CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Astaga ... Hanum


__ADS_3

"Tanggung jawab apa, Bu. Saya salah apa??" Jamilah semakin ketakutan. Buku menu yang ia bawa di dekapnya erat-erat.


"Num ... Num." Bu Devi memanggil Hanum berusaha menyadarkan kesalahan fatal menantunya, tapi Hanum sepertinya tidak menyadari kode yang diberikan mama mertuanya.


"Iya! kamu harus tanggung jawab. Gara-gara kamu, Milah, Jonathan jadi depresi." Hanum menatap lekat langsung ke arah Jamilah.


"Depresi? kenapa gara-gara saya, Bu?" Jamilah semakin bergetar takut.


"Hanuuum ...." Mama masih berusaha memberi kode dengan pandangan mata dan tekanan suara.


"Kasihan betul adik iparku ituuu, Milah. Tiap hari bawaannya sediiihh terus sejak kamu keluar kerja. Ya kan, Ma ... eh, kenapa Ma?" Hanum baru sadar jika Mama mertuanya itu menatapnya dengan mata membesar.


"Apa Pak Jonathan marah ya sama saya?" Jamilah tidak menghiraukan drama antara menantu dan mertua di depannya. Ia lebih khawatir dengan keadaan mantan bosnya itu.


"Kamu sendiri kenapa keluar dari kantor, Milah?" tanya Mama pelan.


Jamilah menggigit bibirnya. Awalnya memang ia merasa sesak dan tidak bebas selama bekerja di bawah pimpinan Jonathan, tapi setelah kerja di tempat lain dan jauh dari pantauan mantan bosnya itu, Jamilah merasa ada yang kurang setiap harinya.


Tidak ada lagi pesan beruntun yang menanyakan apa dia sudah sampai di rumah, tidak ada telepon yang menanyakan mengapa tidak menjawab pesannya. Juga tidak ada lagi yang mengkhawatirkan kesehatannya.


Jujur ia rindu semuanya. Ia rindu akan tatapan tajam dari Jonathan, ia rindu akan gurauan recehnya, ia juga rindu akan perhatian-perhatian kecil yang diberikan Jonathan.


Saat mantan bosnya itu tiba-tiba datang ke restorannya, Jamilah sempat tak percaya jika Jonathan berdiri di hadapannya. Belum lagi hadiah yang diberikan Jonathan kepadanya berupa cincin yang menyimbolkan sebuah keintiman. Senang? tentu, tapi ia tidak mau bermimpi terlalu tinggi karena Jonathan pun tidak mengatakan apa-apa.

__ADS_1


"Milaah?" Bu Devi menggoyangkan lengannya.


"Eh, sebentar Bu." Jamilah berdiri lalu setengah berlari, ia masuk ke ruang karyawan dan mengambil kotak maroon pemberian Jonathan.


"I-ini ... Pak Jonathan kemarin datang dan beliau memberikan ini kepada saya. Maaf, Bu saya tidak pantas menerima barang mahal seperti ini." Jamilah menggeser kotak maroon itu ke arah Bu Devi.


Bu Devi membuka kotak maroon itu, sontak mata Bu Devi dan Hanum membulat. Jamilah pun semakin menunduk, ia takut orang tua Jonathan marah kepadanya seperti yang terjadi di dalam sinetron.


"Ini punyamu, Jamilah." Bu Devi kembali menggeser kotak itu ke depan Jamilah, "Katakan pada saya, Milah dan tolong jujur ... bagaimana perasaanmu pada anak saya?"


Jamilah mengangkat kepalanya lalu dengan cepat menunduk kembali. Ia menggigit bibirnya lebih keras lalu mencoba menjawab, "Biasa aja, Bu. Tidak ada perasaan apa-apa."


"Bohong!" seru Hanum. Jamilah dan Bu Devi serempak menoleh ke arah Hanum.


"Jangan bohong, Milah, dari matamu aku tahu kalau kamu suka sama Jonathan lebih dari sekedar atasan. Ngaku!" Hanum tidak mempedulikan teguran mertuanya. Ia gemas melihat Jamilah yang menutupi perasaannya.


"Kalau suka, bilang suka. Rasa suka itu harus diutarakan dari pada menyesal kalau sudah terlambat. Ya kan, Ma?" ucap Hanum tegas. Bu Devi menyengir lalu mengangguk.


"Aku jauh-jauh dari kampung datang supaya dekat sama Alex. Padahal dulu suamiku itu belum suka sama aku, bahkan benci. Ya kan, Ma?" Hanum berkata dengan semangat. Lagi-lagi Bu Devi menyengir mengingat masa saat menantunya itu datang ke rumah dan langsung menikah dengan putra sulungnya.


"Tapi aku ga peduli, aku tetap tunjukan kalau aku benar cinta sama Alex. Soal dia ga cinta itu dipikir nanti, kalau ga jodoh ya sudah setidaknya tidak akan ada penyesalan."


"Nah, kalau kamu jelas-jelas Jonathan itu suka sama kamu dan kamu suka sama dia, lalu kenapa harus mundur?"

__ADS_1


"Pak Jo suka sama saya?" tanya Jamilah lirih hampir tak percaya.


"Cincin itu buktinya. Anak saya tidak pernah memberikan hadiah begitu spesial untuk seorang wanita," ujar Bu Devi.


Jamilah sempat tersenyum senang, lalu kembali menggeleng dan menunduk.


"Kenapa, Milah?" Bu Devi memegang tangannya.


"Saya ga pantes, Bu. Teman wanita Pak Jo semua cantik dan kaya."


"Hahahaa ... dia belum tahu aku dulu, Ma." Hanum terbahak. Bu Devi melirik sekilas dan menaruh telunjuknya di depan bibir.


"Milah, dengar saya. Keluarga saya tidak pernah memandang orang dari tingkat ekonominya. Kami lebih melihat hati."


"I love you Mom." Spontan Hanum memeluk Bu Devi yang duduk di sampingnya.


"Kamu bisa bicara banyak dengan Hanum soal itu." Bu Devi menepuk-nepuk pundak Hanum yang masih memeluknya, "Yang ingin saya tahu sekarang, apa kamu suka dengan Jonathan terlepas kamu sebagai karyawan dan dia atasan kamu, Milah?" Bu Devi bertanya dengan tegas namun pelan. Jamilah memandang kedua istri bos yang duduk di depannya lalu mengangguk kecil dan tersenyum.


Bu Devi dan Hanum saling berpandangan lalu mengangguk puas.


"Terima kasih kamu sudah mau jujur. Kalau begitu saya minta tolong sama kamu. Sini, kalian berdua lebih mendekat." Ketiganya saling merapat dan berbisik lalu mulai merancang sesuatu.


...❤🤍...

__ADS_1


__ADS_2