CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Cincin


__ADS_3

"Kenapa dia?!" tanya Raditya panik. Ia melihat kedua wanita dari lembaga psikologi itu mulai kewalahan meredakan amukan Stella.


"Maaf, Pak sepertinya ada kalimat kami yang buat Stella histeris." Bu Wulan mencoba menjelaskan sembari mengambil bantal dan selimut yang berjatuhan di lantai. Sedangkan rekan kerjanya, masih berusaha menenangkan Stella yang berulang kali menepis tangan psikiater itu.


"Kenapa, Stella?" tanya Raditya lembut.


"HHhhh ... khotooorr! ... hhhhh." Stella mencabik-cabik kemeja di bagian dadanya. Air matanya terus berderai.


"Apa yang kalian katakan?" desak Raditya.


"Ka-kami hanya mengatakan kalau dia wanita yang cantik dan suatu saat akan hidup bersama pria yang ia cintai." Ibu Desy berjalan mundur saat Raditya mengambil alih menenangkan Stella.


"Stella ... Stellaa, lihat saya." Raditya menangkup pipi Stella dan memfokuskan pada kedua mata gadis itu, "Semua baik-baik saja, kamu tetap Stella yang dulu ga ada yang berubah." Raditya mengucapkan dengan sangat pelan tiap katanya.


"Ada apa, Om? kenapa, Stella?" Stella menoleh saat mendengar suara Jonathan ada di dalam ruangan.


"Joo ... Jooo." Tangan Stella menggapai-gapai ke arah Jonathan.


"Kenapa, La?" Raditya mundur dan melepaskan pipi Stella saat Jonathan mendekati gadis itu.


"Jhha ... ngan phergii." Stella menggenggam erat tangan Jonathan.


"Aku di sini, aku ga kemana-mana. Kamu tenang aja."


Raditya menghela nafas lega setelah melihat Stella perlahan semakin tenang. Dengan kode matanya ia meminta dua rekan wanitanya untuk keluar dari ruang rawat. Dipandanginya Jonathan yang begitu telaten membujuk Stella seraya tangannya mengusap-usap rambut gadis itu. Setelah sekian lama sendiri dan berpura-pura menenggelamkan diri di tengah kesibukan pekerjaan, ia sudah lupa entah kapan terakhir ia merasakan kasih sayang yang begitu dalam pada seorang wanita seperti pemandangan yang diberikan Jonathan dan Stella.


"Saya pamit dulu. Maafkan saya kalau kehadiran mereka mengganggu kamu. Saya hanya menjalankan tuntutan pekerjaan." Stella memejamkan matanya rapat tak mau memandang sedikitpun pada Raditya. Jonathan menganggukan kepala cepat saat Raditya menepuk pundaknya.


...❤️...


Tangan Jamilah bergetar saat menerima lembaran uang di tangannya. Hari ini Retno, teman kerjanya mengabarkan bahwa ada orang yang akan menggantikannya menyewa apartement yang ia tempati.

__ADS_1


Awalnya ia hanya iseng bercerita dan menawarkan pada teman-temannya untuk menggantikan dirinya menyewa apartement mewah di daerah pusat kota. Tak disangka penawarannya disambut baik oleh kenalan dari Retno dan langsung diganti secara cash.


"Apa lagi yang kamu pikirkan?" Retno menepuk pundak Jamilah yang termenung dengan sejumlah uang di tangannya.


"Apa keputusanku sudah benar seperti ini?" tanya Jamilah ragu.


"Orang itu membayar lebih dari harga sewa perbulan, jadi temanmu itu untung loh, ga rugi 'kan?" ujar Retno meyakinkan.


"Tapi ...."


"Udah ga ada waktu lagi membatalkan, Milah. Besok orangnya sudah mau tempati apartmentmu itu, untuk orang tuanya yang baru datang dari luar negri."


"Besok?"


"Iyaa, jadi malam ini kamu sudah harus kosongkan apartementmu itu. Barangmu ga banyak 'kan?"


"Gak. Cuman baju satu tas aja."


"Baguslah nanti malam aku temani ambil barang. Aku yakin temanmu itu pasti senang karena harga penggantinya jauh lebih tinggi." Jamilah mencoba tersenyum lalu memasukan kembali lembaran uang berwarna merah yang terikat ke dalam amplop coklat. Diniatkannya besok pagi sebelum berangkat kerja, ia akan memberikan uang sewa apartement kembali ke Jonathan.


