CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Dunia milik berdua


__ADS_3

Jamilah mengembangkan senyumannya sangat lebar. Jika sebelumnya ia merasa ragu dengan permintaan Jonathan untuk menikahinya, tapi kali ini ia merasa pria yang sedang berlutut di depannya itu sangat tulus dan bersungguh-sungguh.


"Terima ... terima ... terima!" Suara membahana diiringi tangan yang bertepuk seirama memenuhi restoran itu. Ada juga pengunjung yang mengetuk-ngetuk piring dengan sendoknya, menambah semakineriah sekaligus menegangkan bagi Jonathan.


"Aku mau," bisik Jamilah.


"Apa?" Jonathan mengerutkan kening. Riuhnya suasana restoran membuat ia tidak dapat mendengar jelas ucapan Jamilah.


"Sssttt!" Pak Reno selaku manager restoran, menempelkan telunjuknya di depan bibir agar pengunjung restoran diam sejenak. Seketika suasana kembali hening, "Ulangi, Jamilah," pinta Reno.


"Aku mau," ucap Jamilah dengan kepala tertunduk.


"Horeeeee!!" Semua pengunjung restoran dan para pelayan serempak berseru gembira. Tepuk tangan kembali membahana. Lagu-lagu romantis segera dimainkan di pengeras suara. Seorang teman kerja Jamilah, diperintahkan Reno agar melepas celemek yang melingkar di pinggang Jamilah.


"Ini harimu, Jamilah nikmatilah berdua dengan calon suamimu," ucap Reno saat Jamilah terlihat kebingungan.


"Pak ... Itu." Jamilah menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Jonathan. Ia baru sadar akan keberadaan gadis yang tadi satu meja dengan kekasihnya.


"Aya, sini!" Jonathan menyadari itu, ia memanggil adik William yang sedang berbincang dengan Reno, "Kenalkan ini namanya Kanaya."


"Selamat ya, Kak. Semoga Kak Jo cepat menepati janjinya untuk menikahi Kak Milah." Kanaya mengulurkan tangannya dan menggenggam erat tengan Jamilah.


"Maaf, saya ...."


"Dia adiknya William. Antara kami tidak ada apa-apa, dia sudah seperti adik buatku sama seperti Maura," ujar Jonathan sembari mengacak rambut Kanaya.


"Permisi Pak, mejanya sudah siap." Seorang pelayan wanita mengarahkan Jamilah dan Jonathan di meja yang sudah dikhususkan untuk mereka berdua.


"Aku?" Kanaya menunjuk hidungnya saat menyadari hanya ada dua kursi yang disediakan.


"Kamu pulang duluan ya," ujar Jonathan sembari mengeluarkan beberapa lembar kertas berwarna merah dari dalam dompetnya.


"Tega banget. Giliran sudah dapat yang di mau, main usir aja." Kanaya menggerutu kesal. Jonathan mengabaikannya, ia mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Kanaya untuk menjauh.


Sepeninggal Kanaya pulang, Jonathan dan Jamilah menikmati waktu berduanya. Tak banyak yang mereka perbincangkan saat menikmati makanan yang disajikan. Keduanya lebih banyak saling pandang dan tersenyum. Semua sudan terasa cukup bagi mereka.

__ADS_1


Sementara itu, sepasang suami istri yang baru saja mendapatkan anugrah seorang bayi perempuan sedang menikmati waktu bertiganya.


Alex merangkul pundak istrinya yang sedang menyusui bayinya yang belum genap berusia dua bulan. Ia menunduk dan mencium gemas pipi Sarayu yang menggembung karena penuh dengan ASI.


Hanum menyipitkan mata menatap tingkah suaminya. Bukan hanya sekali suaminya itu mencium bayinya yang sedang menyusu, bukan karena ia terganggu melainkan semakin lama bibir suaminya menyentuh kulit dadanya bukan pipi Sarayu.


"Ibu menyusui itu berapa lama ya?" tanya Alex.


"Tergantung ibu dan bayinya. Minimal enam bulan, tapi aku maunya kasih Sarayu ASI sampai usia dua tahun," ujar Hanum optimis.


"Buset! kok lama sekali?" Wajah Alex yang tadinya tertelungkup diantara pipi Sarayu dan dada mamanya, langsung terangkat dan memandang wajah Hanum seperti tidak terima dengan ucapan istrinya.


"Emang gitu. Coba aja tanya Mama."


Alex terdiam, ia masih memandangi putrinya yang seolah enggan melepas pu ting susu ibunya.


