
"Benarkah?" Ibu Anita semakin menggenggam erat tangan Hanum.
"Nanti Hanum ceritakan." Hanum mengangguk malu, "Syukurlah Ibu sama adik-adik selamat." Hanum meraih anak panti paling kecil dan memeluknya dengan erat.
"Iya, kami ga tau kenapa tiba-tiba kami disuruh cepat berbenah dan besok pagi-pagi sekali, sudah dijemput untuk pergi ke kota." Ibu Anita mulai menceritakan awal mula bagaimana mereka bisa sampai di kota.
"Bilangnya rumah panti akan di rombak total hanya memakan waktu tiga hari, dan selama itu kami akan diberi tempat penginapan dengan fasilitas lengkap."
"Sampai di kota ternyata kami ditaruh begitu saja di gedung lama bekas rumah susun."
"Untuk kebutuhan kami sehari-hari, kami disuruh mencari uang sendiri dengan cara anak-anak menjual koran, semir sepatu, mengamen. Kami dilarang bertanya hanya dapat menerima perintah."
"Sejak kami sampai di rumah susun itu, Bapak perut buncit yang datang ke panti sudah ga pernah kelihatan lagi, yang ada selalu laki-laki besar banyak tato. Mereka seram sekali, anak-anak takut karena mereka kalo bicara keras dan suka membentak." Ibu Anita memandang anak-anak asuhnya dengan iba.
"Ibu kenapa ga hubungi kami?" tanya Mama Alex.
__ADS_1
"Ponsel saya diambil paksa waktu pagi mau berangkat, jadi saya ga bisa hubungi siapa-siapa lagi. Selain itu saya takut anak-anak di sakiti."
"Dasar baji*ngan memang orang itu," maki Papa Alex dengan geram, tapi sedetik kemudian wajahnya meringis karena cubitan istrinya bersarang di pinggangnya.
"Jaga bicaranya, banyak anak-anak yang denger," bisik Mama Alex.
"Pa, Mas Alex dan Jonathan belum kembali?" tanya Hanum.
"Mmm, mereka masih mengurus sesuatu di kepolisian," ujar Papa. Ibu Anita dan Mama Alex memandang Papa Alex dengan raut wajah tak setuju, tapi Papa Alex berhasil meyakinkan mereka berdua dari sorot matanya.
"Pesanku juga ga dibaca," keluh Hanum.
"Malam ini Ibu Anita tidur di kamar kamu ya, Num. Biar adik-adikmu sementara gelar karpet di lantai. Ga apa-apa kan, sayang? besok Mama beli kasur baru buat kalian," ucap Mama pada ke 12 anak asuh Ibu Anita.
"Ma ... Mas Alex dimana?" Hanum menahan tangan Mamanya saat wanita itu akan beranjak keluar kamar.
__ADS_1
"Aku merasa ada yang ga beres, karena sesibuk apapun Mas Alex pasti kasih kabar. Tolong Mama kasih tau aku. Aku mohon, Ma."
Mama Alex masih terdiam menimbang-nimbang apakah memberi tahu Hanum semalam ini sebuah hal yang bijak.
"Aku tadi dengar adik-adik bicara kalau banyak suara pistol dan ada yang masuk rumah sakit, apa itu Mas Alex atau Jonathan?" desak Hanum lagi.
"Aku cuman pingin tau, Ma. Biar aku tenang malam ini."
"Iya, Alex terluka, tapi dia baik-baik saja." sahut Mama Alex cepat saat Hanum terlihat shock dan memegang perutnya.
"Mama ga bohong, Alex sudah baik-baik saja. Bukan maksud Papa tidak mau memberitahu kamu, tapi tadi keadaan cukup gawat dan kamu sedang hamil muda. Rawan bagi kamu keguguran karena depresi," jelas Papa yang berjalan mendekat.
"Besok pagi kamu boleh menjenguk sama Mama, semoga suamimu sudah sadar. Supaya kamu lebih tenang malam ini, kita lihat keadaan Alex sekarang ya." Papa lalu menekan tombol panggilan video ke Jonathan yang masih berjaga di rumah sakit.
...❤❤...
__ADS_1
Mampir ke karya teman aku yuk