"Pak Jonathan sekarang jarang ke kantor, Mba Milah. Dengar-dengar sih beliau menemani calon istrinya di rumah sakit," jelas bagian informasi di kantor Jonathan.


"Ca-calon istri?"


"Iyaa. Ga lama setelah Mba Jamilah keluar dulu, Pak Jo punya pacar tapi ga pernah dibawa kesini sih. Nah, belakangan yang kita dengar sekarang Pak Jo lagi nemanin cewek cantik di rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan pacarnya, mana mau Pak Jo habiskan waktu buat satu cewek apalagi di rumah sakit lagi." Jamilah memaksa menarik sudut bibirnya keatas selama bekas rekan kerjanya itu menyampaikan sebuah berita gosip.


"Mba Milah mau apa ketemu Pak Jonathan? mau minta surat referensi kerja ya? langsung aja ke bagian HRD ga perlu ke Pak Jo," tutur wanita itu lagi.


"Bukan. Mau ... titip pesanannya aja. Bisa pinjam kertas sama bolpointnya Mba?"


Jamilah membawa amplop berisi uang dan selembar kertas putih ke sudut ruangan. Sekali lagi dilihatnya pesan singkat yang ia kirimkan ke ponsel Jonathan dari pagi tadi. Merasa yakin tidak ada balasan, Jamilah menuliskan kata demi kata di atas kertas yang akan dimasukan ke dalam amplop beserta sejumlah uang sewa apartement.

__ADS_1


"Saya titip ini aja ya, Mba. Tolong sampaikan langsung pada beliau." Jamilah menyerahkan amplop coklat yang sudah ia tulis nama Jonathan di bagian depan. Setelah itu ia langsung meluncur ke tempat kerjanya.


Ia yakin jika Jonathan akan menghubunginya begitu menerima suratnya dan di saat itulah, ia akan menjelaskan secara lengkap alasannya pindah dari apartement yang sudah disewakan untuknya.


"Besok kita keliling lagi ya cari kos buat kamu," ujar Retno seraya menjatuhkan tubuhnya yang penat di atas ranjang. Setelah jam kerja selesai, ia menemani Jamilah keliling daerah sekitar tempat kerja mereka, mencari tempat kos yang dapat terjangkau untuk Jamilah, "Kamu cari apa sih?" tanya Retno heran melihat rekan kerjanya itu berulang kali membongkar tas berisi bajunya yang tidak seberapa jumlahnya.


"Cincin," sahut Jamilah masih membuka semua lipatan bajunya. Memastikan tidak ada barang yang ia cari terselip di sana.


"Cincin? emang ga kamu pakai?"


"Sempat kulepas," ucap Jamilah lirih.


Sepulang dari rumah sakit beberapa waktu lalu, komunikasinya dengan Jonathan semakin jarang. Terkadang pesan yang ia kirimkan hari ini baru di baca dan di balas esok harinya. Sejak itu Jamilah merasa hubungannya dengan putra bungsu PT. RPL itu, tidak akan berhasil. Sampai satu malam di puncak rasa rindu dan kecewa yang menjadi satu, ia hanya dapat menangis menantap layar ponselnya hanya untuk menanti balasan pesan dari sang kekasih. Jamilah melepas cincin yang Jonathan sematkan di jarinya dan melemparnya ke sembarang arah.


"Bawah ranjang," gumam Jamilah baru teringat kemana larinya cincin itu.


"Mau kemana kamu?" tanya Retno melihat kawannya itu memakai jacket dan menyambar tas kecilnya.


"Cari cincinku jatuh di bawah ranjang apartement," ucap Jamilah cepat lalu langsung melesat keluar dari kamar kos Retno.


...❤️🤍...


Bawa cerita bagus lagi untukmuuu



Kirana seorang gadis yang tiba - tiba di jodohkan dengan anak dari sahabat orang tuanya yang bernama Ilham setelah lulus SMA.


Disaat yang bersamaan, Kirana juga sedang menjalin hubungan dengan kekasihnya yang bernama Ibrahim.


Bagaimana hubungan Ibrahim dan Kirana?

__ADS_1


Akankah perjodohan Ilham dan Kirana berlanjut?


Keputusan apa yang akan diambil oleh Kirana untuk masa depannya? Bahagia kah? Sedih kah?


__ADS_2