
Jamilah masih berdiri tegak di depan meja Jonathan, ia masih tidak rela atasannya itu menahan ponselnya.
"Kenapa?" Jonathan melirik sekilas lalu kembali pura-pura menekuni dokumen yang ada di tangannya. Jamilah tidak berkata apapun, ia kembali ke tempat duduknya dengan menahan perasaan jengkel.
Benar ia membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup, tap lama kelamaan sikap atasannya ini seperti mencekiknya. Ia merasa tidak bebas dan dirantai meski sudah di luar jam kerja. Ia yang seorang wanita mandiri dan bebas, tidak terbiasa dengan segala bentuk perhatian yang terkesan memaksa itu.
Pulang kerja hari ini, Jamilah bertekad melakukan sesuatu demi kewarasan dirinya. Ia mematikan ponselnya sehingga atasannya itu tidak lagi mengganggunya dengan pertanyaan yang tidak jelas.
Esok paginya, Jamilah disambut dengan raut wajah kusut dari Jonathan. Begitu atasannya itu masuk ke dalam ruangan, hawa dingin dan kaku langsung terasa. Jamilah pura-pura tidak tahu, ia mempersiapkan selembar kertas yang akan di serahkan kepada Jonathan.
"Di mana kamu semalam?" tanya Jonathan dengan nada datar yang menuduh.
"Saya di rumah, Pak."
"Kenapa saya hubungi ponsel kamu tidak aktif?"
"Kehabisan daya, Pak. Maaf."
"Kamu sengaja?"
"Tidak, Pak."
"Pergi sama siapa kamu?" Jonathan mulai jalan mendekat ke tempat Jamilah.
"Saya di rumah, ga pergi kemana-mana." Jamilah mulai merasa takut. Jonathan menghampirinya seperti ingin menyergap buruannya.
__ADS_1
"Bohong!"
"Saya ga bohong." Jamilah berdiri dari kursinya dan sedikit berjalan mundur. Ia benar-benar takut sekarang. Jonathan tidak seperti saat ia kenal pertama dulu.
Dari jarak yang cukup dekat sekarang, Jamilah bisa melihat cekungan di bawah mata Jonathan yang sedikit gelap. Rupanya atasannya ini hampir tidak tidur semalaman.
"Kamu tidak suka saya perhatikan?"
"Bukan begitu. Ponsel saya memang mati," kelit Jamilah. Ia berharap Jonathan tidak bisa melihat kebohongan di nada suara dan matanya.
"Kamu tahu ga sih, saya itu khawatir sama kamu. Kamu tinggal di tempat seperti itu sendirian." Jonathan mulai sedikit meninggi nada suaranya.
"Maaf," cicit Jamilah. Ia menggenggam erat selembar kertas yang terlipat di tanganya.
"Kemarikan ponselmu. Kamu tahu kan tidak ada ponsel di jam kerja." Jonathan mengulurkan tangannya.
Ia merasa diperlakukan tidak adil, sementara ia hanya berkerja seorang diri di ruangan Jonathan, ponselnya itu hanyalah satu-satunya teman dalam kesepian saat ia suntuk. Sedangkan di luar ruangan, rekan kerjanya yang lain bisa bersenda gurau dan tetap bisa menikmati kebebasan mereka.
"Kamu kerja langsung di bawah saya, jadi peraturan dalam ruangan ini saya yang tentukan." Tangan Jonathan masih menengadah meminta ponsel Jamilah.
Namun bukan ponsel yang Jonathan terima, tapi lipatan kertas yang sejak tadi Jamilah genggam.
"Apa ini?" tanya Jonathan curiga. Jamilah merapatkan bibirnya, ia siap dengan segala kemungkinan. Mata Jonathan masih mengawasinya sementara tangannya membuka lipatan kertas yang diberikan Jamilah.
Mata Jonathan menyipit dan keningnya berkerut dalam saat membaca nama Jamilah di sana dengan keterangan mengundurkan diri.
__ADS_1
"Apa ini?" Jonathan mengacungkan lembaran kertas di depan wajah Jamilah.
"Saya mau mengundurkan diri, Pak."
"Ow, sudah ga butuh kerjaan, kamu sudah banyak uang?" Jonathan berkata sinis.
"Bapak tahu keadaan saya, jelas saya masih membutuhkan uang. Saya mengundurkan diri karena ditawari teman kerja di restoran dekat tempat tinggal saya." Jamilah tidak berbohong. Saat jenuh dan kesal dengan tekanan perhatian dari atasannya namun yang tidak diharapkan, teman Jamilah membawa kabar jika tempatnya bekerja membutuhkan pelayan tambahan.
"Di gaji berapa kamu di sana?" tanya Jonathan tak suka.
"Cukup untuk kebutuhan hidup saya, Pak." Jamilah enggan menyebut secara rinci nominalnya.
"Berapa? sebutkan saja, aku bayar kamu lebih dari itu bahkan dua atau tiga kali lipat," ujar Jonathan angkuh.
"Maaf Pak, tidak perlu. Saya memang butuh uang, tapi itu bukan satu-satunya yang membuat saya mengundurkan diri."
"Apa yang membuat kamu mengundurkan diri? oww, barangkali kamu ada hubungan gelap dengan pemilik restoran itu? atau dengan teman yang mengajakmu kerja di sana? kamu dijanjikan apa sama mereka?" Jonathan terus memberondongnya dengan pertanyaan dan tuduhan yang tidak masuk akal baginya.
"Bukan." Jamilah menggeleng. Ia sudah semakin muak dengan tingkah atasannya.
"Lalu apa?? saya atasanmu, saya berhak tahu!" seru Jonathan dengan suara hampir berteriak.
"Saya ga nyaman kerja sama Bapak," ucap Jamilah menunduk.
"Siapa yang membuatmu nyaman? temanmu yang ajak kamu keluar dari sini? bos barumu di restoran itu? atau jangan-jangan William yang minta kamu keluar dari sini. Ngaku aja, Milah!"
__ADS_1
"Pak Jo kenapa sih? saya hanya mengundurkan diri, kenapa pertanyaannya sampai kemana-mana?" Jamilah sudah semakin kesal. Ia merasa perkataan Jonathan melecehkannya sebagai seorang wanita.