak," ucap Jamilah lirih. Perlahan cengkraman tangan Jonathan meregang. Tepat saat itu Kendra keluar dari pintu restoran membawa kantong plastik hitam besar. Jamilah langsung berlari ke arah Kendra dan memeluk lengannya.
__ADS_1
"Eh, mau ngapain?" Kendra terkejut saat Jamilah datang menabrak dan menyembunyikan wajahnya di lengannya.
"Ikut," cicit Jamilah.
"Aku mau buang sampah. Kamu mau ikut dibuang?" seloroh Kendra. Ia belum sadar apa yang sebelumnya terjadi antara Jamilah dan kekasihnya.
"Sebentar gini aja dulu, please." Jamilah mempertahankan tangannya yang akan dilepaskan oleh Kendra. Ia masih merasakan tatapan Jonathan di punggungnya.
Rahang Jonathan mengeras, air mulai merebak di pelupuk matanya. Sakit melihat gadis yang ia cintai memeluk lengan pria lain. Selama ia menjalin hubungan dengan Jamilah, paling jauh ia hanya berani menggenggam tangan gadis itu. Jamilah, wanita yang ia paling ia jaga karena ia mencintainya sepenuh hati.
Namun rasa tanggung jawab serta perasaan bersalah kembali menyadarkannya, ada sahabatnya yang menunggunya di rumah sakit. Jonathan langsung masuk ke dalam mobilnya dan menuju rumah sakit. Sebelum keluar dari area parkir, ia melewati Jamilah yang masih merengkuh lengan Kendra. Sejenak mata mereka bertemu, keduanya menyiratkan rasa yang sama. Kecewa.
"Kamu kenapa sih?" Kendra akhirnya bisa melepaskan belitan tangan Jamilah pada lengannya.
"Maaf merepotkan. Dia pacar aku, tapi aku minta pisah," ujar Jamilah matanya masih memandang bagian belakang mobil Jonathan yang semakin menjauh.
"Kenapa?" Kendra menarik tangan Jamilah untuk duduk bersamanya di pos keamanan.
Satu demi satu cerita mengalir dari mulut Jamilah, berawal dari pertemuannya dengan Jonathan saat ia masih berjualan susu, sampai akhirnya bekerja di perusahan keluarga Jonathan. Jamilah juga menceritakan tentang Stella dan juga perasaannya sekarang.
"Dua-duanya mungkin. Aku hanya merasa tidak bakal bisa bersaing dengan sahabatnya."
"Takut jatuh hati sekaligus terluka terlalu dalam," ucap Kendra menyimpulkan. Jamilah hanya menyengir membenarkan.
"Dulu aku pernah dalam situasi yang sama sepertimu. Minder sekaligus cemburu berat." Kendra terkekeh pelan mengingat masa lalunya.
"Lalu sekarang gimana hubunganmu?" tanya Jamilah, ia lebih tertarik dengan kisah cinta Kendra.
"Aahh, sudahlah." Kendra mengibaskan tangannya, mencoba mengusir bayangan seorang gadis di benaknya, "Menurut aku, pacarmu tadi benar-benar sayang sama kamu. Cobalah untuk mengerti posisinya dan lebih bersabar sedikit."
"Ga juga. Tadi aja dia lebih memilih menemani cewek itu di rumah sakit." Jamilah mengkerucutkan bibirnya kesal.
"Terserah kamu." Kendra mengangkat kedua bahunya.
Sementara itu Jonathan sudah sampai di rumah sakit dan langsung menuju ruang gawat darurat. Di sana sudah ada kedua orang tua Stella yang sedang mendengarkan penjelasan dokter.
__ADS_1
"Om di sini juga? ada apa sebenarnya?" Jonathan heran sekaligus terkejut saat mendapati Raditya ada juga di sana dengan beberapa orang bawahannya.
"Stella mendadak mengalami serangan jantung setelah istri dari pelaku datang ke rumah meminta keringanan hukuman untuk suaminya."
"Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Masih dalam pengawasan dokter. Kita tunggu saja."
Selang beberapa saat kedua orangtua Stella diminta untuk masuk ke dalam ruang tindakan dan beberapa saat kemudian Papa Stella meminta Jonathan untuk masuk.
"Om, tolong temani saya." Entah mengapa Jonathan merasa gentar menghadapi Stella.
Di dalam ruang tindakan, Stella kembali dikelilingi oleh berbagai alat yang berbunyi. Wajahnya yang tirus semakin terlihat pucat.
"La, ada Jonathan," bisik Mamanya. Perlahan Stella menoleh ke arah pintu masuk. Kondisinya bahkan lebih buruk dari pada awal kejadian. Bibirnya mengulas senyum, tapi matanya menyiratkan keputus asaan.
"Kamu kenapa?" tanya Jonathan lembut. Stella tidak menjawab, ia hanya memberikan senyumannya. Matanya menatap tajam kearah Jonathan seakan ingin melukis wajah pria itu dalam ingatannya. Stella menarik tangan Jonathan agar lebih mendekat kearahnya.
"Jangan lepaskan, Milah," ucap Stella hampir tak terdengar. Jonathan mengerutkan kening, ia sedikit merasa heran mengapa temannya ini seolah tahu ia dan Jamilah bertengkar. Ia hanya menganggukan kepala agar tidak membuat Stella mengeluarkan tenaga lebih banyak lagi.
"Jangan lupakan aku," lanjut Stella, kali ini ada bulir bening yang mengalir turun dari matanya. Jonathan kembali mengangguk, walaupun sebenarnya ia bingung dan juga takut melihat kondisi Stella.
"Aku haus," ucap Stella. Saat Jonathan akan mengambil botol air mineral dari atas nakas, Stella menggeleng dan menyebutkan nama minuman favorite mereka berdua. Jonathan menatap bingung ke arah orangtua Stella. Papa Stella hanya memberi kode dengan anggukan kepala.
"Aku beli dulu ya," ujar Jonathan. Segera ia berlari kearah kantin rumah sakit dan membeli sebuah minuman kotak yang wajib mereka beli saat istirahat sekolah dulu.
Namun saat Jonathan kembali masuk ke dalam ruang tindakan, ia disambut dengan isakan tangis kedua orangtua Stella.
Minuman kotak yang baru saja dibelinya, ia biarkan jatuh ke lantai saat melihat perawat melepas semua alat di tubuh Stella dan menutup tubuh sahabatnya dengan kain putih.
...❤️🤍...
Mampir ke karya temanku yuk
__ADS_1