CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Penolong saat kepepet


__ADS_3

Jonathan duduk di sofa sembari membaca lagi pesan yang tertulis di ponselnya.


📩 Jonathan, tolong jangan kecewakan Om. Om ga minta banyak, cuman jangan terlalu kasar sama Stella. Jonathan 'kan tahu sendiri Stella gimana anaknya, dia memang manja. Tolong bantu Om ya, temani Stella dia anak tunggal, ga seberuntung Jonathan yang punya saudara banyak. Untuk urusan pembangunan hotel, Jonathan ga perlu khawatir Om akan bantu urus semua sampai beres. Terima kasih ya, Jo. Om mengandalkan kamu.


Jonathan membaca ulang kalimat terakhir yang mengatakan untuk urusan hotel jangan khawatir. Justru karena urusan pembangunan hotel itulah, salah satu kesalahan terbesarnya yang bakalan membuat ia tidak bisa tidur nyenyak.


"Pak ...." Jonathan terkejut saat wajah Jamilah sudah berada tepat di depannya dengan tangan melambai-lambai memecah lamunannya.


"Sori, aku antar kamu pulang sekarang ya. Besok aku bantu kamu pindahan." Jonathan tiba-tiba merasa lelah setelah menerima pesan dari papanya Stella. Menghadapi anak dan ayah dalam waktu yang hampir bersamaan membuat energinya habis terkuras emosi.


"Tapi Pak ...."


"Please, aku ga mau ada penolakan, Milah." Jonathan memutus perkataan Jamilah yang sudah ia ketahui akan kemana arahnya.


Sepanjang perjalanan pulang mengantar Jamilah, Jonathan berpikir keras bagaimana terlepas dari masalah yang sedang membelitnya.


Menghadapi Papa dan Alex tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi pembangunan itu sudah jelas-jelas mereka tolak karena daerah hilir merupakan daerah tidak berkembang.


Jonathan membeli tanah seluas lebih dari 100hektar dengan harga yang sangat murah, tanpa terlebih dulu mengecek lokasinya. Saat ia mengajukan ide nya untuk membangun hotel di tanah yang baru saja ia beli pada Papa dan kakaknya di sebuah rapat, Jonathan baru tahu jika lokasi tanah yang ia beli berada di pinggiran kota yang tidak mempunyai prospek sama sekali.


Namun karena ingin membuktikan kemampuannya, dan juga saat itu ia dalam masa terpuruk karena merasa ditolak oleh Jamilah, Jonathan nekat mengajak Pak Gunawan berinvestasi untuk mewujudkan impiannya.


...❤...


Kebingungan Jonathan membawanya ke gedung perkantoran Ray Manly Cipta Kreatif pagi ini. Ia saat ini membutuhkan teman untuk berbagi.


"Haaiii." Jonathan membuka pintu bertuliskan CEO dan menyembulkan kepala lalu menyapa si pemilik ruangan.


Merasa tidak ada tanggapan, Jonathan berjalan masuk ke dalam dan duduk di depan meja orang kedua di kantor tersebut.


"Sibuk?" tanyanya sembari memberikan senyuman lebar yang terkesan terpaksa. Pria berambut coklat alami itu hanya menatapnya datar tanpa ekspresi.


"Banyak kerjaan ya?" tanyanya lagi Kali ini tangannya ikut bergerak membuka-buka katalog yang ada di atas meja untuk meredakan kegugupannya.


"Sudah sarapan belum?" Jonathan masih melemparkan pertanyaan. Duduknya semakin tidak tenang, kakinya berganti-ganti bertumpu pada kaki sebelahnya.


Pria yang duduk di hadapannya memicingkan mata curiga tanpa mengatakan apapun. Ia masih menunggu apa yang akan disampaikan oleh Jonathan.


"Wil." Suara Jonathan terdengar seperti agak merengek. William semakin memicingkan mata lalu menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya.

__ADS_1


Kawan lamanya itu tidak akan bersusah payah menemuinya di kantor dalam keadaan kacau, jika tidak ada persoalan yang berat.


"Tolong akuuuu ...." Jonathan meletakan kepalanya di atas meja William.


"Cewek?" tebak William.


"Bukan," sahut Jonathan masih dengan kepala tertunduk.


"Apa lagi? persoalanmu paling ga jauh-jauh dari wanita."


