
"GIMANA?!" Papa berseru kencang.
"Baik-baik saja, Pa. Cuman luka gores," ujar Jonathan menenangkan.
"Luka gores gimana, kok masuk IGD jangan ngawur kamu!"
"Bener kok, nanti lihat aja kalo sudah dibawa ke kamar rawat. Sekarang masih belum bisa dilihat katanya," sahut Jonathan keki.
"Kamu sudah kasih kabar Mama sama Hanum?" tanya Papa.
"Belum. Papa aja kalo urusan sama perempuan-perempuan itu."
"Asal aja kamu kalo ngomong. Itu Mamamu sama Kakak Iparmu," ujar Papa kesal lalu menekan layar ponselnya.
Papa membawa ponselnya ke sudut rumah sakit, dari gerakannya terlihat Papa sedang berusaha meyakinkan orang di seberang sana.
"Huh, Mamamu panik. Untung Hanum lagi ga ada di dekatnya, bahaya kalau lagi hamil dapat berita ga bagus seperti ini." Papa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak lama ranjang pasien yang membawa Alex terbaring di atasnya, di dorong keluar dari ruangan IGD. Papa, Jonathan dan William segera berjalan cepat mengikuti Alex yang akan dibawa ke ruang rawat inap.
__ADS_1
Setelah perawat keluar dari kamar, ketiganya berjalan mendekat ingin mengetahui kondisi Alex sebenarnya.
"Ini katamu luka gores?!" Papa menepuk pundak Jonathan sedikit keras.
"Ya bener kan, itu luka gores senjata tajam." Jonathan meringis melihat luka di tubuh kakaknya.
Rupanya Alex menahan sabetan parang dengan tangannya sehingga membuat luka robek yang cukup dalam di pergelangan tangan dan dadanya.
"Wil, sudah ada kabar dari Raditya?" tanya Papa.
"Belum, Om. Coba aku telpon dulu." William beringsut keluar kamar. Selang beberapa saat William kembali masuk dengan wajah lega.
"Semua sudah tertangkap, anak-anak panti dan Ibu Anita masih diamankan di kapolres. Malam ini mereka sedang merencanakan penangkapan Pak Eko besok pagi."
"Loh, Pa!" Jonathan sudah akan melayangkan protes, tapi begitu seorang perawat cantik masuk membawa obat untuk Alex, reaksinya langsung berubah, "Siap, Pa. Jangan khawatir."
"Dasar bocah tengil." Papa menggerundel sambil berjalan keluar kamar rawat.
Sementara itu di kamar, Hanum bergerak gelisah di atas tempat tidurnya. Matanya tak kunjung terpejam menanti kabar dan kedatangan suaminya.
__ADS_1
Entah mengapa hatinya mendadak gelisah, padahal sebelumnya ia tidak peduli bahkan malas saat Alex ada bersamanya di dalam kamar.
Berulangkali Hanum menyalakan layar ponselnya, berharap ada pesan yang masuk mengabarkan situasi penyergapan.
Suara anak-anak kecil yang tidak asing di telinganya, terdengar dari luar kamar membuat Hanum segera berlari ke arah ruang tamu.
"Ibuu??" Mata Hanum membesar saat melihat Ibu Anita duduk di sofa ruang tamu.
"Hanuum??" Ibu Anita tidak kalah terkejutnya melihat anak asuh kesayangannya keluar dari salah satu kamar orang terhormat di kampungnya.
"Hanum minta maaf, Buuu." Hanum langsung menghambur ke pelukan Ibu asuhnya.
"Kamu kok ada di sini?? kenapa minta maaf, emang kamu salah apa to?" Ibu Anita mengusap-usap punggung Hanum.
"Hanum yang buat Ibu sama adik-adik menderita, semua ini gara-gara Hanum, Buu ... Hanum minta maaf." Hanum terus meraung di pelukan Ibu Anita dengan dipandangi oleh Papa dan Mama Alex juga adik-adik pantinya.
"Num, ajak Bu Anita duduk dulu. Kita luruskan semuanya ya," ujar Papa menengahi. "Hanum ini menantu saya sekarang, Bu," ucap Papa setelah semuanya duduk dan siap mendengarkan.
"Kamu sudah nikah, Num?? sama anaknya Pak Beni??" Mata Ibu Anita membelalak.
__ADS_1
"Sudah. Bahkan saya sudah mau punya cucu," sahut Mama Alex tersenyum. Namun begitu teringat putranya yang sedang dirawat di rumah sakit, Mama Alex wajahnya kembali suram.
...❤❤...