"Kenapa? Harusnya bersyukur, Sarayu mendapat ASI syukur-syukur bisa sampai dua tahun. Di luar sana, banyak bayi yang kurang beruntung harus minum susu formula karena kondisi." Hanum mengusap pipi suaminya. Tanpa perlu dijelaskan, dan tidak akan mungkin Alex mengatakan isi hatinya, ia sudah paham apa yang ada di dalam pikiran suaminya.


"Iya, jadi kira-kira masih 23 bulan lagi?" Alex memandang Hanum sendu. Matanya seperti seorang anak yang tidak diperbolehkan jajan sembarangan.


"Ya ampun sampai dihitung segala." Hanum tertawa geli.


Ia menarik tangannya yang melingkar di pundak Hanum. Kepalanya ia palingkan tak mau menatap wajah Hanum karena tak hentinya menggoda dirinya.


Hanum merebahkan Sarayu yang sudah pulas dan kenyang di dalam ranjang bayi. Lalu ia mendekati suaminya kembali. Hanum berbisik di telinga Alex, tak lama pria itu memandangnya dengan wajah ceria.


"Beneran sudah selesai?" tanya Alex bersemangat. Hanum menganggukkan kepala dengan senyum menggoda.


Alex menurunkan tangannya dan menyentuh bagian inti milik istrinya untuk memastikan kebenarannya. Begitu tangannya tidak menemukan benda empuk yang selama sebulan ini menghalangi penjelajahannya, senyum Alex semakin lebar.


"Sekarang?" tanya Hanum seraya mengedipkan sebelah matanya. Alex seperti biasa, ia tidak mau banyak kata-kata. Baginya langsung bertindak dapat menghemat waktu dan tenaga. Ia langsung menarik tangan istrinya, lalu merebahkan tubuh Hanum dengan sangat perlahan.


Pemanasan demi pemanasan mereka lakukan secara bertahap. Alex yang sudah cukup lama menunggu saat ini, tidak mau berlama-lama khawatir bisa terlalu panas dan akhirnya malah hangus. Ia langsung membuka penutup terakhir milik Hanum.


Begitu melihat benda yang sudah sebulan lebih tak ia lihat, Alex diam termenung di antara kedua kaki Hanum yang terbuka.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Hanum saat melihat suaminya hanya diam tidak melakukan apa-apa. Rasa rendah dirinya kembali muncul. Ia langsung membayangkan bagian intinya berubah jelek dan tidak menarik lagi setelah melahirkan Sarayu. Melihat Alex tidak menjawab, Hanum langsung merapatkan kedua kakinya kembali.


"Kalau jijik, jangan dipaksakan" ucap Hanum sambil menahan tangis.


"Bukan begitu, Sayang." Alex menyadari kesalahannya. Ia memeluk tubuh Hanum yang sudah tidur dengan memunggunginya, "Kamu tahu apa yang aku pikirkan tadi?" lanjut Alex dengan suara lembut.


"Pasti jijik."


"Sama sekali bukan. Tidak ada yang berubah di sini." Alex menyentuh kembali bagian inti istrinya, seketika desa han lirih keluar dari bibir Hanum.


"Aku tadi tiba-tiba teringat saat kamu berjuang melahirkan Sarayu. Aku melihat kamu menjerit, berdarah dan dijahit. Aku tadi takut, kalau aku tadi memaksa masuk akan membuatmu kesakitan lagi," papar Alex. Tangannya terus bermain di bawah tubuh istrinya.


Hanum membalikkan badannya menghadap Alex. Wajahnya menahan hasrat karena perbuatan nakal jari suaminya pada bagian sensitifnya.


"Bener bukan karena jijik?"


"Apa yang harus dianggap jijik? Justru aku bahagia dan takjub, melihat anakku lahir dari tubuh wanita yang aku cintai."


"Sakit juga aku tetap mau," ucap Hanum dengan suara mendesah.


"Kamu yakin? Aku ga tega." Alex memandang istrinya sendu. Ia pun berusaha antara menahan hasrat dan rasa iba.


"Sakitnya beda."


"Beda gimana?"


"Sakitnya enak," ucap Hanum seraya semakin merapatkan tubuhnya pada suaminya. Alex tersenyum melihat mata Hanum yang setengah terutup.


"Baiklah, aku akan coret kata sakitnya, tinggal sisa kata enaknya untuk kamu." Alex kembali mengambil posisi di atas tubuh Hanum.


...❤️🤍...


Sisanya lanjutkan dengan imaginasi masing-masing ya 🙏🤭


Jangan lupa mampir ke dua novelku yang masih baru ini

__ADS_1




__ADS_2