CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Alex sakit?


__ADS_3

Alex hampir saja lupa, ia sedang bersama dengan Ane saat pergi ke Mall. Ia sudah di dalam mobil yang menyala siap keluar dari area parkir, saat wanita itu menghubunginya dan mulai mengomel.


Tanpa perasaan Alex meminta agar Ane menyusulnya di pinggir jalan raya, karena mobilnya sudah terlanjur keluar dari area Mall.


"Aaall, kamu tega banget. Aku sampe lari ngejar kamu sampe keluar Mall." Begitu masuk ke dalam mobil, Ane langsung merajuk. Tangannya sibuk mengipas dan mengusap wajahnya yang sudah basah oleh keringat.


"Maaf." Alex menjawab datar.


"Ada apa sih, kamu kok buru-buru sampe aku dilupain. Mana tadi diteriakin sama pelayan restonya lagi ... kamu belum bayar ya?" sembur Ane kesal.


"Ah ya, maaf. Kasih nomer rekeningmu biar aku transfer," sahut Alex dingin. Ane hanya mendecak kesal melihat reaksi Alex yang bagaikan kayu balok dimasukan lemari pendingin.


Setelah setengah perjalanan Alex memanggilnya, "Ane ...."


"Ya Al," sahut Ane manja sekaligus gembira, karena baru sekali ini Alex membuka percakapan.


"Aku langsung pulang, ga balik kantor lagi. Maaf kamu turun di halte depan ya," ujar Alex tanpa perasaan.


"HAAA??! Kamu mau turunin aku di pinggir jalan??" Ane menatap Alex dengan mata membesar tak percaya.


"Iya. Maaf." Alex langsung menepikan mobilnya dan menunggu Ane turun.


Ane membuka pintu mobil lalu turun dan membanting pintunya dengan kesal. Begitu pintu mobil terutup, tanpa menghiraukan kekesalan Ane, Alex langsung menjalankan mobilnya meninggalkan dirinya begitu saja.


...❤...


"Kamu kok sudah pulang?" Mama Alex terkejut saat mendapati putranya yang gila kerja, duduk bengong di ruang tamu saat masih jam kantor.


Alex hanya diam menggeleng, ia juga bingung untuk apa sebenarnya ia ada di rumah.


Jarum jam bahkan belum genap menunjukan angka empat, biasanya ia masih ada di balik layar laptopnya atau bahkan masih memimpin sebuah rapat.


"Kamu sakit?" Mamanya menempelkan tangan ke dahi Alex.


"Aku ga apa-apa, Ma. Please, Jangan perlakukan aku seperti anak kecil." Alex menurunkan tangan Mamanya dari dahinya.


"Semua anak laki-laki, buat seorang Ibu selamanya tetap anak kecil." Mama Alex tersenyum simpul, "Mau kemana, Lex?" tanya Mamanya saat Alex berdiri dari duduknya.


"... Dapur," jawab Alex setelah terdiam sebentar.


Alex berjalan lurus terus ke arah rumah bagian belakang. Ia hanya menuruti kemana langkah kaki membawanya.


"Den Alex, cari apa?" Mbok Jum tiba-tiba muncul dari arah samping rumah.


"Mmm ... Hanum," ucap Alex spontan, "Saya mau minta dibuatkan teh hangat," tambahnya gugup.

__ADS_1


"Mba Hanum belum pulang, Mbok yang buatkan ya?"


Bodohnya ia jelas Hanum belum pulang karena saat ia keluar dari Mall, Hanum masih berbicara dengan pria sok keren itu.


"Ga usah Mbok, nanti aja."


"Den Alex sakit?" Mbok Jum meneliti wajahnya.


"Ga, saya baik-baik saja," ucap Alex langsung berbalik dan berjalan menjauh.


Ada apa dengan wajahku, kenapa semua mengira aku sakit.


Hampir dua jam Alex hanya bergulung-gulung tidak jelas di atas ranjangnya. Ia yang sehari-hari tidak punya lingkaran pertemanan, dunianya hanya kantor dan kerja sekarang merasa sepi seorang diri jika tidak ada yang dikerjakan seperti sore hari ini.


Alex berjalan ke arah teras, ia mendapati kedua orang tuanya sedang bersenda gurau.


"Tumben masih sore sudah di rumah. Kamu sakit, Lex?" tanya Papanya.


