
"Gimana hubunganmu dengan Jamilah, Jo?" Pertanyaan Mama dengan pandangan menyelidik saat sarapan pagi, membuat teh hangat yang ia minum hampir tersembur keluar.
"Baik," sahut Jonathan singkat.
"Lama ga kamu ajak dia ke sini."
"Nanti aku ajak dia ke rumah." Jonathan mempercepat makan paginya.
"Bagaimana kamu mau ajak dia ke sini kalau kamu sibuk sama perempuan lain," ujar Mama dengan nada sinis.
Ujung mata Jonathan menangkap gerakan kakak iparnya yang gelisah. Ia hanya bisa memaki dan menggerutu dalam hati. Bagaimana bisa semalam ia percaya kalau kakak iparnya yang sama dengan ember bocor, dapat menyimpan rahasia.
"Stella, Ma. Bukan perempuan lain," ucap Jonathan membela diri.
"Mama tahu namanya, tapi dia tetap wanita lain dalam hubunganmu 'kan?" Mama bersikukuh dengan pendapatnya. Jonathan tidak mengelak, ia melirik Hanum yang sudah beranjak ke arah dapur. Mulut Jonathan terkunci rapat tidak berniat membalas kalimat Mamanya. Ibu suri di dalam rumah itu jika berpendapat tidak ada seorangpun berani menyangkal.
Saat Mamanya mengalihkan perhatiannya ke Papa, Jonathan menyusul kakak iparnya yang berpura-pura sibuk mencuci piring. Jonathan tidak mengatakan apapun, ia hanya melirik sinis sembari mencuci tangan.
"Maaf," cicit Hanum. Ia masih terus menunduk tidak mau membalas tatapan menuduh dari adik iparnya.
"Jangan salahkan Hanum, Mama yang paksa dia cerita." Mama menyusul Jonathan sembari membawa piring kotor.
"Tetap aja, kamu ingkar sudah cerita sama Mama," bisik Jonathan tajam setelah memastikan Mama sudah kembali ke ruang makan.
"Tadi malam Mama cegat aku di depan pintu kamar, aku harus gimana kalau Mama sudah maksa." Hanum memasang wajah memelas.
"Ya bilang aja ga tau," cetus Jonathan kesal, "Sesuai perjanjian rahasiaku bocor, rahasiamu juga Kak Alex harus tahu," ancam Jonathan.
"Iiisssh, jangaaann." Hanum menahan tangan Jonathan yang sudah ingin segera kembali ke ruang makan.
"Biar impas." Jonathan melepaskan pegangan tangan Hanum dan segera keluar dari dapur.
"Kak, tadi malam ada yang diam-diam ngelayap ke dapur." Jonathan membuka suara saat sudah duduk di depan kakaknya.
"Hmmm." Alex merespon singkat dengan mata tetap tertuju ke ponselnya.
"Jooo," desis Hanum. Ia duduk di samping suaminya masih berusaha membujuk adik iparnya agar tidak memberitahukan kelakuan nakalnya semalam.
"Kak Hanum makan mie instan," ucap Jonathan lugas, tak lupa senyum kemenangan terpasang di bibirnya.
__ADS_1
"Aku sudah tahu," sahut Alex datar. Jonathan dan Hanum saling berpandangan bingung, "Suara kalian yang berisik di dapur, aroma mie instan yang tersebar ke seluruh ruangan sampai ke dalam kamar, sudah cukup memberitahuku kegiatan apa yang kalian lakukan semalam," imbuh Alex tetap dengan wajah tanpa ekspresinya. Tatapannya sama sekali tidak beralih dari layar ponselnya.
"Nah, hukum kak. Kasihan calon baby di kasih makan mie instan terus." Jonathan semakin bersemangat membakar emosi Kakaknya.
"Tanpa kamu suruh sudah aku persiapkan." Alex mengangkat wajah dari ponselnya, "Termasuk kamu." Senyum yang terpasang lebar di wajah Jonathan seketika menghilang saat Alex menatapnya tajam.
"Kok aku??"
"Satu-satunya saksi mata semalam kamu, kenapa juga ikut berpesta?" Alex berdiri dari duduknya dengan santai, "Aku berangkat dulu, jangan lupa siang ini ada rapat jangan sampai absen lagi."
Hanum segera menghampiri Alex lalu mengecup punggung suaminya, dan menggumamkan kata maaf.
"Lain kali kalau mau tidur, sikat gigi dulu. Sisa sawi di sela gigimu, ikut kasih laporan semalam," bisik Alex.
