CEO Dingin Kau Milik Ku

CEO Dingin Kau Milik Ku
Makan siang


__ADS_3

"Kamu Kenapa??" William terkejut dengan reaksi spontan dari Jonathan.


"Ngapain minta nomer ponsel asistenku?"


"Lah, ga apa-apa kan? kok kamu yang sewot?" William tergelak geli.


"Kamu itu sudah terkenal suka mainin perempuan, dan Jamilah tidak pantas kamu jadikan kandidat selanjutnya."


"Memangnya kamu ga? justru kamu lebih parah, hari ini jalan sama Bella malamnya kirim pesan ngerayu sama Della adiknya, yang gila tuh kamu. Aku meski gonta ganti cewek, tapi serius kupacarin bukan ghosting doang." Jonathan hanya terdiam mendengar ceramah dari kawannya itu, karena memang benar kelakuannya diantara para wanita kenalannya seperti itu.


"Boleh minta ga ini?" William menjawil bahu Jonathan dengan ponselnya. Ia masih menyerap kata-kata William ke dalam otaknya, ternyata kelakuannya selama ini sangat keterlaluan.


"Ga." Jonathan menggeleng tegas.


"Ciiyeee, kayaknya ada yang suka nih."


"Bukan! aku cuman mau lindungin karyawanku aja." Jonathan menyantap sop buntut pesanannya untuk menutupi rasa gugupnya.


"Ya udah kalo ga mau ngasih, aku juga bisa minta sendiri. Aku minta lewat kamu sebenarnya, karena menghargai kamu sebagai pimpinannya." Jonathan semakin tidak tenang dengan perkataan William.


"Aku naik taxi online aja," celetuk Jonathan saat mereka sudah selesai makan.


"Lah, kenapa? aku lagi ga repot kok. Aku anterin lah balik kantor, searah juga."


"Ga, ga, ga! aku balik sendiri dah pesen, tuh." Jonathan menunjuk ojek online yang sedang mengarah ke mereka berdua. Diam-diam saat makan tadi, ia sudah memesan ojek di aplikasi onlinenya.

__ADS_1


"Ojol? tumben. Kenapa ga taxi online??" William melongo saat kawannya itu memakai helm yang diserahkan sopir ojol, "Itu apa?" tanya William lagi, ia menunjuk satu kantong plastik di tangan Jonathan.


"Ga pernah lihat orang bungkus makanan di restoran?" cetus Jonathan kesal.


"Heh?"


"Dah, bye! jalan, Pak." Jonathan menepuk bahu sopir ojol.


Sampai di kantor Jonathan berjalan cepat menuju ruangan Alex. Saat melewati meja Cimoy, wanita itu tersenyum lebar melihat adik bosnya membawa kantong plastik dengan tulisan nama rumah makan mewah.


"Siang Pak Jo, habis makan siang ya," sapanya genit.


"Habis boker!" sahutnya ketus.


"Yang pasti bukan buat kamu," ujar Jonathan sembari membuka pintu ruangannya. Namun saat ia baru selangkah masuk kedalam, langkahnya melambat melihat Papanya sedang duduk di meja rapat berhadapan dengan Jamilah.


"Papa."


"Hmm." Seperti biasa Pak Beni hanya menanggapi dengan gumaman singkat.


"Ada apa, Pa?" tanya Jonathan hati-hati.


"Ga ada apa-apa. Papa tadi nyari kamu mau ajak makan siang, tapi kata asistenmu, kamu pergi makan siang dengan William," ujar Pak Beni dengan penekanan kata asisten yang terdengar seperti sedang mengejeknya.


"Ya udah, Papa keluar dulu." Pak Beni berdiri dari duduknya, "Terima kasih, Jamilah sudah temani saya mengobrol," ucap Pak Beni yang ditanggapi dengan senyuman oleh Jamilah.

__ADS_1


"Papaku lama tadi di sini? tadi ngomong apa aja sama kamu?" Jonathan memberondong Jamilah dengan pertanyaan setelah Pak Beni keluar dari ruangannya.


"Ga lama. Pak Beni tadi cuman tanya nama, pendidikan, di kasih kerjaan apa sama Pak Jonathan terus sudah pernah kenal sebelumnya ga."


"Terus kamu cerita kalo aku pernah nabrak sepedamu?"


"Iya, ga apa-apa 'kan?" Wajah Jamilah mulai terlihat panik.


Jonathan tampak berpikir sebentar lalu tersenyum kecil, "Ga apa-apa sih, ga ada masalah aku rasa, toh aku bertanggung jawab 'kan?"


"Iya saya juga bilang, Pak Jonathan ga sengaja dan langsung ganti kerugian saya."


"Pinterrrr ... nih buat kamu." Jonathan mengangsurkan kantong plastik berisi jus mangga.


"Ini untuk saya?" Mata Jamilah tampak berbinar tak menyangka.


"Iyaa." Senyum Jonathan semakin terkembang melihat sinar mata gadis susunya.


"Pak, maaf saya boleh lanjutin makan siang? tadi baru setengah, Pak Beni masuk."


"Iyaa, silahkan." Senyum Jonathan menghilang saat Jamilah membuka bekal makan siangnya. Di sana hanya ada nasi putih dan telur dadar yang dipotong separuh.


Jonathan langsung memalingkan wajahnya agar Jamilah tidak merasa malu dengan makanannya. Rasanya Jonathan ingin memuntahkan semua menu makan siangnya yang tergolong mewah bersama William tadi.


...❤🤍...

__ADS_1


__ADS_2