
Pukul lima sore Jonathan sudah pulang dari kantor, dan masuk ke dalam rumah dengan keadaan lelah dan kusut. Seharian penuh ia tidak bisa keluar dari ruangan.
Papanya mengultimatum jika ia tidak bisa mencapai target memahami dan memasarkan satu unit rumah dalam waktu satu minggu, gaji bulan ini dan seterusnya akan di samakan dengan gaji office boy di kantor, sampai ia dapat menjual rumah dan menguasai ilmu perusahaan.
"Menjual rumah itu 'kan bukan tugas di tingkat manajerial ke atas, Pa. Ada bagiannya sendiri, kantor kita ada marketing, 'kan?" Jonathan berusaha mematahkan permintaan papanya saat berdebat siang tadi.
"Benar, tapi papa ingin mendengar bukti dari omong kosongmu tadi. Menjual dan memasarkan adalah keahlianmu, bukan?"
"Be-be ... bu-bukan ...." Jonathan tak mampu lagi berkata-kata.
"Kata siapa menjual dan memasarkan bukan tugas manajerial keatas? kamu kira Papa dan kakakmu Alex mengadakan berbagai pertemuan bukan untuk menawarkan dan menjual?"
"Kan beda Pa. Papa pertemuan untuk buka proyek pembangunan baru, bukan jual satu unit rumah."
"Ow, jadi kamu lebih yakin bisa menawarkan proyek kerjasama baru? lebih bagus itu."
"Eeh, gaa Pa. Bukan itu maksudku ... ya udah, jual satu unit rumah," ucap Jonathan pasrah.
Jonathan menghempaskan jaket kulitnya ke sofa ruang tamu, saat mengingat pembicaraan dengan papanya tadi siang di kantor.
__ADS_1
Saat sampai di ruang keluarga depan televisi, matanya menangkap dua sejoli sedang bermesraan. Ingin ia segera masuk ke dalam kamar, tapi suara Alex yang menyuruhnya duduk, membuat ia menyeret kakinya yang terasa berat mendekati sofa.
"Bagaimana di kantor tadi?" tanya Alex masih dalam posisi berbaring di pangkuan Hanum.
"Kakakmu tadi siang baru ganti perban, jadi agak kaku kalo dibuat duduk," ucap Hanum seolah mengerti arti pandangan Jonathan.
"Disuruh Papa belajar semua tentang perusahaan," ucap Jonathan lesu.
"Bagus itu."
"Kapan sembuhnya?" tanya Jonathan sembari melirik malas pada sepasang suami istri yang saling menggoda, tanpa rasa sungkan pada dirinya yang masih duduk di dekat mereka.
"Kenapa?"
"Baru juga satu hari, nikmatin aja dulu. Aku juga lagi menikmati saat-saat di rumah," ucap Alex sembari mengecup perut Hanum.
Sudut bibir Jonathan terangkat sinis, melihat kelakuan kakaknya yang aneh di matanya.
Jonathan berdiri dari sofa, lalu berjalan ke arah kamarnya. Saat melewati sofa yang di duduki kakaknya dan Hanum, Jonathan berbisik tapi cukup keras untuk di dengar keduanya.
__ADS_1
"Dulu katanya jijik, bilangnya bau. Hati-hati, cuman modus jangan mau ditipu." Jonathan menyeringai saat melihat raut wajah Hanum berubah keruh.
Ia tidak peduli saat mendengar kakaknya menjerit. Entah apa yang terjadi di ruang keluarga, Jonathan terus melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Salah sendiri pamer kemesraan di depan mata." Jonathan menggerutu kesal karena iri.
Ia lalu duduk di depan meja belajarnya, Jonathan mengacak-acak rambutnya. Kepalanya pusing memikirkan nasib dompet dan rekeningnya di kemudian hari.
Jonathan mengambil buku catatan lalu membuka semua internet banking miliknya, lalu mencatat jumlah saldo yang ia miliki. Ia juga membuka dompet, celengan dan mencari-cari uang yang mungkin terselip di kantong celana dan jaket yang tergantung di belakang pintu.
"Semuanya cukup dan menjamin kehidupanku sampai empat bulan kedepan," ujarnya yakin setelah menghitung dengan rinci apa yang ia miliki.
"Kalau ga pergi ke klub malam dan nongkrong sama anak motor, aku bisa bertahan enam bulan." Jonathan mulai mencoret beberapa bagian yang ia rasa tidak penting.
"Makan siang dan sarapan dari rumah aja, ga usah jajan. Bisa bertahan delapan bulan. Waah, cukup nih."
"Tapi ... ini kalau aku mencapai target dan kerja sendiri. Kalau pakai sekretaris jadi bisa bertahan lima bulan doang." Jonathan mencoret beberapa bagian dan menambah budget gaji sekretaris.
"Pakai sekretaris ga ya?" Jonathan mulai galau.
__ADS_1
...🤍❤...
Lanjut sore lagi ya