CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Hati yang sepi


__ADS_3

"Kenapa, Pak?" Reno manger restoran tempat Jamilah bekerja keheranan saat melihat raut wajah Jonathan yang seolah melihat hantu. Ia langsung menoleh ke arah belakang, kalau-kalau benar teman Jamilah ini melihat hantu di balik tubuhnya.


"Tidak apa-apa, saya tadi tunggu Jamilah. Sekarang saya mau pulang," ucap Jonathan cepat.


"Ow, bawa kendaraan, Pak?" tanya Reno lagi sembari melihat ke area parkir yang tertinggal hanya motor milik karyawan.


"Saya naik taxi online," ucap Jonathan sembari memusatkan perhatian pada ponselnya.


"Saya bawa mobil, kalau searah mungkin bisa saya a---"


"Tidak! ... maksud saya tidak perlu repot-repot, saya bisa pulang sendiri." Jonathan menyadari reaksinya yang terlalu berlebihan lalu memaksakan senyumnya.


"Ow, oke." Reno mengangguk lalu berjalan ke arah mobilnya dengan kening berkerut heran.


Sampai di rumah, Jonathan langsung masuk ke dalam kamar dan mengirim pesan singkat pada Jamilah tanpa mengganti bajunya terlebih dulu.


📩 Milah, sudah tidur? besok masuk pagi atau siang? jalan yuk.


Jonathan memandangi layar ponselnya yang hitam dan tampak tenang. Tidak ada tanda-tanda akan balasan pesan dari Jamilah.


Jonathan mendengus kesal lalu menyambar handuk dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Saat sudah sampai di depan pintu, nada bunyi pesan masuk terdengar. Secepat kilat Jonathan menyambar ponsel lalu segera membukanya.


📩 Jooo, besok temanin aku ke salon yuk. Aku mau ganti warna abu-abu, lagi trend nih


Jonathan melempar ponselnya ke atas ranjang saat tahu jika Stella yang mengiriminya pesan. Tahu jika pesannya dibaca tapi tidak dibalas, Stella langsung menghubungi Jonathan.


"Apaa?!" sembur Jonathan tanpa kata sapaan pembuka.


"Iihh, kaget aku. Jonathan sekarang kasar," ucap Stella dengan nada merajuk.


"Buruan, mau bilang apa??" kejar Jonathan.


"Itu tadi yang aku kirim pesan."


"Aku sudah baca, ngapain pakai nelpon segala."


"Kan belum dijawab."


"Aku repot," tandas Jonathan singkat.


"Bentaran aja, Jo. Ya, ya, ya," desak Stella.


"Ga bisa ya ga bisa, Stella! keras kepala sekali sih." Jonathan langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu reaksi dari Stella.

__ADS_1


Jonathan yang sudah lelah secara fisik dan pikiran, sudah lupa dengan janjinya yang tidak akan menyakiti hati gadis itu lagi.


...❤️...


Jamilah baru membalas pesannya di pagi hari dengan jawaban yang cukup singkat.


📩 Masuk pagi, mau jalan kemana?


📩 Nonton yuk, nanti siang aku jemput


Jonathan membalas pesan Jamilah dengan senyum terkembang. Menjelang jam tiga siang, Jonathan sudah mengemasi semua pekerjaannya dan siap meluncur ke restoran tempat Jamilah bekerja. Baru saja akan membuka pintu, Stella masuk ke dalam ruangan.


"Sudah mau pulang?" tanya Stella.


"Iya, aku mau kencan kenapa?"


"Sama Jamilah?" tanya Stella dengan nada sedih.


"Iya." Sejak dulu Jonathan sudah terbiasa terbuka pada Stella, tentang semua wanita yang dekat dengannya dan Stella tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, karena ia tahu Jonathan tidak akan lama dengan satu wanita.


"Mmm ... aku boleh ikut ga?"


"Gak!" seru Jonathan tegas lalu berjalan keluar ruangan begitu saja.


Jika dulu Stella ingin ikut Jonathan berkencan tidak masalah bagi Jonathan. Stella selalu menjadi prioritas utama dibanding wanita yang sedang dekat dengannya. Namun kali ini Stella menyadari kalau gadis pelayan restoran itu berbeda.


