CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Bimbang


__ADS_3

Perlahan Stella mengangkat tangannya menyentuh kepala Jonathan yang terkulai di atas ranjangnya. Merasa ada yang menyentuh kepalanya, Jonathan menengadahkan wajahnya menatap wajah kuyu namun dengan sorot mata yang bersinar. Di genggamnya tangan Stella yang tadi mengusap kepalanya.


"Maaf." Kata itu lolos lagi dengan sangat berat dari bibir Jonathan, "Aku janji bakal temanin kamu belanja, ke salon, nonton apapun yang kamu mau ... asal kamu sembuh."


Stella tidak mengatakan apapun, ia hanya tersenyum sendu menatap Jonathan yang sedang mengenggam erat tangannya.


"Baha ... gia," lirih kata keluar dari bibir Stella.


"Kamu juga harus bahagia."


Sementara Jonathan berbincang dengan Stella, mereka berdua tidak menyadari ada tiga pasang mata yang berdiri di dekat pintu masuk sedang memandang keduanya.


Jamilah menunduk saat melihat Jonathan menggenggam tangan Stella dan sesekali mengecupnya ringan.


"Saya keluar dulu ya, Bu," bisik Jamilah di telinga Hanum.


"Mau kemana? di sini aja." Hanum menahan tangan Jamilah agar tetap berdiri di sebelahnya. Suara berbisik di belakangnya membuat Jonathan menoleh, reflek Jonathan melepas tangan Stella. Walaupun Stella mengerti dan sudah dapat menerima kenyataan kalau di hati Jonathan hanya ada Jamilah, tak urung sikap Jonathan tadi membuat sinar matanya redup kembali.


"Gimana kabarmu, Stella?" tanya Alex yang sudah berjalan mendekat ke ranjang Stella. Persahabatan antara adiknya dengan Stella membuat Alex cukup mengenal baik gadis itu beserta orang tuanya.


Stella hanya mengangguk dan tersenyum lalu sesekali menjawab dengan suara lirih dan terpatah saat Alex dan Hanum bertanya padanya. Namun ujung matanya tetap mengawasi interaksi antara Jamilah dan Jonathan.


"Kamu kemari kok ga bilang-bilang?" Jonathan menarik tangan Jamilah ke sudut ruangan.


"Langsung dijemput sama Pak Alex dan Ibu. Saya juga ga tahu kalo Pak Jo ada di sini."


"Maaf aku ga sempat kasih kabar, terlalu panik."


"Ga apa-apa, memang tempat Pak Jo seharusnya di sini menemani Mba Stella," ujar Jamilah seraya menatap ke arah Stella. Saat Jonathan ingin menanggapi perkataan Jamilah, gadis itu sudah beranjak mendekati Hanum yang melambaikan tangan memintanya untuk mendekat.


Stella meminta Jamilah untuk lebih menunduk sedikit agar ia dapat berbisik, "Masih ... bo ... leh ... aku ... pin ... jam?" Jamilah sedikit mengerutkan kening mendengar permintaan Stella, tapi begitu mengikuti arah pandang bola mata Stella ia pun mengangguk.


Jamilah perlahan mundur kembali ke sudut ruangan, melihat dari jauh kedekatan Alex dan Jonathan bersama Stella. Sisi hatinya mengatakan ia tak seharusnya ada di tengah-tengah mereka.


"Dia bilang apa sama kamu?" bisik Hanum yang selalu ingin tahu.


"Cuman ... tanya kabar." Jamilah tersenyum tipis.

__ADS_1


"Oww." Hanum menganggukkan kepala tapi dengan tatapan curiga.


Saat Jamilah akan kembali pulang bersama Alex dan istrinya, Jonathan menarik tangannya dan berbisik pelan, "Maaf mungkin untuk sementara waktu kita akan jarang ketemu, kamu ga apa-apa?"


"Saya ga apa-apa, Pak. Bapak temani Mba Stella aja," sahut Jamilah tanpa menatap langsung ke mata Jonathan. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Sepanjang perjalanan menuju apartment yang disewakan Jonathan untuknya, Jamilah merenungi hubungannya dengan mantan atasannya itu.


Sifat dan karakter yang bertolak belakang, keadaan ekonomi dan sosial yang sangat jauh berbeda, tapi entah mengapa ia mau menjalani hubungan ini. Sampai sekarang pun, walaupun status mereka adalah kekasih, ia masih menjaga jarak dengan Jonathan. Seakan ada tembok tinggi yang menghalangi sehingga ia tidak bisa merasa nyaman menjalin hubungan yang sesungguhnya. Terlihat bagaimana cara ia memanggil kekasihnya tidak ada bedanya saat ia masih menjadi karyawan di kantor Jonathan.


