CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Panas


__ADS_3

Sepulang William dan Papi Ray dari kantor Jonathan dan Alexander, keduanya langsung naik ke cafetaria menjemput para wanitanya masing-masing.


Tampak dari kejauhan, Jamilah dan Hanum tampak berbincang akrab dan sesekali tertawa.


"Jo, William sepertinya serius deketin Jamilah sampai bawa Papi Ray kesini. Kamu gimana?" Alex menahan langkah Jonathan sebelum adiknya itu berjalan mendekati dua wanita di pojok cafetaria.


"Gimana, gimana maksudnya gimana??" tanya Jonathan sedikit kesal karena kakaknya menghalangi langkahnya.


"Jadi ga masalah buat kamu kalau tiba-tiba Willi dekatin Jamilah, lalu hubungan mereka jadi lebih dekat terus menikah?"


Jonathan mengalihkan pandangannya ke arah Jamilah. Gadis itu tampak antusias mendengarkan kakak iparnya bercerita. Matanya yang bulat terlihat ekspresif menggambarkan perasaannya.


Ia suka dengan Jamilah ... sangat suka. Berada dekat dengan gadis itu sangat menyenangkan, bahkan Jamilah dapat membawa dampak positif dalam cara berpikir dan kebiasaannya sehari-hari.


Namun untuk cinta dan hubungan yang lebih serius, Jonathan masih bimbang. Seringnya bertemu dan mengenal banyak wanita, membuatnya susah membedakan apa itu cinta, suka, nyaman atau hanya sekedar rasa posesif yang berlebihan.


"Jo." Panggilan Alex menyadarkannya dari keasyikannya menikmati wajah Jamilah.


"Ga lah, Kak. Kalau Jamilah bahagia aku juga senang. Dia punya hak untuk itu," ucap Jonathan, matanya masih lekat pada wajah Jamilah.


"Yakin?" Alex menaikan kedua alisnya.

__ADS_1


"Apaan sih, hehehe ...." Jonathan memaksakan tawanya lalu berjalan terlebih dahulu ke meja Hanum dan Jamilah.


"Lagi bicarakan apa nih, seru banget."


"Sudah selesai, Jo urusannya? emang ada apa sih?" tanya Hanum penasaran.


Alex yang menyusul di belakang Jonathan langsung duduk di samping Hanum dan menyeruput jus sirsak milik istrinya. Jonathan yang melihat kakaknya minum spontan mengambil gelas milik Jamilah dan melakukan hal yang sama seperti Alex.


Suasana hening seketika, tiga pasang mata tertuju padanya. Jonathan yang baru reda dalam ketegangan di ruang kerjanya dan langsung merasa haus, tidak meyadari kesalahannya.


"Hhaaahhh ... apa?" tanyanya bingung. Ia baru saja meletakan gelas jus mangga ke atas meja, keheranan dengan pandangan tiga orang di sekitarnya.


"Pak Jo haus? saya pesankan ya," ucap Jamilah pelan. Ia merasa malu saat Jonathan minum dengan sedotan yang sama.


"Rasanya gimana, Jo?" tanya Alex dengan seringaian di wajahnya.


"Maaf, aku ganti ya," ujar Jonathan tidak menghiraukan ledekan kakaknya.


"Ga usah, Pak."


"Ciieee, kalian berdua pacaran yaaa." Hanum yang tidak tahu apa-apa bersorak dan bertepuk tangan dengan gembira.

__ADS_1


"Bukan, Mba," sahut Jamilah sembari menggeleng dan tertawa kecil.


"Yaa, bukan Num. Jamilah ini sudah ada yang mau," ujar Alex.


"Iih, siapa? Pak Alex ini ada-ada aja." Jamilah semakin terkikik geli.


"Saudara saya yang tadi datang. Kamu mungkin sudah ketemu sama dia, namanya William. Dia tadi nyariin kamu mau dikenalkan sama Papinya," papar Alex.


Alex tahu jika adiknya itu menahan kesal padanya, tapi ia ingin mengulik perasaan Jonathan. Adiknya itu masih minim pengetahuannya soal perasaan, sama seperti dia sebelum bertemu bidadari nyamuknya ini.


"Bercanda aja Pak Alex ini." Jamilah menggeleng sembari tertawa.


"Saya ga bercanda, tanya aja sama atasan kamu." Alex menunjuk Jonathan menggunakan dagunya. Jonathan hanya mengangkat kedua bahunya tak acuh, "Gimana kamu mau ga kenal lebih lanjut sama William?" tanya Alex lebih menekan perasaan adiknya.


Jamilah melongo dengan wajah memerah. Wajah kakak bosnya ini sama sekali tidak menunjukkan raut bercanda.


"Kalau kamu ga keberatan, kasih nomer ponselmu ke istri saya, nanti biar dia yang teruskan ke William." Alex meneruskan serangan tanpa memedulikan sorot mata adiknya yang seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Waah, Willi suka sama Jamilah? Ganteng dan baik banget loh William itu , Milah. Mau yaa." Istri kakaknya yang tidak peka itupun ikut-ikutan memanaskan suasana, "Berapa nomer ponsel kamu? tulis di sini, Milah." Hanum menyodorkan ponselnya.


"Kita banyak kerjaan, waktumu sudah terbuang banyak di sini." Jonathan menarik tangan Jamilah sebelum gadis itu memegang ponsel Hanum.

__ADS_1


...🤍❤...


__ADS_2