Alex mendecak kesal, sudah tiga orang yang mengira ia sakit hari ini.


"Lagi pingin di rumah aja," jawabnya sambil duduk di salah satu kursi teras.


Belum ada sepuluh menit ia menikmati sore hari, sebuah mobil hitam pajero berhenti tepat di depan rumah. Alex dan kedua orang tuanya saling melemparkan pandangan bertanya.


Tak berapa lama Hanum turun dari kursi depan, sedikit menunduk, tersenyum dan melambaikan tangan pada seseorang di dalam mobil.


"Ga apa-apa. Kamu tadi kan sudah ijin," ucap Mama Alex, "Pulang sama siapa tadi, Num?" lanjutnya.


"Teman, Bu," jawab Hanum. Mama Alex juga tidak berusaha mengejar siapa nama teman Hanum, ia hanya mengangguk dan membiarkan Hanum berjalan masuk.


Papa Alex juga ikut mengangguk saat Hanum melintas di depannya, sedangkan Alex hanya melirik sekilas dari ujung matanya.


Saat berjalan masuk ke dalam rumah, Hanum masih bisa mendengar percakapan antara Alex dan Papanya tentang makan siang berdua Alex dan Ane di luar kantor siang tadi.


Sesampainya di dalam kamar, Hanum langsung melempar tasnya ke atas meja, "Kalo dia memang maunya istri kayak si batang bambu itu, ya bilang aja. Cerai gitu, langsung talak kek. Ga usah pakek ngegantung gini." Hanum terus mengomel kesal.


"Aku tau dari awal yang salah memang aku, nyesel tauk. Kirain baik, aslinya songong banget!"


"Apa aku aja yang minta cerai ya. Dianya juga jijik kan lihat aku, pasti langsung setuju."


Saat Hanum membuka pintu kamarnya ingin ke kamar mandi, Alex sudah berdiri di depan pintu kamarnya, "Aku minta teh hangat," ucapnya lantas langsung berbalik.


Hanum yang sudah siap mandi dengan handuk dan pakaian ganti di atas pundaknya, hanya melongo heran.


Sialan! di sini cuman dianggap pembantu. Kenapa ga sekalian di gaji biar jelas statusku!

__ADS_1


Hanya berbekal pesan dari Mbok Jum, selama masih terikat pernikahan istri wajib melayani suami. Akhirnya Hanum membuatkan teh hangat dan mengantarnya ke ruang makan.


"Ini tehnya, Pak," ucap Hanum. Alex mengerutkan keningnya mendengar sebutan yang disematkan oleh Hanum untuk dirinya.


"Diantar siapa tadi?" tanya Alex.


"Teman."


"Wanita bersuami jalan berdua dengan laki-laki itu perbuatan yang sangat hina," ucap Alex santai seraya menyeruput teh hangatnya.


"Pria beristri juga hina kalau makan siang dengan wanita hanya berdua aja," balas Hanum.


Alex menaruh cangkirnya dan menatap Hanum tajam.


"Kapan Bapak ceraikan saya? jadi Bapak bisa segera menikah dengan calon yang sesungguhnya, bukan saya yang katanya Bapak seorang penipu. Sekarang juga saya sudah siap, silahkan Bapak menalak saya," tantang Hanum.


Alex mendorong kursinya kasar dan berdiri berhadapan seolah menantang Hanum.


"Saya sedang membahas etikamu pulang di antar pria. Sangat tidak tahu malu. Kalo temanmu si Arthur itu memang laki-laki, suruh turun dari mobil saat mengantarmu pulang tadi," tandas Alex tajam. Ia merasa geram karena Hanum sudah semakin berani menantangnya.


"Maaf kalo teman saya tadi tidak sopan, tapi nama teman yang mengantar pulang saya tadi Caroline dan dia wanita, bukan Arthur. Bapak tau saya punya kenalan namanya Arthur dari mana?"


Alex merasa tercekik saat Hanum memandang dirinya seolah menuntut jawaban.


...❤❤...


Follow IG : Ave_aveeii


Jangan lupa yaa 🙏


Love/favorite ❤


Komen bebas asal santun 💭


Like / jempol di setiap bab👍


Bunga 🌹


Kopi ☕


Rating / bintang lima 🌟


Votenya doong 🥰


Rekomendasi karya teman judulnya "Honey! you're my happiness" silahkan diramaikan di sana ya

__ADS_1




__ADS_2