Stella duduk seorang diri di restoran makanan cepat saji di sebuah mall. Dilahirkan sebagai anak tunggal dengan orang tua yang sudah lanjut usia, membuat Stella sering merasa kesepian dalam rumah mewahnya.


Di bangku SMU hanya Jonathan teman terdekatnya. Ia tidak bisa berteman dengan sesama wanita, karena para wanita itu selalu cemburu kedekatannya dengan Jonathan.


Stella menjilat es krim yang hampir meleleh di tangannya. Biasanya Jonathan yang menemaninya jika ia merasa jenuh dan kesepian seperti sekarang ini.


"Jarinya kelihatannya enak, ya?" Suara yang terdengar akrab terdengar dari bangku belakang.


"Om Radit?"


"Sama siapa?" Keduanya melontarkan pertanyaan yang sama. Serempak keduanya tertawa.


"Aku sendirian, kalau Om?" tany Stella.


"Tadi ketemu teman di lantai atas, turun kebawah lihat kamu lagi jilat-jilat tangan."


"Garing banget," cibir Stella. Percakapan mereka terhenti saat Stella melihat Jonathan berjalan ke arah tangga berjalan dengan menggandeng tangan Jamilah.

__ADS_1


"Mau ikut jalan sama mereka?" Raditya mengikuti arah pandangan Stella.


"Ga, mereka mau nonton," ucap Stella sendu.


"Kamu mau ikut nonton juga? biar saya temanin," tawar Raditya. Entah mengapa ia merasa kasihan dan peduli dengan gadis ini.


"Ga mau, nanti aku dikira cabe-cabean kalau jalan sama om-om," cibir Stella. Wajah yang semula sendu itu kembali ceria.


"Ya udah, saya temani makan di sini." Tanpa menunggu persetujuan Stella, Raditya ke arah kasir dan memesan menu yang sama dengan Stella.


Mereka berdua berbincang santai sembari makan. Stella baru tahu jika pria dewasa di hadapannya itu adalah orang nomer satu di kesatuan polisi kotanya.


Raditya bercerita tentang kesehariannya sebagai polisi dan Stella bercerita tentang kisah remajanya yang menurutnya bahagia tapi terdengar menyedihkan di telinga Raditya.


"Kamu sering jalan sendirian?"


"Kadang sama Jonathan kalau dia lagi ga sibuk atau ga punya cewek." Wajah Stella kembali muram.


"Sebaiknya kamu mencari teman baru yang banyak, jangan terlalu berharap pada satu orang saja. Kalau satu orang itu mengecewakan kamu, tidak bakal sesakit ini," ujar Raditya berusaha bijak.


"Iiih, siapa juga yang sakit hati. Biasa aja kali, bentaran juga putus mereka," ujar Stella membohongi diri sendiri.


"Saya hanya menyampaikan pendapat saja, diterima syukur tidak juga ga apa-apa."


"Hahahaha, Om tuh yang baper." Tawa Stella meledak, "Lagian ga ada yang mau berteman sama aku selain Jonathan." Raut wajah Stella dengan cepat meredup kembali.


"Kamu mungkin belum coba."


"Udah ah, topiknya sudah basi." Stella membuka tasnya lalu mengambil kapsul berwarna merah dan langsung menelannya dengan cepat.


"Itu obat apa sih?" tanya Raditya penasaran.


"Vitamin biar cantik," ucap Stella asal.


...❤️🤍...


Aku bawa cerita bagus lagi untuk teman-teman



Cuplikan bab


Mas Pras menarik tanganku, dan membawaku masuk ke dalam kamar. "Kamu itu apa-apaan sih, berdebat seperti itu dengan ibuku, Dek?"

__ADS_1


"Mas, tapi ibu yang mulai. Ibu mengungkit uang itu lagi. Apa aku harus selalu diam? Apa selama ini aku kurang mengalah pada ibu?" ujarku dengan parau, rasanya untuk mengungkapkan kesesakan yang kurasa begitu sulit sekali. Aku hanya bisa meneteskan air mata. Aku lelah menjalani situasi rumit ini.


Melihat air mataku, mas Pras mendekatiku dan mengusapnya. Dia tidak jadi memarahiku saat aku mengatakan semua isi hatiku. Dia harusnya paham betul apa yang sebenarnya aku rasakan. Sudah tidak pernah diberi nafkah tapi masih harus dirong-rong oleh keluarganya.


__ADS_2