Jamilah mengalihkan pandangannya dari bangunan yang seperti berlarian di luar mobil, ke arah bangku depan. Istri dari kakak Jonathan yang duduk di depannya tampak akrab dan nyaman menyandang gelar sebagai nyonya Alexander. Konon berita yang ia dengar, Ibu Hanum adalah seorang anak yatim piatu yang juga mantan pegawai rendahan di kantor tempat ia juga pernah bekerja, tapi mengapa ia tidak bisa seperti Ibu Hanum yang sepertinya sangat percaya diri.


Jamilah menyandarkan tubuhnya ke arah pintu mobil, matanya mengarah ke lampu jalan yang sudah mulai menyala karena hari sudah mulai gelap. Ia kembali mengingat bagaimana cara Stella berbicara dan memandang kekasihnya. Di sana ada cinta yang begitu jelas. Seketika ia merasa kecil hati karena mungkin cinta yang ia punya tidak sebesar yang diberikan Stella untuk Jonathan.


"Sudah sampai." Suara Pak Alex mengembalikan kesadarannya dari bayang wajah Stella dan Jonathan.


"Kamu tinggal di sini?" tanya Bu Hanum. Perutnya yang sudah mulai agak besar membuatnya sedikit sulit untuk menundukan kepala mengintip apartment tinggi dari balik jendela mobil.


"Iya ... eh, Pak Jo yang kontrakin," ucap Jamilah pelan. Ia sedikit khawatir Alex dan Hanum memandang rendah pada dirinya. Ia yang belum menjadi siapa-siapa, sudah berani menggunakan uang Jonathan untuk kepentingan pribadinya. Namun kekhawatirannya sirna saat melihat senyum teduh dari Pak Alex.


"Terima kasih sudah diantar, saya masuk dulu." Jamilah sedikit membungkukan badannya sopan.


"Sama-sama calon adik ipar." Hanum melambaikan tangannya. Sebutan calon adik ipar yang disematkan istri dari kakak Jonathan itu membuat Jamilah tersenyum gugup.


"Aku ga nyangka loh, Jonathan yang ceweknya ganti-ganti bisa jatuh hati sama Jamilah sampai di kontrakin apartment mewah lagi." Mata Hanum mengerling ke arah suaminya yang memandang lurus tanpa ekspresi.


"Luar biasa, 'kan?" tambah Hanum, karena Alex seperti tidak mendengar perkataannya.


"Hhmmm." Seperti biasa reaksi singkat yang tidak memuaskan dari Alex. Seharusnya Hanum sudah terbiasa, tapi kali ini ia sedikit kesal karena melihat adik iparnya dapat memperlakukan dua wanita sekaligus dengan sangat manis.


Hanum melirik lagi ke arah Alex mencoba menerka-nerka apa sebenarnya isi di benak suaminya itu.


"Kadang aku heran, kalian berdua benar saudara kandung ga sih?" tanya Hanum menelisik wajah suaminya. Alex menoleh sekilas lalu kembali menatap lurus jalanan lagi.


"Apa jangan-jangan salah satu dari kalian asalnya dari panti asuhan, sama seperti aku?"


Kali ini Alex tidak menoleh apalagi terkejut dengan pemikiran istrinya yang absurd (konyol) itu, karena sejak menikah ia sudah terbiasa hidup dalam kejutan-kejutan yang sama sekali tidak mengejutkan.

__ADS_1


Terdengar dengusan nafas kesal dari sebelah Alex, lalu ia melirik ke arah istrinya yang membuncit perutnya.


"Malam-malam minum es krim kayanya enak." Hanum langsung menoleh cepat saat mendengar suaminya bersuara.


"Rasa vanila dua cup pakai chocochip." Alex mengangguk.


"Sama burger." Alex kembali mengangguk.


"Kentang juga." Alex tetap mengangguk ditambah senyuman tipis.


"Sudah?" tanya Alex.


"Milkshake strawberry," ucap Hanum dengan senyum terkembang.


"Siap Mama."


Senyum Alex terkembang lebar tapi hanya di dalam hatinya, rupanya tidak sulit mengubah suasana hati istrinya yang sedang hamil.


...❤️🤍...


Maaf ya libur sehari. Anak masuk sekolah setelah libur panjang, maklum emak2 rempong 🙏😁


Aku bawa cerita bagus lagi niih



PERHATIAN


ini kawasan dewasa banyak mengandung unsur 21++


diharapkan yang belum ada kata dewasa diharapkan


mundur


Akibat obat itu membuat tuan Rey harus meniduri PSK Elza Marita dan karena kesalahannya itu sehingga membuat Elza mengandung tanpa suami.


Follow ig otor zafa_milea

__ADS_1


__ADS_2