...❤️🤍...
Jonathan bergerak gelisah, di depannya Alex duduk memandanginya dengan tajam sementara kepala divisi marketing menyampaikan hasil kerja teamnya.
Ponselnya terus bergetar menampilkan nama Papa Stella. Diintipnya pesan terakhir yang masuk.
📩 Jo, cepatlah datang. Stella menangis terus mencarimu
📩 Saya masih ada rapat, Om
Balasan pesan dari Papa Stella semakin membuat hati Jonathan tak tenang. Saat ia mengangkat kepalanya, tatapan menyelidik dari Alex terasa memaku pinggulnya pada kursi yang di dudukinya.
Begitu rapat dinyatakan selesai tanpa dikomando, Jonathan segera keluar dari ruang rapat mendahului yang lain.
"Jo!" Suara Alex yang tajam menghentikan langkahnya, "Walaupun kamu adikku dan sekalipun Mama dan Papa membelamu kalau kamu tidak bisa menempatkan diri di perusahaan ini, aku tidak segan-segan memecatmu dengan tidak hormat," ancam Alex.
"Sorry, Kak. Aku janji ini ga bakal lama," ucap Jonathan sedikit merengek.
"Ini kantor, biasakan memakai bahasa formal," ujar Alex ketus sembari berjalan menjauh.
"Maaf," ucap Jonathan lirih. Hal semacam ini yang membuat ia tidak suka bekerja menggunakan struktur manajement. Apalagi ini perusahaan keluarga di mana biasa di rumah berbicara santai, tapi berubah serius saat berada di dalam kantor.
Setelah menitip pesan pada Cimoy, Jonathan segera menuju ke area parkir sambil menghubungi Jamilah. Mulutnya mendesah kesal, saat panggilan ponselnya tidak dijawab oleh kekasihnya. Jonathan segera melarikan mobilnya ke arah tempat Jamilah bekerja.
Sementara itu saat masuk kerja, Jamilah terkejut mendapati pemuda yang menempati apartementnya, duduk berbincang ramah dengan Pak Reno manager restoran di area karyawan.
__ADS_1
"Hai," sapa pemuda itu ramah saat melihat Jamilah masuk ke ruang karyawan.
"Kenal?" tanya Pak Reno.
"Kenal," sahut pemuda itu cepat.
"Bagus kalau kenal, jadi bisa bantu Mas nya belajar." Jamilah tidak memberi respon apapun, ia hanya melirik sembari menaruh tas dan jaketnya di dalam loker.
"Siapa?" bisiknya saat Pak Reno lewat di sebelahnya.
"Dia teman Pak Jason yang punya restoran ini. Mau belajar beberapa minggu aja di sini, rencana mau buka restoran juga di kotanya."
"Kita mulai dari mana ... eh, nama kamu siapa ya, kemarin kamu belum sebut nama." Pemuda itu mengulurkan tangannya.
"Jamilah." Jamilah mengatupkan kedua tangannya di depan dada, menolak uluran tangan pemuda itu.
"Aku Kendra, tapi panggil aku Ndra aja ya. Aku kurang suka dipanggil Ken ... Ken," ujar pemuda itu sembari menurunkan tangannya.
Seiringnya waktu, Kendra yang supel dan ramah, semakin akrab dengan semua karyawan di restoran tersebut termasuk Jamilah.
Saat waktu istirahat Jamilah dan beberapa teman lainnya termasuk Kendra, duduk di bilik yang disediakan khusus untuk karyawan yang terletak di luar restoran. Jamilah yang terakhir datang langsung membuka bekal makan siangnya dan melahap dengan tergesa.
"Aku temani, ga perlu buru-buru," ucap Kendra saat Jamilah tersedak.
"Ga enak sama yang lain, jam istirahat sudah mau habis."
"Ga apa-apa, 'kan memang ramai tadi semua juga tahu."
"Iya, tetap ga enak aja," ujar Jamilah dengan mulut penuh.
"Kamu itu mirip temanku," ucap Kendra dengan mata menerawang.
"Cewekmu?"
"Bukan." Kendra terkekeh pelan dan menggeleng, "Maunya sih gitu, tapi aku ga pantas buat dia," lanjut Kendra dengan sorot mata meredup.
"Kenapa?"
"Aku ga punya apa-apa ... aku bukan siapa-siapa," ucap Kendra sedih.
__ADS_1
Sementara mereka berdua berbincang, ada sepasang mata yang menatap keduanya penuh amarah.
...❤️🤍...