"Nyerempet sih," keluh Jonathan. Ia lalu menceritakan dari awal hingga akhir bagaimana ia terjebak dalam situasi dan beban hutang senilai hampir 500M pada papa Stella.


"Murah sekali harga dirimu." William tergelak kencang. Jonathan membiarkan kawannya itu puas tertawa asalkan ia mendapat pencerahan.


"Tapi kalo Stella ga apa-apalah, Jo. Dia dari dulu 'kan sudah ngejar-ngejar kamu, cantik juga. Kurang apa lagi?"


"Kurang cinta! terus cewekku mau ditaruh di mana?"


"Cewek yang mana? nomer urut berapa?" ledek William, karena kadang Jonathan tidak mengingat nama wanita yang diajaknya jalan. Di kontak ponselnya hanya di berikan kode dan nomer urut saja untuk membedakan para gadis yang di kencaninya.


"Beda ini, aku serius sama dia."


"Gak, kamu ga kenal." Jonathan sengaja tidak mau memberitahu perihal Jamilah pada William, karena kawannya itu sempat menjadi saingannya dulu.


"Kenalin dong."


"Nanti aja itu gampang, yang masalahku ini dulu dong Will bantuin aku harus apa." Jonathan mengalihkan pembicaraan yang mengarah ke Jamilah.


"Hhhh, berat Jo. Kamu jujur ke Om Beni sama Kak Alex bagaikan masuk ke mulut buaya, sekali hap langsung telan hilang tanpa bekas. Kalau kamu ikutin maunya Pak Gunawan, bagaikan masuk ke kandang singa. Lari-larian lalu berguling-guling dulu sama si singa, dicabik-cabik mulai lapisan kulit yang paling luar sampai ke tulang-tulangnya." William memaparkan dengan semangat dan penuh gerakan, membuat Jonathan semakin bergidik dan lemas.


"Lalu?" tanyanya pasrah.


"Pilih mana, mati pelan-pelan atau instan." William mengembangkan senyumnya seolah membicarakan suatu lelucon.


"Ga ada solusi gitu dari kamu?"


William tampak berpikir keras sejenak lalu menjawab, "Ga ada."


"Teman ga ada guna!" seru Jonathan kesal lalu hendak berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Tunggu-tunggu, Jo! aku tanya dulu. Yang nyaranin bangun hotel di sana siapa?"


"Aku."


"Kenapa kamu mau bangun hotel di sana?"


"Yaaa ... karena cuman itu pengalamanku," ucap Jonathan polos. William menarik nafas panjang lalu menggelengkan kepala.


"Jo, daerah hilir itu kalau bangun hotel orang mau ngapain nginep di sana? tempat wisata, bukan. Area bisnis juga jauh."


"Lagipula luas lahan yang kamu punya itu besar sekali, kenapa kamu ga buat tempat wisata di sana? karena di sana sepi, pinggiran kota jauh dari mana-mana, tapi udaranya masih segar cocok untuk tempat healing." Jonathan masih menyimak penjelasan William dengan mulut ternganga.


"Sudah bangun pondasi belum?" tanya William. Jonathan hanya menggelengkan kepala.


"Terus ngapain aja?"


"Baru tahap uruk tanah, karena daerah sana dekat danau datarannya rendah."


"Baguslah kalau belum pondasi, jadi masih bisa ganti proyek pembangunan."


"Sudah ada ijin pembangunan belum?" tanya William lagi. Jonathan menggeleng.


"Gila kamu! kalau di demo sama penduduk sekitar gimana?"


"Harus ya?" tanya Jonathan polos.


"Harus beg ok! kamu mau masuk penjara?? kamu anaknya Om Beni ga sih, bo doh betul." William berseru dengan emosi.


"Biasa untuk pembangunan ada team yang urus, Wil, tapi kamu tahu sendiri proyek ini 'kan ga disetujui jadi aku ... jalan sendiri," ujar Jonathan pasrah.


"Aku benar-benar kasihan sama kamu sekarang, Jo. Dah kawinin langsung aja si Stella itu."


"Mending masuk penjara aja kalo gitu, Wil," sahut Jonathan lirih.


"Oke, demi persaudaraan aku mencoba bantu sebisa mungkin."


"Apapun itu aku nurut sama kamu. Tolong aku, Wil." Jonathan menggenggam tangan William erat.


"Kita butuh bantuan," ujar William sembari membuka daftar ponselnya.

__ADS_1


...❤🤍...


__ADS_2